Kedepankan Adab Saat Berbeda Pendapat
7 min read
JAKARTA – Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak mungkin selalu dihindari. Ukuran kemuliaan bukanlah selalu sepakat, melainkan bagaimana seseorang menjaga lisan, hati, sikap, dan adab ketika menghadapi perbedaan sehingga perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan, penghinaan, kesombongan, atau putusnya persaudaraan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk memaksakan seluruh pandangannya kepada orang lain. Allah memberikan manusia akal, kemampuan berpikir, dan kebebasan memilih dalam perkara yang memang memiliki ruang perbedaan.
Karena itu, ketika muncul perubahan dalam kehidupan, kebijakan, pemikiran, atau persoalan sosial, sangat mungkin lahir reaksi yang berbeda. Ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang ragu, dan ada pula yang membutuhkan waktu untuk memahami.
Perbedaan reaksi itu sendiri tidak selalu menjadi masalah. Persoalan besar muncul ketika seseorang kehilangan adab dalam menyampaikan pendapat.
Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Ayat tersebut memberikan tuntunan yang sangat penting. Bahkan ketika seseorang harus berdialog, menjelaskan, atau berdebat, Al-Qur’an tidak membenarkan cara yang kasar. Perintahnya adalah menggunakan hikmah, nasihat yang baik, dan cara yang paling baik.
Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang disampaikan dengan buruk dapat kehilangan daya sentuhnya, sementara nasihat yang disampaikan dengan kelembutan lebih memungkinkan hati manusia menerimanya.
Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat seseorang marah bukan karena pendapatnya benar atau salah, melainkan karena pendapatnya tidak diterima orang lain. Seolah-olah ketidaksetujuan dianggap sebagai penghinaan.
Padahal, berbeda pendapat tidak otomatis berarti memusuhi. Orang lain memiliki pengalaman, pengetahuan, latar belakang pemikiran, dan cara melihat persoalan yang mungkin berbeda dengan kita.
Allah Swt. mengingatkan manusia agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling merendahkan. Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan fasik setelah beriman. Barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa dirinya pasti lebih tinggi hanya karena memiliki pendapat yang berbeda. Kita boleh merasa yakin terhadap suatu pandangan, tetapi keyakinan terhadap pendapat tidak boleh berubah menjadi kesombongan terhadap manusia.
Lebih jauh, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Perbedaan pendapat sering menjadi lebih besar karena manusia menambahkan prasangka. Seseorang menyampaikan kritik, lalu dianggap membenci. Seseorang bertanya, lalu dianggap menentang. Seseorang tidak setuju, lalu dianggap bodoh. Seseorang memilih jalan berbeda, lalu dicurigai memiliki niat buruk.
Padahal, kita tidak mengetahui isi hati orang lain. Karena itu, seorang muslim dituntut berhati-hati sebelum memberikan penilaian.
Menjaga Lisan di Tengah Perbedaan
Rasulullah Saw. juga memberikan prinsip yang sangat mendasar mengenai keselamatan lisan. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Hadis tersebut bukan berarti seorang muslim harus selalu diam ketika melihat kesalahan. Islam justru mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Namun, keberanian berbicara harus berjalan bersama kebijaksanaan.
Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan nada keras. Tidak semua kritik harus disampaikan dengan penghinaan. Tidak setiap kesalahan harus dibalas dengan membuka aib. Ada waktu untuk berbicara, ada cara untuk berbicara, dan ada keadaan ketika diam justru lebih menyelamatkan.
Rasulullah Saw. juga bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
Artinya: “Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan manusia pada zaman sekarang, terutama ketika komunikasi berlangsung melalui media sosial. Jarak yang jauh membuat seseorang terkadang merasa bebas menulis apa saja. Padahal, setiap kata tetap memiliki konsekuensi.
Jari yang mengetik tidak menghapus tanggung jawab moral. Kalimat yang ditulis dalam beberapa detik dapat dibaca oleh banyak orang dan mungkin meninggalkan luka dalam waktu yang panjang.
Karena itu, sebelum memberikan reaksi terhadap sebuah perubahan atau pendapat, seorang muslim sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah yang akan saya sampaikan benar? Apakah bermanfaat? Apakah cara penyampaiannya baik? Apakah saya memiliki pengetahuan yang cukup? Apakah saya sedang membela kebenaran atau sekadar membela ego?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena terkadang manusia mengira dirinya sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang sedang diperjuangkan adalah harga diri. Ia marah ketika pendapatnya dikritik, tersinggung ketika gagasannya tidak diterima, dan menyerang orang lain ketika argumennya tidak mampu menjawab persoalan.
Kekuatan Ada pada Kemampuan Mengendalikan Diri
Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain dalam pertengkaran. Beliau bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya: “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Inilah pelajaran besar tentang kedewasaan. Orang yang kuat bukan hanya orang yang mampu menyampaikan argumen dengan keras. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan emosi ketika pendapatnya ditolak.
Ia tetap bisa berdialog tanpa menghina. Ia tetap bisa berbeda tanpa membenci. Ia tetap dapat mengkritik tanpa merendahkan.
Islam juga mengajarkan agar kebencian kepada seseorang tidak membuat kita berlaku tidak adil. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Ma’idah ayat 8:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menghilangkan objektivitas. Jika orang yang tidak kita sukai menyampaikan sesuatu yang benar, kita harus berani mengakui kebenarannya. Sebaliknya, jika orang yang kita sukai melakukan kesalahan, kita tidak boleh membenarkannya hanya karena kedekatan atau kesamaan kelompok.
Di sinilah akhlak menjadi pembeda antara orang yang sekadar memiliki pendapat dan orang yang memiliki kedewasaan berpikir. Pendapat dapat berbeda, tetapi adab harus tetap sama.
Kita boleh mengatakan tidak setuju, tetapi tidak harus mengatakan orang lain bodoh. Kita boleh memberikan kritik, tetapi tidak harus menghina. Kita boleh mempertahankan prinsip, tetapi tidak harus memusuhi semua orang yang berbeda.
Kritik Tetap Perlu, Adab Tetap Dijaga
Allah Swt. juga mengajarkan agar manusia membalas keburukan dengan cara yang lebih baik. Dalam surah Fussilat ayat 34, Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
Artinya: “Kebaikan tidaklah sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.”
Betapa indah tuntunan ini. Ketika orang lain berbicara kasar, kita tidak harus membalas dengan kekasaran. Ketika orang lain merendahkan, kita tidak perlu ikut merendahkan. Ketika seseorang berbeda pendapat, kita tidak perlu mengubah perbedaan menjadi peperangan pribadi.
Menjaga akhlak bukan berarti lemah. Justru kemampuan mempertahankan akhlak ketika diperlakukan buruk merupakan tanda kematangan jiwa.
Dalam konteks perubahan, sikap kritis tetap diperlukan. Islam tidak mengajarkan umatnya menerima segala sesuatu secara membabi buta. Setiap perubahan dapat dikaji berdasarkan ilmu, maslahat, keadilan, dan prinsip agama.
Namun, kritik yang baik harus dibangun dengan pengetahuan, bukan sekadar kemarahan. Jika tidak tahu, bertanyalah. Jika belum memahami, belajarlah. Jika memiliki bukti, sampaikan dengan tenang. Jika berbeda pendapat, jelaskan alasan tanpa merendahkan.
Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak terburu-buru menyebarkan informasi, menuduh, atau memberikan penilaian. Jangan sampai sebuah kabar yang belum jelas berubah menjadi kemarahan, lalu kemarahan berubah menjadi penghinaan, dan penghinaan akhirnya merusak persaudaraan.
Tidak Semua Perdebatan Harus Dimenangkan
Maka, ketika berhadapan dengan perbedaan, mari belajar membedakan antara menolak pendapat dan membenci orangnya. Kita dapat mengatakan bahwa sebuah gagasan kurang tepat tanpa mengatakan orang yang menyampaikannya tidak berharga.
Kita dapat mempertahankan prinsip tanpa menganggap semua orang yang berbeda sebagai musuh. Kita dapat berdiskusi dengan tegas sekaligus tetap santun.
Pada akhirnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan lisannya di hadapan Allah. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Ada perdebatan yang lebih baik dihentikan karena tidak lagi menghasilkan ilmu. Ada ucapan yang lebih baik ditahan karena berpotensi melukai. Ada perbedaan yang cukup disikapi dengan saling menghormati.
Kita tidak dituntut membuat semua orang sepakat dengan kita. Kita dituntut menjaga diri agar ketidaksepakatan tidak membuat kita kehilangan akhlak. Sebab, kemenangan sejati bukan ketika semua orang mengikuti pendapat kita, melainkan ketika kita mampu tetap berada di jalan kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, keadilan, kesabaran, dan persaudaraan.
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang benar, hati yang lapang, lisan yang terjaga, kemampuan membedakan kebenaran dari kebatilan, serta kesabaran menghadapi perbedaan. Semoga setiap pendapat yang kita sampaikan menjadi jalan kebaikan, bukan sumber permusuhan.
Semoga dalam setiap perbedaan, kita selalu mengingat bahwa di atas kecerdasan manusia ada ilmu Allah yang Mahaluas sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri.
Perbedaan dapat menjadi rahmat ketika disertai ilmu dan adab. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi bencana ketika dipenuhi ego dan amarah.
Karena itu, mari belajar berbeda tanpa bermusuhan, mengkritik tanpa menghina, menasihati tanpa merasa paling suci, dan menyampaikan keyakinan tanpa memaksa orang lain. Itulah salah satu jalan menjaga persaudaraan dan menghadirkan akhlak Islam dalam kehidupan nyata. []
Penulis : Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
