December 7, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

PBB Mempercayai Indonesia Menjadi Produsen Vaksin Berbasis mRNA

3 min read

JAKARTA – Setelah satu tahun lebih hanya mengandalkan pasokan vaksin dari negara produsen dalam menghadapi situasi pandemi yang terjadi, saat ini Indonesia akhirnya memulai langkah baru yang akan menuntun kepada kemandirian industri dan ketahanan kesehatan baik secara nasional maupun global.

Pada saat awal kondisi pandemi terjadi, mungkin banyak orang yang mempertanyakan mengapa Indonesia tidak dapat memproduksi vaksin sendiri, padahal di tanah air sudah terdapat sejumlah perusahaan farmasi yang memiliki rekam jejak mumpuni di bidang terkait, salah satunya sebut saja Bio Farma.

Namun seperti yang diketahui, menghadapi virus varian baru seperti Covid-19 tentu membutuhkan teknologi pembuatan vaksin yang baru pula, dan telah disempurnakan sesuai dengan mutasi virus yang ada, teknologi tersebut yang nyatanya belum dimiliki Indonesia setidaknya pada saat itu.

Sekarang, teknologi pembuatan virus yang sejauh ini dinilai memiliki tingkat keefektifan lebih unggul dalam menghadapi situasi yang ada yakni teknologi mRNA. Dan kabar baiknya, Indonesia dipercaya oleh WHO menjadi salah satu negara yang menerima transfer teknologi tersebut, bersamaan peran yang diterima sekaligus sebagai produsen.

 

Detail alih teknologi

Kepastian mengenai penunjukkan ini terkonfirmasi pada hari Kamis (24/02/2022), saat Menlu Retno Marsudi melakukan pertemuan singkat dengan perwakilan dari WHO di Jenewa.

Dalam kesempatan tersebut, Tedros Adhanom Ghebreyesu selaku Direktur Jenderal WHO menyampaikan bahwa pihaknya telah secara resmi menunjuk Indonesia sebagai salah satu penerima alih teknologi sekaligus produsen vaksin messenger RNA (mRNA).

Sedikit kembali mengingatkan, lebih unggul dibanding vaksin sebelumnya yang menggunakan sel virus yang telah terlebih dulu dimatikan atau dinonaktifkan, teknologi mRNA menghadirkan vaksin dengan metode pembuatan materi genetik hasil rekayasa (viral vector), untuk memancing sistem kekebalan tubuh bekerja.

Teknologi satu ini dinilai lebih unggul karena dapat meminimalisir pemicu infeksi akibat tidak adanya virus mati yang digunakan seperti jenis vaksin lain. Teknologi yang pada kenyataannya tidak mudah untuk dikuasai ini disebut sebagai yang paling mutakhir untuk mengembangkan vaksin dalam waktu paling singkat.

Sementara itu menurut penjelasan Menlu Retno, diketahui jika sejatinya ada 25 negara yang mengajukan minat untuk memiliki alih teknologi mRNA ini, namun baru beberapa yang mendapat persetujuan dari WHO.

Untuk kawasan Asia sendiri, Indonesia menjadi satu dari empat negara bersamaan dengan Bangladesh, Pakistan, dan Vietnam yang menerima persetujuan tersebut. Sementara itu Korea Selatan dipercaya berperan sebagai training center.

 

Pengerjaan Oleh Bio Farma

Sementara itu jika bicara mengenai pihak di tanah air yang akan menerima dan mengembangkan teknologi mRNA, hal tersebut dipercayakan kepada Bio Farma.

Dengan rekam jejak Bio Farma yang dikenal sebagai salah satu produsen vaksin terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi lebih dari 3,2 miliar dosis per tahun, perusahaan farmasi ini tercatat telah memproduksi 14 jenis vaksin dan mengekspornya ke 150 negara di seluruh dunia.

Sebagai penerima alih teknologi, Indonesia akan mendapatkan pelatihan teknis pada skala industri, tata cara pengembangan vaksin skala laboratorium dan klinis, serta teknik quality control dari lisensi terkait.

Lebih detail, praktik penggunaan teknologi mRNA dipastikan akan berjalan mulai bulan depan dan tak hanya berfokus memproduksi vaksin untuk penyakit Covid-19 saja, melainkan produk biologi lainnya seperti insulin, antibodi, monoclonal, dan untuk keperluan pengobatan kanker.

Menilik apa yang terjadi, pencapaian satu ini sejatinya menjadi salah satu bukti akan keberhasilan Indonesia mendorong upaya pemerataan, dalam memastikan kesetaraan akses vaksin dan obat-obatan bagi semua negara, terutama negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kondisi ini mengingatkan pada target yang sebelumnya memang sedang diperjuangkan oleh sejumlah pihak, salah satunya Makarim Wibisono, selaku ex-Duta Besar RI untuk PBB sekaligus salah satu praktisi yang kerap memperjuangkan kesetaraan hidup bagi masyarakat di negara-negara berkembang.

Kini target tersebut akhirnya terealisasi, setelah Menlu Retno memastikan apa sebenarnya tujuan utama dari transfer teknologi mRNA yang diterima Indonesia.

“Transfer teknologi ini akan berkontribusi pada akses yang sama ke penanggulangan kesehatan, yang akan membantu kita pulih bersama dan pulih lebih kuat. Solusi seperti inilah yang dibutuhkan negara-negara berkembang. Solusi yang memberdayakan dan memperkuat kemandirian kita, serta solusi yang memungkinkan kita berkontribusi pada ketahanan kesehatan global,” pungkas Retno, mengutip IDX Channel. []

Advertisement
Advertisement