May 31, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Muncul Menjelang Lebaran, Varian Corona Baru Diikuti Gejala yang Tidak Biasanya

3 min read

JAKARTA – Jelang lebaran, masyarakat harus lebih berhati-hati untuk selalu menjaga kesehatan dan ketahanan tubuh. Pasalnya sub varian baru COVID muncul dan menjadi kekhawatiran bagi masyarakat.

Dilansir dari Cnbcindonesia.com, Subvarian baru COVID-19 bernama Arcturus tengah menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat. Strain baru itu telah terdeteksi di beberapa negara seperti India dan Inggris.

Mengutip The Independent, penelitian telah menunjukkan bahwa Arcturus lebih menular hingga 1,2 kali lipat daripada sub-varian utama terakhir. Subvarian yang dikenal sebagai subvarian Omicron XBB.1.16 ini pertama kali diidentifikasi pada Januari dan telah dipantau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 22 Maret.

Berbicara soal kemunculan Arcturus pada konferensi pers pada 29 Maret, Dr Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk Covid, mengatakan bahwa subvarian itu sudah beredar selama beberapa bulan.

“Subvarian ini memiliki satu mutasi tambahan pada lonjakan protein, yang, menurut penelitian laboratorium, menunjukkan peningkatan infektivitas serta potensi peningkatan patogenisitas,” kata Van Kerkhove.

Arcturus merupakan salah satu dari 600 subvarian yang dihasilkan dari Omicron sejauh ini, meski tampaknya tidak lebih mematikan dari yang lain. Sejauh ini subvarian tersebut telah terdeteksi di 22 negara, termasuk Inggris dan AS.

Di India, kementerian kesehatan negara itu melaporkan 40.215 kasus Covid aktif pada 12 April, naik 3.122 hanya dalam satu hari. Lonjakan kasus ini mendorong masyarakat untuk kembali wajib mengenakan masker di beberapa negara bagian dan meningkatkan produksi vaksin.

Di India, kementerian kesehatan negara itu melaporkan 40.215 kasus Covid aktif pada 12 April, naik 3.122 hanya dalam satu hari. Lonjakan kasus ini mendorong masyarakat untuk kembali wajib mengenakan masker di beberapa negara bagian dan meningkatkan produksi vaksin.

Dr Vipin Vashishtha, seorang dokter anak dan mantan kepala Komite Imunisasi Akademi Pediatri India, mengatakan kepada The Hindustan Times bahwa gejala Arcturus termasuk demam tinggi, batuk dan konjungtivitis atau mata merah yang gatal.

Sekitar 50 kasus telah terdeteksi di Inggris sejauh ini, menurut The Daily Mail, tetapi Profesor Paul Hunter dari University of East Anglia mengatakan kepada bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa Inggris menghadapi lonjakan baru infeksi yang didorong oleh Arcturus.

Sementara itu, para ilmuwan di Universitas Tokyo menyebut bahwa Arcturus menyebar sekitar 1,17 hingga 1,27 kali lebih efisien daripada varian sebelumnya.

Peneliti pun memperingatkan bahwa Arcturus akan menyebar ke seluruh dunia dalam waktu dekat, mengingat bahwa subvarian ini memiliki kekebalan terhadap antibodi yang tertinggal di tubuh dari infeksi COVID sebelumnya.

Dikutip dari Cnnindonesia.com, Anda bisa mewaspadai beberapa gejala Arcturus berikut ini:

 

  1. Konjungtivitas

Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput mata. Kondisi ini menyebabkan mata merah, gatal, dan bahkan lengket.

Gejala COVID-19 pada mata ini cukup umum ditemukan pada pasien anak yang terpapar subvarian Arcturus.

 

  1. Demam

Demam jadi salah satu tanda utama infeksi. Demam menandakan sistem kekebalan tubuh yang tengah bekerja melawan serangan virus atau bakteri.

 

  1. Batuk

Pada kasus COVID-19, batuk umumnya bersifat kering tanpa dahak. Meski demikian, pada sebagian kecil kasus, batuk yang muncul juga bisa disertai sedikit dahak.

 

  1. Pilek

Anda juga perlu waspada jika mulai mengalami gejala pilek seperti hidung tersumbat dan berair. Bisa jadi yang Anda alami adalah tanda COVID-19 subvarian Arcturus.

 

  1. Nyeri sendi

Sama seperti demam, nyeri sendi muncul sebagai respons dari peradangan di dalam tubuh.

 

  1. Sakit kepala

Sakit kepala menandakan tubuh yang sedang tidak baik-baik saja. Pada kasus COVID-19, sakit kepala biasanya muncul dalam bentuk sensasi berdenyut.

Demikian beberapa gejala COVID-19 subvarian Arcturus. Waspada jika Anda mengalami gejala pada mata dan segera lakukan tes SWAB antigen atau PCR. []

Advertisement
Advertisement