Ramadan dan Revolusi Kesalehan: Saat Saraf, Jiwa, dan Roh Berpadu dalam Satu Tubuh
4 min read
SURABAYA – Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa setelah sebulan penuh berpuasa seseorang bisa berubah menjadi pribadi yang jauh lebih tenang, lebih dermawan, dan lebih peduli pada tetangganya?
Ataukah sebaliknya, mengapa ada yang rajin beribadah, tetapi lisannya masih tajam menyakiti sesama?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena pahala”. Di balik ritual menahan lapar dan haus, terjadi sebuah simfoni rumit yang melibatkan struktur otak, gejolak jiwa, hingga kedalaman roh manusia.
Ramadan, dalam kacamata sains dan spiritualitas, merupakan sebuah “laboratorium” canggih untuk memproduksi apa yang kita sebut sebagai kesalehan sosial.
Otak Kita: Si Mesin Eksekutif yang Sedang “Reset”
Mari kita mulai dari ruang kendali utama: otak. Bayangkan otak kita adalah sebuah kantor besar. Di bagian paling depan, tepat di balik dahi, terdapat manajer utama yang disebut prefrontal cortex (PFC). Tugasnya berat: mengambil keputusan bijak, mengatur emosi, dan mengerem keinginan-keinginan liar.
Di sisi lain, ada bagian bernama amigdala, si “alarm” emosional yang sering kali reaktif. Saat kita lapar atau marah, amigdala berteriak kencang. Dalam kehidupan sehari-hari yang serba cepat, amigdala kita kerap hiperaktif sehingga membuat kita mudah tersinggung, egois, dan reaktif di media sosial.
Di sinilah keajaiban puasa bekerja secara biologis. Saat berpuasa, tubuh menghasilkan protein bernama brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Sains menyebutnya sebagai “pupuk otak”. BDNF membantu memperbaiki sel saraf yang rusak dan memperkuat koneksi di PFC.
Artinya, secara medis, puasa adalah latihan beban bagi “otot kesabaran” di otak kita. Agama menyebutnya sebagai aql atau akal. Sebagaimana pesan dalam hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi, “Agama adalah akal. Tidak ada agama bagi yang tidak berakal.” Kesalehan sosial dimulai ketika manajer di otak kita (PFC) sudah cukup kuat untuk berkata “tidak” pada amarah dan ego yang dipicu oleh amigdala.
Jiwa: Menjinakkan Si Kuda Liar
Jika otak adalah mesinnya, maka jiwa (nafs) adalah pengemudinya. Dalam diskusi psikologi dan spiritual, jiwa manusia sering digambarkan seperti kuda liar. Ia bisa menjadi nafsu amarah—jiwa yang selalu menyuruh pada keburukan, egoisme, dan keserakahan.
Ramadan memaksa jiwa ini untuk tunduk. Saat kita menahan diri dari hal yang halal (makan dan minum) pada siang hari, kita sebenarnya sedang menjalani proses “detoksifikasi” psikologis. Kita belajar bahwa kita tidak harus menuruti setiap keinginan yang muncul.
Ketika jiwa mulai tenang, ia naik kelas menjadi nafsu mutmainnah. Dalam kondisi ini, tingkat hormon stres (kortisol) dalam tubuh menurun, berganti dengan rasa damai yang mendalam. Al-Qur’an mengingatkan, “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati (jiwa) menjadi tenteram” (Ar-Ra’d: 28). Jiwa yang tenteram inilah yang menjadi fondasi kesalehan sosial. Sebab, mustahil seseorang bisa mencintai orang lain jika jiwanya sendiri masih penuh konflik dan kebencian.
Roh: Percikan Ilahi yang Memberi Niat
Namun, manusia bukan sekadar daging dan emosi. Ada dimensi ketiga yang paling misterius: roh. Jika otak adalah lampu dan jiwa adalah pengolah warnanya, maka roh adalah arus listriknya. Roh merupakan dimensi murni yang ditiupkan langsung oleh Sang Pencipta (Al-Hijr: 29).
Roh memiliki sifat dasar yang selalu condong pada kebenaran dan kasih sayang. Namun, dalam hiruk-pikuk dunia, suara roh sering kali tertimbun oleh bisingnya nafsu dan kebutuhan biologis. Puasa berfungsi sebagai “peredam kebisingan”. Dengan melemahkan sisi fisik, suara roh yang lembut menjadi lebih terdengar.
Panggilan roh inilah yang melahirkan kesalehan sosial yang tulus, bukan sekadar pencitraan. Roh-lah yang membisikkan niat, “Saya membantu orang ini bukan agar dipuji, tetapi karena ia adalah saudaraku dalam kemanusiaan.” Inilah sinergi tertinggi: ketika niat suci dari roh diolah oleh jiwa yang tenang dan dilaksanakan melalui strategi otak yang cerdas.
Kesalehan Sosial: Saat Iman Menjadi Aksi
Seluruh proses internal tadi—perbaikan saraf otak, penjinakan jiwa, dan penguatan roh—harus bermuara pada satu titik: tindakan nyata. Inilah yang kita sebut kesalehan sosial.
Islam memberikan perumpamaan yang sangat indah melalui sabda Rasulullah Saw.: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai … bagaikan satu tubuh.” Secara sains, ini merupakan gambaran yang sejalan dengan kerja mirror neurons (saraf cermin) di otak kita. Saat melihat orang lain lapar, saraf kita ikut merasakan perihnya, dan roh kita mendorong tangan kita untuk memberi.
Inilah sebabnya Ramadan identik dengan zakat, sedekah, dan memberi makan orang berbuka. Itu bukan sekadar ritual transfer uang atau makanan, melainkan perayaan kemanusiaan. Itu adalah bukti bahwa sistem internal manusia—otak, jiwa, dan roh—sedang berfungsi dengan sangat sehat.
Tantangan di Era Digital
Di zaman sekarang, tantangan kesalehan sosial berpindah ke ujung jari kita. Otak kita kerap “dibajak” oleh algoritma media sosial yang memicu amigdala untuk terus merasa marah, iri, dan benci.
Sintesis antara sains dan agama ini mengajarkan satu hal penting: kesalehan sosial adalah keterampilan yang harus dilatih. Kita perlu melatih PFC otak agar tidak langsung berkomentar jahat (tabayun), menenangkan jiwa agar tidak gila validasi (ikhlas), dan mendengarkan roh agar tetap melihat manusia lain sebagai saudara.
Menjadi Manusia yang Utuh
Saya sering melihat konflik bermula dari “matinya” salah satu sirkuit ini. Ada yang cerdas otaknya tetapi kering rohnya—lahirlah korupsi. Ada yang semangat ruhani tetapi jiwanya meledak-ledak—lahirlah radikalisme yang menyakiti.
Manusia yang utuh adalah mereka yang mampu menyinkronkan ketiganya. Ramadan merupakan momentum tahunan untuk memastikan “kabel-kabel” saraf kita tersambung dengan benar, jiwa kembali tenang, dan roh kembali bercahaya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ibadah seseorang bukanlah seberapa lama ia bersujud di dalam masjid, melainkan seberapa besar manfaat yang ia tebar di pasar, di kantor, di jalan raya, dan di tengah masyarakat. Sebab, kesalehan sejati tidak berhenti di langit; ia harus membumi dan menyentuh luka-luka kemanusiaan.
Selamat berevolusi di laboratorium Ramadan. Selamat menjadi manusia yang saleh secara ritual dan hebat secara sosial. []
Penulis : Dr. dr. Muhammad Anas, Sp.OG, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya
