November 26, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Mie Sagu, Produk Dalam Negeri yang Diharapkan Kian Digemari

2 min read

JAKARTA – Mie sagu, yang merupakan makanan khas Kabupaten Meranti sekaligus menjadi oleh-oleh setempat, memiliki potensi dan peluang usaha yang besar pada saat ini. Apalagi, bahan bakunya mudah diperoleh.

Peluang ini pun dimanfaatkan pengusaha mie sagu KUBE Rumbia Lestari, Henny, untuk mengembangkan bisnisnya. Sayangnya, masih butuh dukungan pemerintah untuk menggalakkan produk olahan sagu sebagai alternatif tepung terigu agar optimal sebagai sumber pangan nasional.

Henny bercerita, usaha KUBE Rumbia Lestari miliknya telah berdiri sejak 2018 dengan beranggotakan 5 orang. Bisnis tersebut pun menuai respons positif dari masyarakat.

“Yang kami lakukan untuk mengembangkan usaha mie sagu ini [adalah] promosi melalui media sosial dan mengikuti berbagai event atau pameran yang diadakan pemerintah ataupun swasta,” ujarnya, Jumat (28/10/2022).

Sementara itu, mie sagu produksi KUBE Rumbia Lestari masih dijual di daerah sekitar dengan harga Rp3.500 per bungkus, yang beratnya 350 gr.

Henny menambahkan, ide awal membuat mie sagu berangkat dari meningkatnya kesadaran publik atas pentingnya makanan sehat. Dirinya berharap, milenial semakin giat mengampanyekan makanan sehat dan meningkatkan semangat berwirausaha, khsususnya pengembangan dan pemasaran mie sagu karena belum banyak pemainnya.

“Ini peluang besar dan akan sangat menguntungkan,” ucapnya. “Maribersama bersinergi antara petani pengolah sagu, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya agar harga bahan baku bisa stabil dan sesuai serta harga jual sagu mie bisa berkompetisi dengan mie instan lainnya.”

Oleh karena itu, Henny mendorong pemerintah terlibat aktif untuk mempromosikan mie sagu kepada seluruh lapisan masyarakat agar pasarnya makin luas. Kemudian, memberikan dukungan melalui berbagai fasilitas kemudahan, seperti perizinan usaha dari hulu sampai hilir.

Usaha mie sagu juga dikembangkan Kelompok Tani (Poktan) Rimbo Bujang. Sejak 2016 hingga kini, mereka konsisten mengembangkan produk sagu.

Ketua Poktan Rimbo Bujang, Praptini, menerangkan, mie sagu lebih aman dikonsumsi dalam jangka panjang. Pasalnya, produk ini tak menggunakan bahan pengawet dan kandungan glikemiknya rendah.

“Kami gencar mensosialisasikan di media online maupun di toko-toko atau agen penjualan online, melakukan kerja sama dengan Dinas Pangan dan terkait setempat untuk ikut program-program promosi pangan sehat, serta membagikan sampel (tester) maupun leaflet atau brosur pada event-event tersebut,” paparnya.

“Saat ini, pasar terbanyak baru dalam negeri, tapi beberapa waktu lalu juga sempat tembus ke pasar luar negeri, seperti Jepang dan Belanda, meskipun jumlahnya belum banyak karena baru taraf promosi pengenalan,” imbuh Praptini.

Pada kesempatan lain, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah, berjanji, pemerintah akan hadir membantu petani dan pelaku usaha perkebunan dengan melakukan pembinaan. Lalu, terus mendorong peningkatan nilai tambah produk dan inovasi.

Menurutnya, potensi sagu yang besar di Indonesia bisa menjadi solusi dalam menjawab tantangan krisis pangan dunia. Andi pun menyarankan pemberdayaan petani lokal serta memperhatikan positioning dan memperbaiki kemasan agar produk dapat bersaing.

Dia juga mengingatkan perlunya penguatan pasar melalui e-commerce dan pengembangan produk turunannya dengan varian rasa olahannya. Andi berharap, pengembangan sagu ke depannya lebih masif imbas dukungan anggaran yang lebih memadai serta pelibatan stakeholders. []

Advertisement
Advertisement