November 27, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Riset : Menulis Dengan Tangan, Membuat Anak Lebih Pintar

4 min read
Prime Banner

ApakabarOnline.com – Tentunya tidak ada yang asing dengan kegiatan melulis dengan tangan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan sedari masa kanak-kanak hingga menjadi dewasa. Tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa dengan menulis tangan, kita akan lebih cepat untuk belajar dan mengingat. Namun benarkah hal ini?

Menurut beberapa studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa baik anak-anak maupun orang dewasa belajar dan mengingat hal lebih baik ketika mereka menulis dengan tangan. Bahkan Profesor Audrey van der Meer dari NTNU percaya bahwa suatu pedoman nasional perlu diberlakukan untuk memastikan bahwa anak-anak mendapat setidaknya pelatihan sederhana dalam menulis tangan.

Sebuah studi terbaru juga semakin memperkuat pernyataan tersebut, bahwa tulisan tangan menghasilkan pembelajaran memori yang lebih baik bila dibandingkan dengan menggunakan keyboard. Van der Meer serta rekan-rekan penelitinya telah meneliti hal ini beberapa kali. Kali pertama pada tahun 2017, dan kini pada 2020.

Pada tahun 2017, dirinya memeriksa aktivitas otak dari 20 siswa. Kini, ia telah mempublikasikan sebuah studi di mana sekarang ia memeriksa aktivitas otak pada dua belas orang dewasa dan dua belas anak-anak. Studi tersebut merupakan yang pertama untuk menyertakan anak-anak.

Kedua studi yang dilakukan Van der Meer tersebut dilakukan dengan menggunakan EEG untuk melacak dan merekam aktivitas gelombang otak. Para peserta mengenakan tudung dengan lebih dari 250 elektroda terpasang di dalamnya.

Otak kita menghasilkan suatu impuls listrik pada saat aktif atau dengan kata lain ketika kita menggunakan otak kita. Sensor di elektroda tersebut sangat sensitif dan dapat menangkap aktivitas listrik yang tengah terjadi di dalam otak.

Menulis dengan tangan menambah “gantungan” untuk menaruh memori. Satu waktu pemeriksaan memakan waktu 45 menit per peserta, dan para peneliti menerima 500 poin data per detik. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak pada orang dewasa dan anak-anak jauh lebih aktif pada saat mereka menulis dengan tangan bila dibandingkan dengan saat mengetik di keyboard.

Van der Meer mengatakan bahwa penggunaan pena dan kertas memberi lebih banyak ‘gantungan’ pada otak untuk menggantung ingatan kita. Menulis dengan tangan menghasilkan lebih banyak aktivitas di bagian sensorimotor otak. Banyak indera diaktifkan dengan menekan pena di atas kertas, melihat huruf yang akan ditulis dan mendengarkan suara yang dibuat saat menulis. Pengalaman indra tersebut menciptakan kontak antara berbagai bagian otak dan membuka kemampuan otak untuk dapat belajar. Sehingga mereka yang menulis dengan tangan belajar lebih baik dan mengingat dengan lebih baik.

Dirinya percaya bahwa studi yang dia dan rekan-rekan peneliti lakukan menekankan pentingnya untuk anak-anak ditantang untuk menggambar dan menulis sejak usia dini, terutama di sekolah.

Realitas yang kini ada adalah adalah bahwa mengetik, mengetuk, dan menggunakan layar adalah bagian besar dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja. Sebuah survei terhadap 19 negara di UE menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja Norwegia menghabiskan banyak waktu mereka dengan online dibandingkan yang lainnya. Smartphone adalah pendamping konstan mereka, diikuti oleh PC dan tablet.

Survei tersebut menunjukkan bahwa anak-anak dengan umur 9 hingga 16 tahun menghabiskan waktu hampir empat jam untuk online setiap harinya, yang jumlah tersebut merupakan dua kali jumlah sejak tahun 2010. Waktu luang anak-anak yang dihabiskan di depan layar kini juga semakin diperkuat oleh meningkatnya penekanan dari pihak sekolah pada pembelajaran digital.

Van der Meer berpendapat bahwa pembelajaran digital memanglah memiliki banyak aspek positif. Akan tetapi dirinya tetaplah mendorong untuk dilakukannya pelatihan untuk menulis dengan tangan.

Meer berpendapat bahwa mengingat perkembangan yang terjadi beberapa tahun terakhir, dirinya khawatir akan resiko satu generasi atau lebih kehilangan kemampuan untuk menulis dengan tangan. Riset para peneliti dan menunjukkan bahwa hal tersebut akan menjadi konsekuensi yang sangat disayangkan dari meningkatnya aktivitas digital.

Dia percaya bahwa suatu pedoman nasional haruslah diberlakukan yang dapat memastikan bahwa anak-anak menerima setidaknya pelatihan tulisan tangan sederhana. Beberapa sekolah di Norwegia kini telah mengalami digitalisasi sepenuhnya dan tidak melakukan pelatihan menulis tangan sama sekali. Sekolah di Finlandia bahkan telah jauh lebih digital daripada di sekolah di Norwegia. Jumlah sekolah yang memberikan pelatihan untuk menulis tangan telah menurun sangat drastis.

Dalam perdebatan tentang menulis dengan tangan atau menggunakan keyboard di sekolah, beberapa dari guru percaya bahwa menggunakan keyboard mengurangi rasa frustrasi anak-anak. Mereka menunjukkan bahwa anak-anak dapat menulis teks yang lebih panjang, dan lebih termotivasi untuk menulis karena mereka memiliki penguasaan yang lebih besar dengan keyboard.

Van der Meer mengatakan bahwa belajar menulis dengan tangan merupakan proses yang memang sedikit lebih lambat. Akan tetapi penting bagi anak-anak untuk melalui fase yang melelahkan tersebut dalam belajar menulis dengan tangan. Gerakan tangan yang rumit dan pembentukan huruf bermanfaat dalam beberapa hal. Jika menggunakan keyboard, gerakan yang digunakan sama untuk setiap hurufnya.

Menulis dengan tangan membutuhkan kendali atas keterampilan motorik halus dan indra kita. Penting untuk menempatkan otak dalam keadaan belajar sesering mungkin. Dirinya juga menambahkan bahwa bagus untuk menyeimbangkan keduanya, seperti menggunakan keyboard untuk menulis esai, namun dalam membuat catatan dengan menggunakan tulisan tangan selama pelajaran.

Juga ditambahkan bahwa otak manusia telah berevolusi selama ribuan tahun. Evolusi tersebut membuat kita dapat mengambil tindakan dan mengarahkan perilaku yang sesuai dengan keadaan. Agar otak kita berkembang dengan cara terbaik, kita perlu menggunakannya sesuai dengan maksud dan kemampuannya.

Meer beranggapan bahwa kita perlu untuk menjalani kehidupan yang otentik. Kita harus menggunakan semua indra kita, berada di luar, mengalami segala jenis lingkungan dan bertemu dengan orang lain. Jika kita tidak menantang otak kita, otak tidak akan sampai pada potensi penuhnya. Akibatnya akan berpengaruh juga pada kehidupan kita, utamanya dalam pembelajaran. []

Sumber NTNU.edu

Advertisement