September 27, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Setiap PMI Bisa Menjadi Konselor Bagi PMI Lainnya

2 min read

JAKARTA – Berbagai permasalahan pekerja migran Indonesia (PMI) baik sejak di kampung halaman hingga di negara penempatan  seringkali menggeliat tanpa penyelesaian.

Bukan tanpa ikhtiyar, namun para PMI yang dilanda masalah seringkali menemekukan jalan keluar yang salah.

Permasalahan yang melanda PMIpun sebenarnya sangat beragam, dari permasalahan ekonomi, hukum ketenagakerjaan, hingga persoalan psikologis seperti tekanan dari situasi kerja, hambatan berkomunikasi dengan keluarga, perbedaan pendapat bahkan hingga keinginan dengan pasangan maupun keluarga di kampung halaman dan lain sebagainya.

Mengantisipasi hal tersebut, praktisi psikologi dari Rumah Konseling, Kisma Fawzia, S.Psi menegaskan, siapapun bisa menjadi konselor.

“Pada prinsipnya, konseling itu mendengarkan, menemani dan menguatkan, agar yang bermasalah bisa memetakan dan mengatasi permasalahan dirinya sendiri.” jelas jelas perempuan yang akrab disapa Zeezee saat menjadi pembicara di Training Organisasi Sahabat Migran Indonesia (SMI) pada Ahad (21/08/2022) kemarin.

Saat melakukan konseling, konselor mutlak harus melakukan active listening atau mendengarkan secara aktif, dimana menurut Zeezee, mendengarkan itu bukan hanya dengan telinga saja, melainkan melibatkan body language atau bahasa tubuh, mengingat, proses mendengarkan ini merupakan proses menyerap input yang cukup komplek.

Hal ini sangat penting sekali, sebab masalah utama pada individu itu seringkali karena tidak punya masalah untuk menyalurkan emosi dia.

“Jangan sampai saat proses bercerita sedang berlangsung, kemudian orang yang kita dampingi menangis atau menunjukkan bentuk emosi lainnya kemudian kita memutus ceritanya dengan ‘jangan nangis, kamu pasti bisa'” lanjutnya.

Ungkapan seperti tersebut dapat menganggu ortang yang sedang didampingi untuk bebas mengeluarkan apa yang dia pendam, apa yang dia simpan di ruang rahasianya.

“Biarkan dia mengeluarkan dulu apa yang dia pendam selama ini” lanjut Zeezee.

Sebagai bentuk katarsis, dengan menceritakan apa yang dipendam oleh seseorang itu sudah cukup melegakan secara psikologis.

Tinggal selanjutnya bagaimana seorang konselor membantu mendampingi klien untuk memetakan masalah, hingga menemukan jalan keluar, dengan menuliskan skala prioritas misalnya.

“Mendampingi dengan menuliskan pilihan, kemudian menuangkan untung dan rugi dari setiap pilihan, baru selanjutnya menghitungnya, keputusan mana yang layak diambil” terang Zeezee.

Situasi di negara penempatan pekerja migran diakuinya sangat unik. Karena hal itulah, Zeezee mengingatkan, sebaiknya proses konseling dilakukan terhadap yang berjenis kelamin sama.

“Jangan sampai pria mendampingi wanita, dan sebaliknya untuk meminimalkan resiko munculnya masalah baru” pingkas Zeezee.[]

Advertisement
Advertisement