July 24, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sebelum Mereka Pergi Selamanya, Sudahkah Kita Benar Benar Berbakti pada Kedua Orang Tua ?

4 min read

JAKARTA – Lima menit percakapan melalui telepon sering kali terasa biasa. Bahkan, terkadang dianggap terlalu singkat untuk disebut sebagai momen yang berarti.

Namun, ketika seseorang mulai menghitung berapa banyak waktu yang tersisa bersama ayah dan ibunya di dunia ini, lima menit itu mendadak menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Kita sering menghitung target pekerjaan, keuntungan usaha, tabungan masa depan, bahkan waktu yang dihabiskan bersama anak-anak.

Akan tetapi, jarang sekali kita menghitung berapa banyak kesempatan yang masih Allah Swt. berikan untuk duduk, berbincang, mendengarkan suara, dan mencium tangan orang tua yang telah membesarkan kita sejak kecil.

Ada saat-saat dalam hidup ketika sebuah kesadaran datang tanpa diundang. Kesadaran itu muncul saat kita memahami bahwa umur manusia tidaklah abadi. Ayah yang dahulu tampak kuat kini mulai menua.

Ibu yang dahulu sigap mengurus rumah kini langkahnya mulai melambat. Rambut mereka memutih sedikit demi sedikit, sementara kita sering kali terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa bahwa waktu bersama mereka terus berkurang setiap hari.

Waktu Bersama yang Terus Berkurang

Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan salah satu amal terbesar setelah mentauhidkan Allah. Bahkan, dalam banyak ayat Al-Qur’an, perintah berbuat baik kepada orang tua disebutkan setelah perintah menyembah Allah semata.

Allah Swt. berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (Al-Isra’: 23)

Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk bakti kepada orang tua adalah menjaga lisan dan menghadirkan penghormatan dalam berkomunikasi. Betapa sering kita berbicara dengan sopan kepada atasan, klien, atau rekan kerja, tetapi justru menjawab secara singkat dan terburu-buru ketika orang tua menelepon.

Padahal, mereka tidak membutuhkan harta yang banyak. Sering kali yang mereka rindukan hanyalah suara anak-anaknya.

Rasulullah saw. juga menegaskan besarnya kedudukan orang tua dalam Islam. Dalam sebuah hadis yang sangat masyhur disebutkan:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Keridaan Allah terletak pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua.” (Tirmizi)

Doa Orang Tua, Pintu Keberkahan

Hadis ini menjadi pengingat bahwa hubungan kita dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan ayah dan ibu. Banyak orang berharap hidupnya dipenuhi keberkahan, tetapi lupa bahwa salah satu pintu keberkahan terbesar terdapat dalam doa tulus orang tua.

Ketika seseorang menghitung sisa hari bersama ayah atau ibunya, sebenarnya ia sedang diingatkan tentang hakikat kehidupan. Allah Swt. berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Kematian bukan hanya akan mendatangi kita. Kematian juga akan mendatangi orang-orang yang paling kita cintai. Karena itu, seorang muslim tidak menunggu kehilangan untuk mulai menghargai kehadiran.

Jangan sampai kita baru menangis panjang di pemakaman setelah bertahun-tahun mengabaikan telepon orang tua. Jangan sampai penyesalan datang ketika nomor yang biasa kita hubungi tidak akan pernah lagi menjawab panggilan.

Ada sebuah hadis yang menggugah hati tentang seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ayahmu.’” (Bukhari dan Muslim)

Jangan Menunggu Kehilangan

Perhatikan bahwa Rasulullah saw. tidak menyebut sahabat, tetangga, atau rekan bisnis terlebih dahulu. Beliau menyebut ibu dan ayah. Hal ini menunjukkan betapa besar hak mereka atas perhatian dan kasih sayang anak-anaknya.

Dalam kehidupan modern, berbakti tidak selalu harus diwujudkan dengan tinggal serumah. Kadang-kadang, bakti itu berbentuk percakapan melalui telepon yang tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.

Bakti bisa diwujudkan dengan menanyakan kondisi kesehatan mereka, mendengarkan cerita yang mungkin sudah berulang kali disampaikan, mengirim pesan sederhana setiap pagi, atau menyempatkan pulang meskipun hanya beberapa hari.

Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi besar nilainya di sisi Allah ketika dilakukan dengan ikhlas.

Sering kali orang tua menutupi kerinduannya dengan kalimat sederhana, “Ibu sudah senang, kok, hanya dengan mendengar suaramu.”

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan kasih sayang yang luar biasa. Mereka tidak ingin menjadi beban. Mereka juga tidak ingin mengganggu kesibukan anaknya. Padahal, mungkin setelah telepon ditutup, mereka tersenyum bahagia hanya karena beberapa menit mendengar suara anak yang selalu mereka doakan setiap selesai salat.

Bakti dalam Hal-Hal Sederhana

Maka, sebelum waktu benar-benar habis, sebelum jumlah pertemuan semakin sedikit, dan sebelum kesempatan itu hilang selamanya, gunakanlah waktu yang masih Allah titipkan hari ini.

Teleponlah orang tua. Duduklah lebih lama ketika berkunjung. Dengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian. Mintalah doa mereka. Mohonlah maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.

Sebab, suatu hari nanti, yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan penyesalan atas kesempatan yang tidak dimanfaatkan.

Allah Swt. berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.’” (Al-Isra’: 24)

Semoga setiap menit yang kita luangkan untuk ayah dan ibu menjadi amal saleh yang dicatat Allah, menjadi sebab turunnya keberkahan dalam hidup, serta menjadi penolong kita pada hari ketika tidak ada lagi yang dapat dibanggakan selain iman, amal saleh, dan bakti yang tulus kepada kedua orang tua.

Apabila malam ini mereka masih ada, jangan menunda untuk menghubungi mereka. Sebab, tidak seorang pun mengetahui berapa banyak sisa hari yang masih Allah tetapkan bagi kita dan bagi mereka.  []

Penulis :  Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply