August 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Resesi Seks Diprediksi Akan Membuat Penduduk China Menyusut Hingga 50%, Begini Dampaknya

2 min read

HONG KONG – China dilaporkan tengah mengalami ‘resesi seks’. Ini dikarenakan dalam satu dekade terakhir, angka kelahiran turun ke tingkat terendah sejak tahun 1960-an.

Di China, dalam laporan terbaru yang dinukil dari CNBC pada Sabtu (11/06/2022) angka kelahiran pada 2020 mengalami penurunan yang sangat drastis. Bahkan, angka ini merupakan angka terendah dalam 43 tahun terakhir.

 

Lalu apakah China terinfeksi resesi seks?

Dalam pemberitaan media resmi China, Global Times,Biro Statistik Nasional China mengumumkan tingkat kelahiran pada tahun 2020 tercatat 8,52 per seribu orang. Selain itu, badan resmi pemerintah itu mencatat bahwa tingkat pertumbuhan alami populasi menyumbang 1,45 per seribu, nilai terendah dalam 43 tahun.

Mengutip The Strait Times yang melansir Bloomberg, tak ada alasan langsung mengapa angka kelahiran turun. Tetapi angka-angka baru mengonfirmasi pertumbuhan populasi di ekonomi nomor dua dunia itu melambat secara dramatis, bahkan diperkirakan akan semakin turun, sebagaimana ditegaskan sejumlah pejabat sejak Juli 2021.

Sementara itu, beberapa pakar demografi menyebut bahwa hal ini diakibatkan oleh rendahnya wanita yang menginginkan kehamilan. Pada Oktober lalu, Liga Pemuda Komunis China mengeluarkan publikasi yang mencatat hampir setengah atau 50% dari wanita muda yang tinggal di perkotaan negeri itu enggan menikah.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan keengganan untuk menikah ini. Mulai dari tak punya waktu hingga biaya keuangan pernikahan dan beban ekonomi memiliki anak.

“Mereka yang disurvei mengatakan tidak punya waktu atau energi untuk menikah,” kata laporan tersebut.

Sepertiga responden juga mengatakan mereka tidak percaya pada pernikahan. Bahkan dalam persentase yang sama, mereka juga mengatakan tidak pernah jatuh cinta.

Dari seluruh alasan itu, ada juga satu alasan terkait kultur bekerja 9-9-6. Budaya ini adalah posisi bekerja di mana warga bekerja 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu.

Budaya ini paling kentara di perusahaan digital seperti Alibaba, Pinduoduo, dan JD.com. Hal ini membuat pekerja merasa terhalang dalam membina keluarga.

Perusahaan menyebut kultur ini merupakan program “perjuangan”. Karyawan diminta melepas hak dan tunjangannya untuk perkembangan perusahaan.

Pengadilan China pun sudah mulai menindak perusahaan semacam ini. Para Hakim mengingatkan agar perusahaan tetap menghormati hak dan kewajiban perusahaan dalam mempekerjakan para karyawannya.[]

Sumber CNBC

Advertisement
Advertisement