Rezeki Tak Pernah Tertukar
3 min read
JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang seolah memaksa setiap orang untuk berlari semakin cepat, banyak hati mulai kehilangan ketenangan.
Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan, seberapa besar penghasilan, atau seberapa mewah gaya hidup seseorang.
Akibatnya, tidak sedikit orang hidup dalam kecemasan, takut tertinggal, bahkan rela mengorbankan kejujuran demi mengejar sesuatu yang sebenarnya telah Allah tetapkan sejak sebelum dirinya dilahirkan.
Padahal, seorang mukmin diajarkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Yang Maha Mengatur segala urusan.
Ada pelajaran berharga yang dapat kita renungkan. Bumi yang kita pijak ini begitu luas. Lautannya terbentang, gunung-gunung menjulang, hutan menghijau, dan berbagai negeri memiliki kekayaan yang berbeda. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah menyediakan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya.
Tidak ada seekor burung yang kelaparan karena lupa mencari makan. Tidak pula ada seekor semut yang kehilangan bagiannya karena tertukar dengan semut lain. Demikian pula manusia. Allah telah menentukan kadar rezeki setiap hamba dengan penuh kebijaksanaan.
Allah Taala berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Hud: 6)
Ayat ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Justru sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa di balik setiap ikhtiar terdapat jaminan dari Allah yang tidak pernah ingkar.
Seorang hamba tetap diperintahkan untuk bekerja, berdagang, bertani, mengajar, atau menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab. Namun, ia tidak perlu dihantui rasa takut bahwa rezekinya akan direbut orang lain.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا وَأَجَلَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ»
“Sesungguhnya Ruhul Qudus telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan meninggal dunia hingga ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Janganlah lambatnya kedatangan rezeki mendorong salah seorang di antara kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya, apa yang ada di sisi Allah tidak dapat diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” (Ibnu Majah dan lainnya)
Hadis yang agung ini menjadi penawar bagi hati yang sering gelisah. Tidak ada alasan untuk menipu, menyuap, mengurangi timbangan, mengambil hak orang lain, atau menjatuhkan sesama hanya karena takut kehilangan rezeki. Sebab, sesuatu yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah berpindah kepada orang lain.
Ketika hati benar-benar meyakini hal ini, hidup terasa jauh lebih ringan. Kita tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Berbagai kemewahan yang ditampilkan di media sosial tidak lagi membuat hati iri. Kesuksesan teman tidak menjadi ancaman, tetapi berubah menjadi motivasi dan doa agar Allah juga memberikan keberkahan kepada kita pada waktu terbaik menurut-Nya.
Allah berfirman:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
“Dan di langit terdapat rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu. Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sungguh yang dijanjikan itu benar sebagaimana benarnya kamu dapat berbicara.” (Az-Zariyat: 22–23)
Karena itu, jangan pernah mengukur perjalanan hidup dengan langkah orang lain. Ada yang dipercepat rezekinya ketika masih muda. Ada pula yang baru merasakan kelapangan setelah bertahun-tahun bersabar.
Ada orang yang Allah uji dengan kekurangan harta, tetapi dilimpahi kesehatan, keluarga yang harmonis, dan hati yang damai. Ada pula yang bergelimang kekayaan, tetapi kehilangan ketenangan. Semua telah Allah ukur dengan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna.
Salah satu tempat terbaik untuk meletakkan seluruh kegelisahan adalah di atas sajadah. Saat dahi menyentuh bumi dalam sujud dan tangan terangkat dalam doa, di situlah seorang hamba mengakui bahwa dirinya lemah dan hanya Allah tempatnya bergantung.
Hati yang semula dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba yang bertawakal kepada-Nya.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (At-Talak: 3)
Maka, keluarlah dari rumah setiap pagi dengan senyum yang tulus, niat yang lurus, dan hati yang penuh tawakal. Bekerjalah sebaik mungkin, jujurlah dalam setiap transaksi, amanahlah dalam setiap tanggung jawab, dan istikamahlah dalam beribadah.
Jangan habiskan tenaga hanya untuk mengejar gengsi sebab kemuliaan tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari ketakwaan kepada Allah. Rezeki yang sedikit, tetapi penuh keberkahan, jauh lebih menenangkan daripada harta melimpah yang diperoleh dengan cara haram.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tekun berikhtiar, berlapang hati dalam menerima ketentuan-Nya, selalu bersyukur atas nikmat-Nya, serta dianugerahi rezeki yang halal, baik, luas, penuh keberkahan, dan membawa keselamatan di dunia hingga kebahagiaan abadi di akhirat. Amin. []
Penulis : Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
