PEMILU 2019, APA KATA PMI DI HONG KONG?

Prime Banner

HONG KONG – Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan digelar serentak pada Minggu, 14 April 2019. Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Hong Kong dan Makau pun telah melakukan serangkaian sosialisasi kepada warga negara Indonesia (WNI) di kedua negara.

Namun, kerja keras PPLN dalam memberikan pelayanan dan mempermudah WNI untuk menyalurkan aspirasinya, ternyata tidak serta merta digunakan dengan baik oleh calon pemilih. Seperti yang disampaikan oleh Restu, ia mengaku akan menjadi golputer, tidak menggunakan hak pilih, karena menurutnya pemilu itu tidak penting.

”Mengapa golput? Karena saya tidak peduli dengan siapa pun presidennya. Hidup akan begini-begini saja,” tutur Restu.

Ia menambahkan, opsi untuk tidak memilih juga termasuk pilihan yang merupakan bagian dari ekspresi kedaulatan rakyat.

”Sekarang rakyat dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak ada pimpinan politik yang menjamin prinsip-prinsip demokrasi. Contohnya, menjamin persamaan di muka hukum, yang selama ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” tambah PMI asal Blora – Jawa Tengah ini.

Itu sebabnya, Restu menilai, pemilu tidak penting karena pada prakteknya siapa pun yang digadang-gadang sebagai wakil rakyat atau pemimpin rakyat memiliki fakta hanya wakil dari segelintir orang partai yang punya kepentingan tertentu.

”Tahun 2014 saya cukup antusias untuk menggunakan hak pilih saya. Tidak peduli panas-panasan di Victoria Park demi ikut berpartisipasi memenangkan calon pilihan saya,” kenangnya.

Kebalikan dengan Restu, Nunuk Margiati punya pendapat berbeda. Pada 2014 ia tidak menggunakan hak pilih alias golput, dan baru pada 2019 ini ia hendak ikut berpartisipasi menjadi pemilih. Jelasnya, bagi PMI asal Tuban – Jawa Timur ini, Pemilu 2019 merupakan pemilu pertama di mana ia akan menggunakan hak pilih.

”Dulu saya tidak memilih, karena toh sama saja. Tapi akhir-akhir ini saya sadar bahwa satu suara saya bisa mempertahankan atau mendapatkan sesuatu yang baik,” ungkapnya.

Nunuk juga mengungkapkan, PPLN memberikan pilihan dalam memilih yang sangat bagus. Yakni, datang langsung ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) atau melalui surat (pos). Jadi, bisa disesuaikan dengan kondisi PMI sendiri untuk tetap bisa menyukseskan pemilu.

”Semoga pemilu di Hong Kong berjalan lancar. Dan, stop berdebat perbedaan dalam pemilihan calon presiden, serta masing-masing nantinya bisa legowo,” tutur Nunuk, melalui WhatsApp, Selasa (5/3).

Selain kedua PMI di atas, Linda Kusuma memiliki pemikiran yang sama dengan Nunuk, Ia pun menilai persiapan PPLN di Hong Kong cukup bagus, termasuk kemudahan dalam pendaftaran.

”Pemilu sangat penting. Karena itu, segera cari info dan mendaftar bagi yang belum terdaftar. Sebab, suara kita akan menentukan kemajuan Indonesia. Usahakan jangan sampai golput,” kata Linda, saat berbincang dengan Apakabar Plus. [wijiati]

You may also like...