August 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mengenal Inner Child yang Bisa Terjadi Pada Setiap Orang

2 min read

JAKARTA – Seorang psikolog klinis Tanya Markul pernah mengungkapkan bahwa tidak ada yang bisa berdamai dengan inner child kecuali dirimu sendiri. Setiap orang memiliki inner child, kepribadian seperti anak kecil yang telah tertanam bertahun-tahun yang tertanam di alam bawah sadar. Situs Forbes menyebutnya sebagai perasaan tertekan dari masa kecil yang muncul kembali dari waktu ke waktu. Catatan pentingnya, menyembuhkan inner child sangat penting untuk kesejahteraan di masa depan.

Menurut American Psychological Association hubungan antara orang tua dan anak yang komunikatif, memberikan batas yang sesuai, serta menjelaskan mengapa sebuah aturan diterapkan akan berdampak pada rasa percaya diri yang tinggi, prestasi lebih baik di sekolah, dan meminimalkan depresi.

Hubungan pengasuh berdampak pada kesehatan sosial, kognitif, emosional dan mental. Apa yang terjadi ketika seorang anak tidak menerima pola yang sehat dalam pengasuhan? Kebutuhan masa kecil yang tidak terpenuhi dengan cinta dan dukungan akan mendorong inner child. Pasalnya, kepribadian seseorang paling dibentuk dari tahun-tahun awal kehidupan. Pemicu trauma di masa kecil akan memberikan pengaruh sangat besar terhadap inner child.

Inner child juga bisa terjadi dalam hubungan suami istri. Jika salah satu pasangan tidak pernah mendapatkan pujian ketika kecil, dia akan lebih banyak memulai pertengkaran dengan pasangan. Inner child memang sangat gampang memicu kemarahan emosional.

Tak sedikit yang mengalami inner child sebagai trauma. Hal ini bisa terjadi karena menganggap inner child sebagai bagian yang normal dari dalam diri meskipun dia merasakan tekanan batin. Trauma bisa terjadi karena tidak meminta bantuan profesional atas masalah batinmu, menganggap diri baik-baik saja padahal tidak, serta merasa seperti menanggung beban yang sangat berat.

Sebelum menyadari kita memiliki inner child, barangkali kita juga bersikap terlalu perfeksionis. Kamu berusaha untuk menutup-nutupi kesedihan sebagai seorang anak dengan bertindak terlalu sempurna dan terkesan mengejar ambisi. Kamu bahkan merasa tidak pernah puas terhadap dirimu sendiri. Padahal sikap ini sama sekali tidak memperbaiki situasi. Sebaliknya, malah menenggelamkanmu di dalam inner child.

Sebaliknya, jika inner child tidak segera diatasi kamu akan mengalami kecemasan berlebihan, depresi, emosional, dan menarik diri dari orang lain. Jika hal ini mulai terjadi, mulailah dengan mendatangi tenaga kesehatan mental profesional. []

 

Advertisement
Advertisement