July 21, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Menerawang Kekuatan Besar di Balik Bisnis Judi Online

3 min read

JAKARTA – Menurut mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komjen (Purn) Susno Duadji menjelaskan bahwa kekuatan uang jadi alasan mengapa judi online masih terus berkembang.

“Judi online sudah dianggap biasa-biasa saja, tidak diberantas, padahal aturan hukumnya masih jelas sekali itu judi,” ujar Susno dalam sebuah acara diskusi, di Jakarta, kemarin.

Susno menegaskan pemberantasan judi online ini jauh lebih mudah untuk bisa dilakukan dibandingkan dengan judi offline alias judi konvensional yang butuh lokasi. Sebab, banyak jejak elektronik yang tersebar dan ditinggalkan oleh pelaku yang membuat mudah pelacakan aparat penegak hukum.

“Padahal untuk melacaknya tidak sesulit judi offline, karena jejak elektronik itu ada, di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) kan bisa dilacak rekening siapa, transfer kemana, berapa banyak, kalau menuju rekeningnya hanya satu ya berarti di situ pusatnya,” lanjut Susno.

Susno blak-blakan mengungkit soal kemungkinan paparan uang di oknum aparat. “Ya kan kekuatan terbesar itu kan duit, hukum bisa kalah dengan duit, politik bisa kalah dengan duit,” kata dia.

Bahkan, Susno menyebut kasus judi online ini memiliki kesamaan dengan kasus pungutan liar (pungli) yang sudah kronis di Indonesia.

“Sama dengan pungli, apa susah menangkap pungli? Hampir semua sektor ada pungli, khususnya perizinan, kemudian pengeluaran dokumen-dokumen pemerintah, apakah enggak ada pungli? Ya kalau enggak ditangkap jadi tidak ada,” jelas Susno.

“Kalau tidak diungkap, ya seolah-olah negara kita ada tidak ada judi.”

Terpisah, pemerintah di berbagai kementerian dan lembaga saat ini gencar memberantas judi online.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy yang juga berstatus Wakil Ketua Satgas Pemberantasan Judi Online misalnya, pada awal pekan lalu mengumpulkan sejumlah ormas keagamaan untuk membahas pemberantasan judi online.

Muhadjir menegaskan komitmen pemerintah memberantas judi online. Dia menyitir ucapan Presiden Jokowi tentang bahaya judi online.

“Presiden mengajak tokoh agama, masyarakat, untuk saling mengingatkan, menginformasikan, melaporkan kalau ada indikasi judi online,” ujarnya di kantor Kemenko PMK, Selasa (25/6/2024).

Di kesempatan lain, Menko Polhukam Hadi Tjahjanto menyatakan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkantibmas) bakal diminta untuk mengawasi minimarket yang menjual pulsa untuk judi online.

“Pengawasan terhadap minimarket-minimarket yang menjual pulsa isi ulang, top up, untuk bermain judi online. Ini saya minta memang harus ditutup, kecuali pelayanan untuk telpon seperti untuk alat komunikasi, silakan,” kata Hadi di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (21/6/2024).

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akhir pekan lalu juga mengumumkan memutus jalur internet diduga digunakan untuk judi online, terutama dari dan ke Kamboja dan kota Davao di Filipina.

Keputusan ini tertuang dalam surat keputusan nomor B-1678/M.KOMINFO/PI.02.02/06/2024 yang ditujukan untuk penyelenggara jasa telekomunikasi layanan gerbang akses internet (Network Access Point/NAP).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi akan memberikan surat peringatan ketiga kepada aplikasi pesan instan Telegram jika tidak ada respons dan tak kooperatif dalam menangani konten judi online (judol). “Sebentar lagi, minggu ini [peringatan ketiga]. [Enggak ada respons] ditutup,” kata Budi di Jakarta, Rabu (19/6/2024).

Sementara info yang didapat wartawan Law-Justice.co, kekuatan besar dibalik bisnis judi online ini adalah para petinggi yang ada di lembaga eksekutif dan legislatif. Mereka berkolaborasi dengan oknum aparat penegak hukum untuk mengendalikan bisnis judinya yang beroperasi dari Kamboja, Vietnam, dll. Selama ini yang ditangkap hanya kaki tangannya saja, sementara pemilik bisnis dan para mafianya masih bebas bergentayangan. []

Advertisement
Advertisement