December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Pemilik Toko Di Kawasan Orchad Mengeluhkan Keberadaan Pekerja Migran Saat Liburan

2 min read
-

SINGAPURA – Orchad Road merupakan salah satu kawasan strategis dan menjadi bagian penting bagi domestic helper yang bekerja di Singapura. Pasalnya, dikawasan tersebut selain menjadi sentral mereka mengisi liburan, juga menjadi pusat dari berbagai kepentingan mereka. Mulai dari belanja, berkirim uang, berkirim barang, hingga berkegiatan.

Keberadaan para helper asing dikawasan tersebut, termasuk BMI salah satunya, rupanya menarik perhatian masyarakat Singapura, khususnya mereka yang menjadi pelaku usaha dan yang menggunakan fasilitas umum di kawasan tersebut. Pasalnya, disamping sering dituding dengan bergerombolnya mereka di jalur pedestrian, di lorong dan tangga bangunan hingga mengganggu kenyamanan warga lokal yang sedang berkepentingan, kerumunan PRT asing di temppat tersebut dituding telah melanggar visa kerja dan para pedagang terkena imbasnya.

 

Baca : [Waspada Razia Penyalahgunaan Visa, Tak Sedikit Yang Berakhir Di Penjara ]

 

Dikutip dari harian Shin Min, Chia (50) warga Singapura yang menjadi salah satu pelaku usaha di kawasan Orchad Road mengaku melihat aktifitas paka PRT asing di kawasan tersebut sedang berdagang dan terjadi transaksi diantara sesama PRT. Chia mengaku, melihat mereka ada yang berjualan pakaian, makanan, hingga jasa perawatan kecantikan. Adanya praktek tersebut, membuat Chia dan puluhan pelaku usaha seperti Chia mengaku mengalami penurunan transaksi cukup signifikan disaat para PRT menjalani hari libur.

Chia bersama 10 orang rekan seprofesinya pernah mengadukan hal tersebut ke pengelola kawasan perbelanjaan Orchad Road. Chia menyampaikan bahwa kegiatan usahanya sangat terganggu dengan keberadaan PRT asing di tempat tersebut. Namun pihak pengelola mengaku tidak bisa melarang mereka (PRT asing) lantaran mereka melakukan ditempat umum.

 

Baca : [“Nemenin” Bule Di Bar Wan Chai, BJ Sampai Bisa Miliki Ratusan Ribu Dolar Di Rekeningnya ]

 

Wartawan Harian Shin Min pernah mewawancarai beberapa orang pekerja rumah tangga asing yang biasa menghabiskan waktu liburnya di tempat tersebut. Namun, beberapa yang diwawancara secara terpisah, menyatakan, tidak pernah melakukan aktifitas bisnis. Yang dilakukan di kawasan tersebut tidak lebih dari sekedar menghabiskan waktu libur dengan berbagai kegiatan positif seperti pelatihan, dan bertukar cerita dengan teman.

Temuan harian Shin Min ini berbeda dengan temuan Apakabaronline.com. Triyana, seorang BMI Singapura asal Jawa Timur menuturkan sebenarnya, banyak BMI dan pekerja asal negara lainnya seperti Filipina, Myanmar, Vietnam yang melakukan aktifitas jual beli.

“Mereka banyak kok yang melakukan aktifitas jual beli. Yang dijual ya macam macam. Ada yang jualan makanan seperti sambel pecel kemasan, kue, pakaian, bahkan produk kosmetik” aku Triyana kepada Apakabaronline.com hari ini (19/09) melalui sambungan telpon.

“Mereka melakukan itu kan bagus mas. Memanfaatkan hari libur dengan aktifitas yang menghasilkan. Saya melihat mereka itu sangat salut, dibanding teman-teman yang memanfaatkan liburan untuk kencan dengan Banglades, pakistan, India, Nepal. Apa hasilnya coba ? Dipeloroti iya, diuntungkan, nggak sama sekali” imbuh Triyana.

Terlepas dari kebenaran pihak-pihak pemberi pernyataan, jika kembali ke tata aturan yang berlaku, visa yang dimiliki oleh PRT Asing di Singapura, termasuk BMI adalah sebagai sebagai domestic helper, bukan visa berdagang. [Asa/SM]

Advertisement
Advertisement