May 9, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Nenek yang Mengasuh Angkat Tangan, Proses Belajar Daring Anak PMI Hong Kong ini Terlantar

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

WONOGIRI – “Kulo niku mboten njowo hp larang, Ngertos kulo nggeh namung mijeti angka, terus nelpon. Nek dikengken marahi sekolah ndamel HP, kulo barese mboten njowo babar blas” aku Rotun, ibunda Leni Dwiastuti, warga Wonogiri yang kini tengah aktif bekerja di Hong Kong.

Saat ApakabarOnline bertemu dengan Rotun beberapa waktu yang lalu, perempuan paruh baya ini tinggal di rumahnya yang sederhana bersama seorang cucunya yang berusia 7 tahun. Cucunya yang bernama tersebut sejatinya saat ini tengah duduk di bangku kelas dua sebuah SD. Namun sejak lulus TK dan baru memasuki bangku SD, proses belajar tatap muka terpaksa dihentikan karena dunia tengah dilanda pandemi corona.

Sebagai solusi, proses belajar tetap berlanjut namun dengan menggunakan metode daring alias online menggunakan perangkat teknologi informasi seperti smartphone atau komputer.

Naasnya, Rotun yang mengaku hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SD saja ini mengaku tidak mampu mengoperasikian gawai tersebut. Disamping itu, dirinya juga tidak mampu menggantikan peran guru sekolah untuk menyampaikan materi pelajaran.

“Terpaksa ya tidak belajar, tapi tetap naik kelas. Cucu saya awal masuk SD sebenarnya sudah mulai bisa membaca dan menulis. Tapi sekarang sudah lupa, dan tidak bisa lagi” aku Rotun dengan polosnya.

“Kalau Leni, anak saya yang jadi TKW itu sekolahnya tinggi, dulu lulus SMK. Dia pinter pesbukan. Malah saya sempat ditunjukin tetangga, saya lihat pesbuknya anak saya isinya bagus bagus. Potonya bagus bagus. Setiap hari ada tulisannya terus. Tapi itu kan anak saya, saya tidak bisa. “ imbuh Rotun.

“Hanya saja, nasibnya kurang mujur mas, suaminya tidak bertanggung jawab, dan cerai sejak cucu saya masih bayi merah. Makanya sejak umur setahun setengah ditinggal Leni ke Hong Kong, cucu saya langsung ikut sama saya setiap hari.” lanjutnya.

Rotun mengaku, andai arus nasib tidak membuat Leni harus pergi bekerja ke Hong Kong, mungkin saat pandemi terjadi, cucu semata wayangnya tidak akan mengalami nasib terlantar proses belajar daringnya seperti ini dengan didampingi langsung oleh Leni ibunya sendiri.

Rotun berharap, semoga pandemi segera berlalu, agar kelelahannya menunggu dan kecemasan akan nasib pendidikan cucunya bisa terpecahkan.

Nek kados ngeten terus-terusan, mangke lak dangu-dangu dadhos lare bodho” pungkas Rotun. []

 

Advertisement
Advertisement