May 20, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Realita Kehidupan Anak-Anak Pekerja Migran : “Nenekku, Orang Tuaku”

5 min read

MATARAM – Jam baru menunjukkan pukul 12.00 Wita, Rabu (3/3/2021), ketika Nadira Putri (8) yang baru pulang bermain tiba di rumahnya di Dusun Mungkik, Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jero Waru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Di siang yang mendung itu, Nadira pulang bersandal jepit dengan mengenakan celana kain panjang belang merah putih. Hampir seirama dengan bajunya yang berwarna merah muda.

Begitu sampai di rumah, Mariam (50) menyambutnya di teras rumah. Nadira memeluk Mariam manja, lalu meletakkan kepala di dada Mariam dan membelainya. Nadira kemudian berbalik, lantas menyandarkan tubuhnya. ”Saya sangat menyayanginya. Rasanya sudah seperti anak sendiri, yang lahir dari rahim sendiri,” kata Mariam siang itu.

Nadira adalah cucu Mariam. Anak dari Suharniati, putri Mariam yang sekarang berada di Kalimantan. Sejak lahir dan kini masuk sekolah dasar, Nadira telah tinggal bersama neneknya.

Dibandingkan dengan anak-anak seusianya, Nadira yang baru kelas satu di SD Negeri 1 Pandan Wangi terlihat berbeda. Tingginya lebih dari 1 meter dengan postur tubuh yang besar. ”Mungkin ia lebih mengikuti bapaknya, warga Bangladesh yang menikahi ibunya ketika bekerja di Arab Saudi,” kata Mariam.

Sembilan tahun lalu, ibu Nadira menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi. Di sana dia bertemu dan menikah dengan ayah Nadira. Saat kondisi hamil besar, Suharniati pulang sendiri ke Lombok dan melahirkan Nadira.

Ketika Nadira baru berusia 18 bulan, ibunya kembali menjadi PMI. Kali ini, Suharniati berangkat ke Malaysia, tetapi hanya sebulan. Ia ditangkap karena masuk ke sana secara ilegal. Ia kemudian pulang ke Lombok, menikah, dan mengikuti suami barunya ke Kalimantan. Ia tak pernah pulang lagi.

Adapun Nadira tetap tinggal dengan neneknya. Sebelum ke Kalimantan, ibunya sempat berada di Lombok di rumah suami barunya. Nadira kadang ke sana, tetapi tidak betah, dan lebih sering pulang ke rumah neneknya.

Menjadi orangtua pengganti bagi Nadira, Mariam berusaha mengasuh Nadira kendati dia dan suaminya hanya bekerja menjadi buruh ketika musim gabah atau musim tembakau.

Ibu Nadira memang mengirim uang sekitar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per bulan, tetapi tidak rutin. Ketika Nadira sakit, seperti beberapa minggu lalu, Mariam-lah yang mengurus semuanya. Menemaninya berobat dan menebus resep.

Dia kerap menanyakan bapaknya. Belum lama ini, Nadira bahkan bilang minta diantar (ke Arab Saudi) menemui bapaknya.

Meski delapan tahun bersama neneknya, Nadira mengaku merindukan kehadiran orangtuanya, terutama bapaknya. Apalagi jika melihat teman-teman seusianya memiliki bapak. Ayahnya pernah menghubungi ibunya saat Nadira berusia 2 bulan. ”Dia kerap menanyakan bapaknya. Belum lama ini, Nadira bahkan bilang minta diantar (ke Arab Saudi) menemui bapaknya,” tutur Mariam.

Di Cirebon, Jawa Barat, RS (6) juga dibesarkan oleh T (50), neneknya. Ibunya meninggal semenjak RS berusia 2 tahun. Ayahnya, MS, lalu menikah lagi. Namun, karena impitan ekonomi, ibu tirinya berangkat sebagai pekerja migran Indonesia ke Singapura, menjadi pekerja rumah tangga. Namun, ibu tirinya jarang mengirim uang.

Tinggal dengan ayahnya yang bekerja serabutan, RS pun tumbuh tanpa pengasuhan ibu. Bahkan, kini dia harus tinggal bersama sang nenek karena ayahnya sejak Februari 2021 lalu ditahan polisi karena diduga menjadi pelaku pemerkosaan setelah mabuk minuman keras.

RS sama sekali tidak tahu kenyataan itu. Ia mengira ayahnya belum pulang ke rumah karena kerja ke luar kota. Kini, RS diasuh neneknya, yang setia mengantar dan menjemputnya ke taman kanak-kanak. Semua kebutuhan RS ditanggung neneknya, termasuk sekolahnya. Sang nenek berharap cucunya bisa sekolah. ”Aku ingin menjadi guru,” ujar RS saat ditanya cita-citanya.

Nadira dan RS adalah sebagian kecil dari potret anak-anak pekerja migran yang menghadapi berbagai persoalan saat ditinggalkan orangtua mereka di kampung halaman. Selain kehilangan kasih sayang, berada jauh dan terpisah dari orangtua membuat mereka kehilangan banyak hal karena tidak ada yang mendampingi mereka, terutama pada masa tumbuh kembang.

Kalaupun ada pengasuh lain, itu kualitasnya jauh dibandingkan dengan anak kebanyakan yang diasuh langsung oleh kedua orangtuanya. Bahkan, ada yang nyaris luput dari perhatian keluarga.

Kondisi ekonomi (baca kemiskinan) menjadi alasan kuat bagi sejumlah warga untuk mengadu nasib di luar negeri dengan menjadi PMI dan meninggalkan anak-anak yang berisiko tidak mendapat pengasuhan yang layak, bahkan rentan mengalami penelantaran.

 

Demi mengadu nasib

Situasi ini sebenarnya disadari oleh orangtua. Seperti yang dialami Ismail (35), warga Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pasangan suami istri ini meninggalkan kedua anaknya yang saat itu masih berusia 6 tahun dan 1 tahun untuk mengadu nasib di Taiwan. Ismail menjadi buruh pabrik benang selama lima tahun, dan istrinya menjadi pekerja rumah tangga.

Kedua anak-anak diasuh oleh neneknya. Untuk kebutuhan anak-anaknya, Ismail dan istrinya bertugas mengirim uang bulanan. Komunikasi mereka dilakukan melalui media sosial (panggilan video).

Akan tetapi, pada Mei 2020, Ismail terpaksa pulang setelah pabriknya bangkrut akibat pandemi. Hasil keringatnya di negeri orang sudah menjadi tembok dan keramik rumah di kampung. Ia kini menganggur dan hidup dengan mengandalkan uang dari istrinya.

Saat pulang ke rumah, Ismail harus menerima kenyataan, sikap anak-anaknya, terutama yang sulung yang kini berusia 11 tahun, sudah berubah, bahkan tidak mau diajak bepergian. ”Dia di kamar main HP (gawai) aja. Enggak mau ketemu orang baru,” ungkap Ismail yang mengaku membutuhkan waktu untuk meraih kembali perhatian anak-anaknya.

Menghadapi kenyataan tersebut, kendati anak-anaknya senang ayahnya sudah pulang ke rumah, dia membutuhkan waktu untuk merajut kembali hubungan antara orangtua dan anak.

Ismail pun kini menimbang-nimbang apakah akan berangkat lagi ke luar negeri dengan terpisah lagi dengan anaknya. ”Saya masih mikir-mikir ke luar negeri. Di sini enggak ada kerjaan. Istri mungkin masih dua tahun di sana,” lanjutnya.

Berdasarkan data Badan Perlindungan PMI, Cirebon dan Indramayu termasuk kantong PMI. Di Indramayu, pada 2020 tercatat ada 10.060 PMI yang bekerja di luar negeri, sedangkan PMI asal Cirebon sebanyak 4.948 orang. Sebagian besar dari mereka meninggalkan anak-anak saat berangkat ke luar negeri.

Euis Suhartati, Ketua Yayasan Banati (organisasi yang fokus terhadap perempuan, anak, dan pekerja migran), mengatakan, anak pekerja migran tetap membutuhkan perhatian orangtua kandungnya. Umumnya, ketika sang ibu yang berangkat menjadi PMI, ayahnya malah menyerahkan pengasuhan anak-anaknya kepada neneknya atau saudaranya sehingga pengasuhan anaknya terabaikan.

”Ada banyak kasus, istrinya bekerja di luar negeri, terus suami di rumah menikmati uang kirimannya. Ada yang judi atau menikah lagi. Anak tidak diurus. Bahkan, jadi korban kekerasan seksual,” ungkapnya.

Problematika anak-anak PMI tidak bisa dibiarkan. Kebijakan pemerintah untuk memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak tersebut sangat penting. Jangan sampai anak-anak tersebut terabaikan, apalagi terlupakan. Mereka berhak memiliki masa depan seperti anak-anak yang lain. []

Sumber Kompas.id

Advertisement
Advertisement