September 22, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Nafkah Untuk Istri, Keewajiban Bernilai Sedekah Tinggi

3 min read

JAKARTA – Ada seorang gadis yang selama bertahun-tahun hidup dalam pelukan rumah orang tuanya. Dijaga, dicintai, dicukupi. Lalu suatu hari, datang seorang lelaki yang mungkin sebelumnya asing. Namanya baru terdengar beberapa bulan lalu. Namun, melalui akad, lelaki itu tiba-tiba menjadi nakhoda kehidupan gadis tersebut.

Ia membawa sang istri keluar dari rumah orang tuanya menuju samudra bernama rumah taagngga. Samudra itu tidak selalu tenang. Ada matahari, tetapi ada pula badai. Ada hari-hari penuh tawa, tetapi ada pula malam-malam ketika tagihan datang bersamaan dengan kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Nakhoda yang baik bukan hanya pandai mengemudikan kapal ketika laut tenang. Ia juga tahu kapan harus mengurangi kecepatan, membaca arah angin, dan memastikan penumpangnya tetap selamat. Begitulah seharusnya seorang suami.

Menjadi Suami Berarti Memikul Tanggung Jawab

Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan romantis dua manusia. Ia adalah akad tanggung jawab. Salah satu bentuk tanggung jawab paling nyata seorang suami adalah memberikan nafkah kepada istri dan keluarganya.

Allah berfirman:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ

“Laki-laki adalah pelindung bagi perempuan karena Allah telah memberikan kelebihan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah memberikan nafkah dari hartanya.” (An-Nisa’: 34).

Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang posisi laki-laki sebagai qawwam—pelindung dan penanggung jawab—tetapi langsung mengaitkannya dengan nafkah. Artinya, menjadi suami bukan soal mendapatkan status “kepala keluarga”. Status itu datang bersama tagihan tanggung jawab.

Nafkah yang Berubah Menjadi Sedekah
Lebih menarik lagi, Nabi Muhammad saw. mengubah cara pandang kita tentang nafkah. Sesuatu yang kadang dianggap sebagai pengeluaran rutin ternyata dapat bernilai sedekah.

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Apabila seseorang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah, maka nafkah itu menjadi sedekah baginya.” (Muttafakun alaih).

Perhatikan kata يَحْتَسِبُهَا (yahtasibuhā): ia mengharapkan pahala dari Allah. Di sinilah persoalannya bukan sekadar berapa rupiah yang dikeluarkan, melainkan untuk apa dan dengan niat apa uang itu diberikan.

Membayar listrik rumah, membeli beras, memenuhi kebutuhan istri, membayar biaya pendidikan anak, bahkan makanan yang masuk ke mulut istri—semuanya dapat menjadi ibadah ketika dilakukan karena Allah.

Rasulullah ﷺ bahkan bersabda:

وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا، حَتَّى اللُّقْمَةَ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah karena mengharap wajah Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (Mutafakunalaih).

Bayangkan. Islam bahkan menghadirkan pahala pada sesuatu yang sering dianggap sebagai rutinitas domestik.

Jangan Royal di Luar, Pelit di Rumah
Maka, jangan sampai seorang lelaki begitu mudah mentraktir teman, royal ketika nongkrong, tidak berpikir panjang membeli gawai terbaru, tetapi ketika istrinya meminta kebutuhan rumah tangga justru berkata, “Banyak banget pengeluaran.”

Masalahnya bukan selalu soal miskin atau kaya. Kadang masalahnya adalah skala prioritas. Islam mengajarkan agar seseorang memulai dari tanggung jawab yang wajib sebelum mengejar kebaikan yang bersifat tambahan. Dalam penjelasannya terhadap hadis tersebut, Syekh Ibn Baz menekankan keutamaan nafkah kepada keluarga dan bahwa nafkah wajib didahulukan sebelum sedekah kepada pihak lain.

Ini penting bagi generasi yang hidup di zaman flexing. Kita sering melihat orang berlomba menunjukkan kepada publik apa yang mampu dibelinya, tetapi lupa menunjukkan kepada keluarga apa yang telah ditunaikannya.

Padahal, ukuran kedewasaan seorang lelaki bukan seberapa mahal ia mentraktir teman-temannya, melainkan seberapa serius ia memastikan keluarganya tidak hidup dalam kekurangan karena kelalaiannya.

Rasulullah juga mengingatkan: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka meminta-minta kepada manusia.” (Mutafakunalaih).

Karena itu, menjadi “tulang punggung keluarga” bukan sekadar istilah. Ada tulang yang menopang tubuh agar tetap tegak. Begitu pula seorang suami: ia menjadi salah satu penyangga agar rumah tangga tidak mudah roboh diterjang badai kehidupan.

Nafkah Bukan Tiket untuk Berkuasa
Namun, nafkah juga bukan tiket untuk berlaku sewenang-wenang. Memberi uang tidak otomatis membuat seseorang menjadi suami yang baik. Nafkah harus berjalan bersama kasih sayang, komunikasi, penghormatan, dan tanggung jawab.

Rumah tangga bukan perusahaan yang menjadikan suami sebagai CEO dan istri sebagai karyawan. Ia adalah perjalanan dua manusia yang saling menjaga.

Maka, wahai para suami, jangan merasa sedang “membiayai istri”. Boleh jadi, setiap rupiah yang Anda keluarkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga justru sedang menjadi sedekah yang paling dekat, paling wajib, sekaligus paling sering tidak kita sadari nilainya.

Sebab, kadang-kadang jalan menuju surga tidak selalu berbentuk kotak amal. Kadang ia berbentuk beras yang dibeli untuk dapur, uang belanja yang diberikan kepada istri, atau sesuap makanan yang kita letakkan dengan penuh kasih ke mulut orang yang kita cintai.

Dan semuanya menjadi bernilai di sisi Allah ketika tanggung jawab itu ditunaikan dengan ikhlas. []

Penulis : Yoshi Putra Pratama, S.H., Lc.; Ketua Majelis Tabligh PCM Karanganl Pengasuh MSB Tahfidz Trenggalekl; Pemateri Tetap Masjid Al-Fatah Tulungagung

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply