Menikah Itu Mudah, Namun Menjadi Suami Tanggung Jawabnya Paling Berat Dibanding Istri
4 min read
JAKARTA – Ada kalimat yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan, tetapi konsekuensinya bisa berlangsung sepanjang hayat.
“Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Setelah kalimat itu terucap, seorang laki-laki tidak sekadar mendapatkan seorang istri. Ia menerima sebuah amanah.
Seorang perempuan yang selama bertahun-tahun berada dalam perlindungan ayah dan keluarganya kini mempercayakan sebagian perjalanan hidupnya kepada seorang laki-laki. Ia meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan, meninggalkan kenyamanan masa gadisnya, lalu memasuki rumah baru dengan satu harapan sederhana: semoga laki-laki yang dipilihnya benar-benar menjadi tempat aman untuk pulang.
Di sinilah persoalan pernikahan sering keliru dipahami. Banyak laki-laki sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, tetapi lupa mempersiapkan dirinya menjadi suami. Sibuk menghitung biaya gedung, katering, dokumentasi, dan bulan madu, tetapi tidak cukup serius menghitung apakah dirinya sudah siap memikul tanggung jawab setelah pesta selesai.
Padahal, pernikahan sesungguhnya baru dimulai ketika para tamu pulang. Foto pernikahan akan tersimpan. Dekorasi akan dibongkar. Baju pengantin akan dimasukkan ke lemari. Namun, setelah itu, ada tagihan yang harus dibayar, kebutuhan rumah yang harus dipenuhi, pasangan yang membutuhkan perhatian, dan kelak anak-anak yang membutuhkan kehadiran seorang ayah.
Akad adalah momen ketika romantisme mulai diuji oleh tanggung jawab. Al-Qur’an menyebut: “Laki-laki adalah pelindung bagi perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.” (An-Nisa’: 34).
Ayat ini menarik untuk direnungkan oleh para laki-laki yang hendak menikah. Qawwām bukan gelar kehormatan. Ia adalah tanggung jawab. Ia bukan lisensi untuk berkuasa atas perempuan, melainkan kewajiban untuk melindungi, mengayomi, dan menanggung.
Karena itu, ukuran kedewasaan seorang laki-laki bukan hanya usianya.
Laki-laki dewasa adalah laki-laki yang mulai mampu mengatakan, “Kebutuhanku tidak selalu harus didahulukan.”
Ia tahu bahwa setelah menikah, uang yang dahulu habis untuk kesenangan pribadi harus mulai memiliki prioritas. Nongkrong bersama teman boleh. Hobi boleh. Jalan-jalan boleh. Namun, ketika kebutuhan rumah belum terpenuhi, seorang laki-laki harus tahu mana yang wajib dan mana yang sekadar keinginan.
Rasulullah saw. bahkan memberikan perspektif yang sangat indah tentang nafkah. “Apabila seorang laki-laki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah itu menjadi sedekah.” (Muttafakalaih).
Betapa indah agama ini mengubah sesuatu yang tampak biasa menjadi ibadah.
Membelikan beras menjadi ibadah. Membayar listrik menjadi ibadah. Membelikan obat ketika istri sakit menjadi ibadah. Membiayai pendidikan anak menjadi ibadah. Bahkan, sesuap makanan yang diberikan kepada istri pun dapat bernilai pahala apabila diniatkan karena Allah.
Maka, seorang suami tidak perlu mencari amal yang jauh sementara kewajiban yang dekat diabaikan. Sayangnya, kita masih menemukan ironi.
Ada laki-laki yang sangat royal kepada teman-temannya, tetapi pelit kepada keluarganya. Mudah mentraktir ketika nongkrong, tetapi berat memenuhi kebutuhan rumah. Mampu mengganti gawai demi gengsi, tetapi menunda kebutuhan istri. Memiliki banyak waktu untuk teman, tetapi selalu mengatakan lelah ketika keluarga membutuhkan kehadiran.
Padahal, keluarga bukan sisa waktu setelah semua kesenangan selesai. Keluarga adalah amanah yang pertama kali akan ditanyakan.
Rasulullah Saw. bersabda bahwa meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi kekurangan sehingga meminta-minta kepada manusia. Bahkan, nafkah yang diberikan demi mencari rida Allah mendapatkan pahala, termasuk makanan yang diberikan kepada istri.
Pesannya jelas: seorang laki-laki tidak hanya dituntut untuk mencari uang. Ia dituntut memiliki rasa tanggung jawab. Sebab, menjadi “tulang punggung” bukan berarti harus selalu kaya. Tidak semua suami memiliki penghasilan besar. Tidak semua rumah tangga dimulai dengan kemapanan.
Yang dituntut adalah kesungguhan. Laki-laki yang penghasilannya sederhana, tetapi bertanggung jawab, jauh lebih mulia daripada laki-laki berpenghasilan besar, tetapi membiarkan keluarganya terlantar.
Jangan pula memahami nafkah hanya sebagai uang. Istri membutuhkan nafkah lahir, tetapi juga membutuhkan nafkah batin. Ia membutuhkan rumah, tetapi juga rasa aman. Ia membutuhkan belanja, tetapi juga perhatian. Anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, tetapi mereka juga membutuhkan seorang ayah yang hadir ketika mereka bercerita.
Jangan sampai seorang laki-laki berhasil menafkahi keluarganya secara finansial, tetapi gagal hadir sebagai manusia di dalam keluarganya.
Karena itu, menjadi suami sesungguhnya adalah belajar menjadi nakhoda. Nakhoda tidak selalu membawa kapal melewati laut yang tenang. Ia justru diuji ketika badai datang. Ia membaca arah angin, mengenali gelombang, memperhitungkan risiko, dan mencari perairan yang lebih aman.
Begitu pula suami. Ketika ekonomi sulit, ia tidak menghilang. Ketika istrinya emosional, ia tidak langsung meninggalkan. Ketika anak bermasalah, ia tidak menyerahkan semuanya kepada ibunya. Ketika rumah tangga diuji, ia tidak sibuk mencari tempat pelarian.
Ia berdiri.
Bukan karena dirinya paling kuat, tetapi karena ia sadar: ada orang-orang yang mempercayakan keselamatan hidupnya kepadanya.
Maka, kepada para pemuda yang merasa sudah waktunya menikah, mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Sudah punya calon?”
Bukan pula, “Sudah punya biaya pesta?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Sudahkah engkau siap bertanggung jawab?
Siapkah mengurangi ego?
Siapkah mengubah “aku” menjadi “kami”?
Siapkah mendahulukan kebutuhan keluarga daripada gengsi pribadi?
Siapkah bekerja ketika lelah, bertahan ketika sulit, dan tetap lembut ketika kecewa?
Sebab, menikah bukan sekadar menemukan perempuan yang baik.
Menikah juga berarti bersedia menjadi laki-laki yang layak bagi perempuan yang baik itu.
Akad nikah bukanlah akhir masa lajang. Ia adalah awal dari ujian tentang seberapa jauh cinta mampu berubah menjadi tanggung jawab.
Sebab, pada akhirnya, laki-laki yang baik bukanlah yang paling pandai mengucapkan “aku mencintaimu”.
Ia adalah laki-laki yang membuat istrinya mampu berkata dalam hati:
“Aku tenang menjalani hidup bersamanya. Sebab, ketika badai datang, ia tidak meninggalkanku sendirian.”
Dan mungkin, itulah salah satu makna terdalam dari kalimat:
“Saya terima nikahnya….”
Bukan hanya menerima seorang perempuan sebagai istri, tetapi menerima amanah Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban. []
Penulis : Yoshi Putra Pratama, S.H., Lc.; Pengasuh MBS Pogalan Trenggalek
