Panggung Digital dan Godaan Ujub
4 min read
JAKARTA – Di era digital saat ini, hampir setiap orang memiliki ruang untuk tampil dan mengekspresikan diri. Media sosial telah menjadi panggung terbuka yang memungkinkan siapa saja berbagi aktivitas, pencapaian, bahkan kebaikan yang mereka lakukan.
Di satu sisi, fenomena ini menghadirkan peluang besar untuk menyebarkan inspirasi, memperluas dakwah, dan membangun jejaring sosial yang positif. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga membuka ruang bagi munculnya persoalan klasik dalam kehidupan spiritual manusia, yaitu ujub—perasaan bangga berlebihan terhadap diri sendiri.
Dalam ajaran Islam, ujub termasuk penyakit hati yang berbahaya karena dapat merusak nilai amal. Seseorang yang terjebak dalam ujub cenderung merasa dirinya lebih baik, lebih layak, dan lebih unggul dibanding orang lain.
Jika dahulu ujub lebih bersifat tersembunyi dan personal, kini media sosial menjadikannya lebih terbuka dan bahkan sering kali tidak disadari. Unggahan tentang ibadah, prestasi, atau aktivitas sosial bisa berubah makna ketika motivasinya bergeser dari keikhlasan menuju pencarian pengakuan. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah yang kita bagikan benar-benar untuk memberi manfaat, atau sekadar untuk menampilkan diri?
Fenomena ini memiliki kemiripan dengan konsep dalam psikologi modern yang dikenal sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD), yaitu gangguan kepribadian yang ditandai oleh rasa diri yang berlebihan, kebutuhan kuat akan pujian, dan rendahnya empati terhadap orang lain.
Narsisme Digital dan Dampaknya
Individu dengan kecenderungan ini biasanya merasa dirinya istimewa, haus akan pengakuan, dan sulit menerima kritik. Mereka sering terobsesi dengan citra diri, kesuksesan, atau penampilan, serta memiliki dorongan kuat untuk selalu terlihat unggul di hadapan publik. Dalam konteks media sosial, kondisi ini dapat semakin mendapat penguatan oleh sistem “like”, komentar, dan jumlah pengikut yang menjadi indikator popularitas semu.
Dampak dari ujub dan kecenderungan narsistik tidak hanya secara psikologis mereka rasakan, tetapi juga spiritual dan sosial. Dari sisi spiritual, ujub dapat menghilangkan keikhlasan dan berpotensi membuat amal tidak bernilai di hadapan Allah SWT. Hati menjadi tertutup dari nasihat, karena merasa sudah cukup baik. Hubungan dengan Allah pun melemah, sebab orientasi hidup bergeser dari mencari ridha-Nya menjadi mencari pengakuan manusia.
Dari sisi sosial, sikap ini dapat merusak hubungan interpersonal. Orang yang terlalu fokus pada dirinya sendiri cenderung kurang peka terhadap perasaan orang lain, sehingga berpotensi menimbulkan konflik, bahkan menjauhkan diri dari lingkungan sosial.
Secara psikologis, ketergantungan pada pengakuan eksternal membuat individu menjadi rentan. Ketika pujian tidak datang atau kritik muncul, kondisi emosional dapat terganggu.
Menjaga Keikhlasan di Tengah Validasi
Rasa percaya diri yang tampak kuat sebenarnya rapuh, karena bergantung pada validasi dari luar. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu kecemasan, stres, bahkan depresi. Lebih luas lagi, jika fenomena ini menjadi budaya, masyarakat akan dihadapkan pada kondisi di mana nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan kebersamaan semakin terkikis. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana kebaikan justru dipenuhi oleh konten yang mendorong pamer, perbandingan sosial, dan kompetisi tidak sehat.
Islam menawarkan solusi melalui konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Konsep ini menekankan pentingnya membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin, termasuk ujub, riya, dan takabbur. Salah satu langkah utama dalam proses ini adalah muhasabah, yaitu refleksi diri secara jujur terhadap niat dan tujuan setiap perbuatan.
Dengan muhasabah, seseorang dapat menilai apakah yang dilakukannya benar-benar karena Allah atau karena dorongan ingin dipuji. Kesadaran akan hakikat manusia sebagai makhluk yang penuh keterbatasan juga menjadi kunci untuk menumbuhkan kerendahan hati.
Menata Hati di Tengah Arus Digital
Selain itu, penting untuk melatih empati dan memperkuat kontrol diri. Berinteraksi secara nyata dengan masyarakat, terlibat dalam kegiatan sosial, dan mendengarkan pengalaman orang lain dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk terlalu fokus pada diri sendiri.
Pendidikan literasi digital juga menjadi hal yang tidak kalah penting, agar masyarakat mampu menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab. Dalam hal ini, peran organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan sangat strategis dalam memberikan pemahaman yang seimbang antara nilai spiritual dan perkembangan teknologi.
Media sosial bukanlah sesuatu yang harus kita hindari, melainkan kita kelola dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Menjadi berprestasi, berbagi kebaikan, dan tampil di ruang publik adalah hal yang wajar dan bahkan dianjurkan selama dengan niat yang benar.
Tantangannya, menjaga agar hati tetap bersih dari rasa berlebihan terhadap diri sendiri. Keikhlasan menjadi fondasi utama yang harus terus dirawat, terutama di tengah budaya digital yang cenderung menonjolkan pencitraan.
Di tengah derasnya arus informasi dan sorotan publik yang tanpa batas, manusia modern berhadapan pada ujian yang tidak ringan. Bukan hanya tentang apa yang mereka lakukan, tetapi juga tentang mengapa hal itu mereka lakukan.
Ujub dapat tumbuh secara halus dan tidak disadari, menyusup di balik niat baik yang perlahan berubah arah. Oleh karena itu, menjaga hati agar tetap rendah dan jernih menjadi kebutuhan yang mendesak. Sebab pada akhirnya, nilai sejati dari setiap amal tidak terletak pada seberapa banyak ia dilihat manusia, melainkan pada seberapa tulus ia dipersembahkan kepada Allah SWT. []
Penulis : Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
