November 8, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan, Begini Penjelasannya Menurut Alquran

3 min read

JAKARTA – Fitnah adalah kejahatan lisan berbahaya yang melibatkan tuduhan palsu, kebohongan, dan adu domba pemutus silaturahmi.

Dalam Al-Quran, fitnah juga mencakup makna ujian, bencana, dan kekacauan.

Allah SWT secara tegas memperingatkan bahaya serta azab pedih bagi pelakunya agar umat Islam terhindar dari perbuatan tercela ini.

Bahaya Fitnah dalam Al-Quran

1. Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 191, Allah SWT menegaskan bahwa fitnah lebih bahaya dari pembunuhan, dilansir dari Detik, Jumat (6/11/2026).

Sebab, jika pembunuhan merenggut nyawa fisik, fitnah sanggup membunuh karakter, merusak martabat, serta meluluhlantakkan masa depan seseorang dan keluarganya.

Artinya: “Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”

2. Anggapan Remeh yang menjadi Dosa Besar di Sisi Allah
Fitnah sering kali merebak akibat kebiasaan masyarakat yang gemar meneruskan kabar burung tanpa klarifikasi.

Dalam Surat An-Nur ayat 15, Allah SWT mengecam keras perilaku menyebar berita bohong dari mulut ke mulut ini, seraya menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan dosa yang sangat besar di sisi-Nya.

Artinya: “(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar.”

3. Ancaman Laknat dan Azab Pedih bagi Pelaku Fitnah
Allah SWT mengancam para penyebar berita bohong, tuduhan palsu, dan keji di tengah masyarakat dengan balasan yang amat keras.

Peringatan akan azab pedih di dunia maupun akhirat ini tercantum secara jelas dalam Surat An-Nur ayat 19.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Dalam Surat An-Nur ayat 23, Allah SWT secara tegas melaknat orang-orang yang melemparkan tuduhan keji kepada perempuan beriman yang menjaga kehormatan.

Pelaku fitnah semacam ini akan mendapati laknat di dunia dan akhirat, serta menanggung ancaman azab yang sangat besar.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh perempuan baik-baik, polos, dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat dan mereka akan mendapat azab yang besar.”

4. Memikul Kebohongan dan Dosa yang Nyata
Menyakiti sesama Muslim dengan tuduhan palsu adalah bentuk kezaliman nyata. Dalam Surat Al-Ahzab ayat 58, Allah SWT mengingatkan bahwa orang yang menyakiti mukmin laki-laki dan perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Artinya: “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.”

Atiqah Hamid dalam buku Air Mata Kanjeng Nabi menjelaskan bahwa tuduhan tak berdasar semacam ini membangkitkan amarah serta rasa ketidakadilan yang mendalam pada diri korban, sehingga berujung pada rusaknya ikatan persaudaraan dan terputusnya tali silaturahmi.

5. Dampak Bencana Fitnah Menimpa Masyarakat Secara Luas
Dampak buruk fitnah dan pembiaran kemungkaran tidak hanya dirasakan oleh pelakunya saja.

Dalam Surat Al-Anfal ayat 25, Allah SWT memperingatkan agar kita memelihara diri dari siksa atau fitnah yang bisa menimpa orang-orang di luar kelompok yang zalim sekalipun.

Artinya: “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Maha Keras hukuman-Nya.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Abbas RA menyatakan bahwa membiarkan fitnah dan kemungkaran merajalela padahal mampu mencegahnya dapat mendatangkan azab yang menimpa masyarakat secara menyeluruh.

Hal ini diperkuat oleh hadis riwayat Imam Bukhari tentang perumpamaan penumpang kapal: jika perusak dibiarkan melubangi kapal, maka seluruh penumpang akan ikut tenggelam dan binasa. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply