August 8, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Pikir Dulu Sebelum Berbicara

2 min read

JAKARTA – Omong opo korah-korah menjadi bahasa slengekan arek Surabaya ketika menyindir temannya yang asal bicara. Arti kalimat itu: berbicara atau lagi cuci piring.

Ungkapan itu menggambarkan pembicaraan orang yang ngawur, asal bunyi, seperti suara piring, sendok, panci, wajan yang sedang dicuci. Bersuara tak ada makna.

Di era media sosial ini fenomena asal bicara, asal tulis tanpa berpikir semakin marak. ”Kalau salah tinggal minta maaf,” katanya.

Meminta maaf adalah akhlak yang mulia dan sangat dianjurkan dalam Islam. Namun akan lebih mulia apabila seseorang berpikir matang dulu sebelum berbicara.

Menjaga lisan dan tindakan sebelum berbuat adalah cerminan tertinggi dari kecerdasan dan spiritual. Banyak orang menganggap kata maaf sekadar bentuk formalitas untuk meloloskan diri dari dampak kecerobohan. Padahal kehati-hatian lebih mulia daripada hanya mengobral kata maaf ketika telanjur salah omong.

Pentingnya membiasakan berpikir sebelum berbicara dan bertindak agar terhindar dari penyesalan sejalan dengan prinsip perkembangan berpikir (cognitive development) dan kematangan emosional (emotional maturity).

Seseorang yg matang mengedepankan kontrol diri (self control) dan kesadaran diri (self awareness), sehingga akan mampu memperhitungkan dampak sosialnya.

Prinsip berpikir matang sebelum bertindak ini sudah diingatkan oleh Rasullulah Saw. “Janganlah engkau mengucapkan sesuatu kalimat yang membuatmu harus meminta maaf karenanya (di kemudian hari).” Hadis riwayat Ibnu Majah no. 4171 dan hadis Ahmad.

Hadis ini menegaskan, pribadi yang cerdas adalah mereka yang mengutamakan pencegahan, sehingga seseorang akan berpikir terlebih dahulu agar membawa kebaikan dan tidak menimbulkan penyesalan.

Selain itu Rasullulah Saw bersabda agar kita menjaga lisan. ​”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)

Namun demikian, manusia tidak luput dari kesalahan, jika orang cerdas mengutamakan kehati-hatian agar tidak berbuat salah, maka orang baik memilih kerendahan hati (tawadhu’) untuk mengakui kesalahan dan tidak malu untuk meminta maaf.

Rasulullah Saw bersabda:

​”Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat.” (HR Tirmidzi no. 2499)

Marilah kita membiasakan budaya berpikir sebelum bertindak, menimbang sebelum berbicara, dan mempertimbangkan akibat sebelum mengambil keputusan.

Jadikan kata maaf sebagai jalan terakhir ketika benar-benar terjadi kekeliruan, bukan sebagai alasan untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Orang bijak tidak mengandalkan kata maaf untuk memperbaiki kesalahan, tetapi mengandalkan kebijaksanaan agar kesalahan itu tidak perlu terjadi.  []

Penulis : Sutikno, Wakil Ketua PCM Krembangan Surabaya.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply