Seorang PRT Asing yang Baru Dua Bulan Bekerja Tetiba Sakit dan Menghabiskan Biaya Ratusan Juta, Padahal Surat Keterangan yang Dibawa dari Agen Dinyatakan Sehat
2 min read
HONG KONG – Validitas surat keterangan sehat yang menjadi syarat seseorang bisa menjadi PRT asing kembali dipertanyakan, menyusul mencuatnya sebuah kasus yang menimpa seorang majikan yang terpaksa harus menelan kenyataan getir, menanggung biaya pengobatan yang dalam rupiah angkanya mencapai Rp. 573 juta rupiah.
Mengutip pemberitaan media lokal singapura menyebutkan, seorang majikan berusia 30 tahun beranak dua berstatus janda mengeluhkan dan mempertanyakan validitas surat keterangan sehat yang dibuat di negara pengirim PRT asing.
Hal tersebut dia pertanyakan lantaran, pada bulan Juni 2026, seorang PRT asing masuk ke tempat dia untuk bekerja melalui jasa sebuah agen penyalur. Hasil verifikasi diatas kertas terbilang normal dan tidak ada masalah.
Tugas dia adalah mengasuh dua anaknya yang masing masing berusia 10 tahun dan 7 tahun disamping menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Namun pada awal Agustus, PRT asing tersebut mengeluhkan rasa sakit dan nyeri di dadanya. Kemudian oleh majikannya dibawa ke UGD sebuah rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.
Betapa terkejutnya dia, ternyata pihak rumah sakit menyatakan PRTnya menderita gangguan paru paru. Dan pada kunjungan pertama ini majikan harus membayar tagihan diluar asuransi sebesar SGD 27,242.
Seminggu berselang, keluhan yang sama kembali dirasakan oleh PRTnya, dan setelah majikan membawa kembali ke rumah sakit, dia harus membayar tagihan diluar asuransi sebesar SGD 13,521.
Disamping tagihan tagihan jasa rumah sakit diluar asuransi, majikan juga masih harus membayar tagihan lainnya yang berkaitan dengan proses pengobatan yang setelah diakumulasikan, besar keseluruhan mencapai SGD 41,156.50.
Dalam unggahan di sosial media group SingleMom Singapura, majikan mengaku dirinya saat ini sedang gamang terkait keberlanjutan memperkerjakan PRT asing tersebut mengingat riwayat penyakit yang baru dia ketahui dan potensial akan muncul lagi di kemudian hari.
Disatu sisi dia ingin memulangkan, namun dia mempertimbangkan bagaimana dia nanti akan mencari uang untuk keluarganya di negara asal dengan kondisi yang disertai penyakit, disisi lain dia merasa sudah keluar banyak uang untuk PRT asing tersebut. []
