January 28, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mengenal Kehidupan Pawang Ular di Hong Kong

2 min read
Ken Lee salah seorang pawang ular muda di Hong Kong (Foto AP)

Ken Lee salah seorang pawang ular muda di Hong Kong (Foto AP)

Prime Banner

HONG KONG –  Hong Kong adalah rumah bagi pelbagai jenis ular. Dari king cobra yang berbisa hingga spesies yang lebih besar seperti piton Burma. Setiap kali salah satu reptil ini terlihat merayap ke dalam rumah atau mendekati daerah pemukiman, Ken Lee adalah salah satu penangkap ular yang dipanggil untuk menangkap makhluk itu.

Namun tidak seperti penangkap ular komersial di masa lalu yang hasil tangkapannya sering disajikan sebagai sup di warung makan.

Ken Lee tidak menjual ular yang ditangkapnya. Dia adalah bagian dari generasi baru penangkap ular yang berusaha melepaskan reptil kembali ke alam.

“Ada saat-saat di mana orang telah menangkap ular sebelum saya tiba di tempat kejadian, tetapi sayangnya beberapa dari mereka terbunuh atau terluka parah,” kata Ken Lee, 31 tahun.

Dia merupakan salah satu penangkap ular termuda yang terdaftar di Hong Kong.

“Beberapa orang menangkap ular dengan berani, tapi sebenarnya hal itu membahayakan satwa liar.”

Seperti banyak penangkap ular lainnya di kota, Ken Lee belajar secara otodidak. Dia pertama kali menangani ular pada usia 17 tahun, ketika dia magang di toko ular Hong Kong.

Pengalamannya memacu dia untuk belajar lebih banyak tentang keanekaragaman hayati dan biologi. Akhirnya dia melanjutkan untuk mempelajarinya di sebuah universitas di Taiwan.

Dilansir dari laporan Associated Press pada Sabtu, 2 Januari 2021, ketika Ken Lee menangkap ular, dia menggunakan pelbagai peralatan. Seperti sarung tangan anti tusukan, tongkat, kait, obor, dan tas. Terkadang, dia bahkan menggunakan tangan kosongnya.

Pada awal Desember, dia menjadi berita utama ketika berhasil menangkap ular piton Burma sepanjang 3 meter di sebuah desa yang terletak di bagian pedesaan Hong Kong.

Pada bulan yang sama, Ken Lee dipanggil ke sebuah bangunan tempat tinggal bertingkat tinggi di daerah pedesaan untuk menangkap ular hijau. Umumnya gigitan ular itu dapat menyebabkan pembengkakan yang parah.

Ular yang dia tangkap dikirim ke sebuah organisasi nirlaba lokal yang menaungi hewan liar yang diselamatkan. Setelah pemeriksaan kesehatan, sebagian besar makhluk tersebut kemudian dilepaskan kembali ke taman setempat.

“Saya berharap semua hewan liar ini bisa dikembalikan ke alam,” kata Ken Lee.

Saat ini dia bekerja sebagai asisten peneliti di empat universitas di kota itu dan menjadi relawan di Yayasan Herpetologi Masyarakat Hong Kong, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk studi reptil dan amfibi.

Meskipun Hong Kong memiliki area hijau luas yang berfungsi sebagai habitat ular yang berbeda tetapi petugas konservasi Kebun Kadoorie Liz Rose-Jeffreys berpendapat bahwa perkembangan perkotaan dapat mengancam kelangsungan hidup spesies ular.

“Saya pikir ini adalah salah satu bentuk saling menghormati, sungguh. Mereka adalah satwa tetangga kita, mereka sudah berada di sini lebih lama daripada kita, dan menurut saya kita memiliki kewajiban untuk menghormati alam,” katanya.

“Mereka merupakan bagian penting dari ekosistem kita, jadi jika kita harus menghilangkan ular, maka hal itu akan mengganggu keseimbangan yang telah ditetapkan selama bertahun-tahun.” []

Advertisement
Advertisement