February 23, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Puasa, Kebutuhan Universal Manusia

2 min read

JAKARTA – Al-Qur’an justru mengajak kita menengok jauh ke belakang—ke sejarah panjang umat manusia. Di sanalah kita menemukan satu pesan penting: puasa bukanlah ritual yang lahir tiba-tiba dalam Islam, melainkan latihan universal yang sejak lama menjadi bagian dari proses pendewasaan manusia.

Dari titik inilah firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 183 menemukan kedalaman maknanya.

Allah melanjutkan firman-Nya:

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ

“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (Al-Baqarah: 183)

Kalimat ini sangat penting.

Puasa bukan eksperimen baru.

Bukan ritual eksklusif umat Muhammad Saw.

Ia adalah praktik lintas zaman.

Mengapa Allah menyebut umat terdahulu?

Universalitas Puasa

Dengan menyebut umat sebelumnya, Allah menunjukkan bahwa puasa adalah kebutuhan dasar manusia.

Menurut penjelasan Ibnu Katsir, umat-umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa, meskipun bentuk dan waktunya berbeda.

Maknanya: puasa bukan budaya. Ia adalah sunnatullah dalam pembentukan manusia.

Mengapa Semua Umat Butuh Puasa?

Karena struktur manusia sama: memiliki hawa nafsu, memiliki dorongan konsumsi, dan memiliki kecenderungan melampaui batas.

Tanpa mekanisme pengendalian, manusia mudah rusak. Puasa adalah sistem kontrol diri.

Itu sebabnya, hampir semua tradisi keagamaan mengenal bentuk puasa. Ini bukan kebetulan. Ini menunjukkan kebutuhan antropologis.

Puasa sebagai Rem Eksistensial

Bayangkan kendaraan tanpa rem. Semakin cepat, semakin berbahaya.

Puasa adalah rem.

Ia berkata kepada diri kita, “Tidak semua yang bisa kamu lakukan harus kamu lakukan.”

Itulah peradaban. Peradaban lahir dari kemampuan menahan diri.

Perspektif Hadis

Rasulullah Saw. bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa yang mampu hendaklah menikah. Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi pengekang baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa disebut sebagai wijā’—pengekang. Artinya, sejak awal Islam, puasa dipahami sebagai alat kontrol syahwat. Ini bukan hanya ritual, tetapi terapi.

Hikmah Penyebutan Umat Sebelumnya

Ada juga sisi psikologisnya.

Dengan mengatakan “sebagaimana umat sebelum kalian”, Allah seakan berkata:

Kalian tidak sendirian.

Ini bukan beban khusus untuk kalian.

Generasi sebelum kalian juga melewati latihan ini.

Ada semangat solidaritas sejarah di dalamnya.

Momentum hari ini biasanya tubuh mulai beradaptasi.

Di sinilah kita perlu memperluas perspektif: puasa bukan hanya milik kita. Ia milik sejarah manusia.

Kita sedang masuk dalam tradisi panjang pengendalian diri para nabi dan umat terdahulu.

Penutup

Jika puasa diwajibkan pada semua umat,

maka ia bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi kebutuhan esensial manusia.

Ia melatih yang paling sulit: menguasai diri sendiri.

Dan mungkin inilah pesan hari ini:

Peradaban yang kuat bukan dibangun oleh orang yang bebas melakukan apa saja,

tetapi oleh orang yang mampu menahan diri. []

Penulis  Mohammad Nurfatoni

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply