August 21, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Siapa Saja yang Diperbolehkan Melakukan  Jamak dan Qasar Sholat

4 min read

JAKARTA – Makna nilai spiritual di balik salat sunnah qasar dan jamak adalah pengakuan atas kemudahan dari Allah, rasa syukur atas keringanan (rukhsah), serta kesadaran bahwa hubungan hamba dengan Sang Pencipta tidak terikat oleh tempat atau kesulitan fisik.

Melaksanakan salat dengan cara diringkas dan digabung melatih diri untuk tetap patuh pada perintah Allah dalam keadaan apa pun. Perjalanan jauh, sakit berat, dan hujan deras badai sekalipun tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban mengingat Allah Ta’ala.

Salat jamak adalah menggabungkan dua salat fardu dan mengerjakannya dalam satu waktu. Sedangkan salat qasar adalah meringkas jumlah rakaat salat fardu yang empat rakaat menjadi dua rakaat.

Keduanya merupakan bentuk keringanan (rukhsah) dari Allah bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) atau menghadapi kondisi darurat.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 101.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا۟ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱلْكَٰفِرِينَ كَانُوا۟ لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

Apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Tafsir Ayat

Ayat ini menyebutkan kondisi takut (khauf). Sebab dahulu kebanyakan safar kaum muslimin pada awal perkembangan islam diliputi rasa takut diserang atau diganggu oleh orang-orang kafir yang musuh nyata bagi kaum muslimin. Perjalanan di muka bumi berisiko tinggi terhadap keselamatan fisik.

Tafsir ayat itu sekarang, keringanan melaksanakan salat pada saat safar tidak mutlak bergantung pada ada atau tidaknya rasa takut, melainkan status perjalanan itu sendiri sudah membolehkan salat jamak dan qasar sebagai bentuk kemudahan dan keringanan.

Kondisi ini tetap berlaku secara umum bagi para musafir. Bahkan boleh dilaksanakan ketika perjalanan sudah aman sekalipun. Salat jamak atau qasar merupakan sedekah dari Allah Ta’ala berbentuk kemudahan yang diberikan kepada hambaNya, agar umat Islam dianjurkan menerima kemudahan tersebut.

Nabi Saw bersabda

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ , فَأَقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ

“Itu sedekah yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepadamu semua, maka terimalah sedekah Allah itu .” ( HR. Jamaah)

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 78.

                                                                                 وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ                  

Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.

Maksud dari ayat 78 surah Al-Hajj adalah Allah Ta’ala menjadikan ajaran syariat agama Islam ini tidak menyulitkan. Sebaliknya memberikan kemudahan bagi hambaNya dalam menjalankan ibadah.

Ayat 101 surah An-Nisa’ terkandung hukum dibolehkannya mengqasar salat dan tidak berpuasa wajib bagi musafir.

Dasar Hukum Salat Qasar

Salat qasar adalah meringkas jumlah rakaat pada salat yang empat rakaat menjadi dua rakaat yaitu salat Zuhur, Asar dan Isya. Tidak berlaku qasar di salat Subuh dan Magrib.

Sebagaimana hadis sahih di bawah ini menjelaskan.

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : فَرَضَ اللَّهُ الصَّلاَةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ صَلّى اللَّهُ عَلَيْه وَ سَلَّمَ فِيْ الْحَضَرِ أَرْبَعًا وَ فِيْ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَ فِي الْخَوْفِ رَكْعَتًا

Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ’anhuma, ia berkata,”Allah telah memfardukan salat melalui lisan Nabimu, ketika bermukim (tidak bepergian) empat rakaat, ketika dalam perjalanan dua rakaat, ketika dalam peperangan satu rakaat .” ( Sahih Ibnu Majah, Nasa’i, dan Muslim)

Para ulama berbeda pendapat tentang batas jarak perjalanan yang dibolehkan untuk mengqasar salat dengan perbedaan pendapat yang banyak.

Ada yang berpendapat salat qasar batas maksimumnya bagi yang mukim adalah 20 hari berdasarkan hadis di bawah ini.

أَقَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ السَّلاَّمَ بِتَبُوْكِ عِشْرِيْنَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلاَةَ

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallaahu anhu, berkata:”Nabi Saw bermukim di Tabuk selama dua puluh hari, dan selalu mengqasar salatnya.”

Maksudnya, selama orang safar bermukim 20 hari di wilayah tempat ia tuju, maka selama itu ia melaksanakan salat qasar (ringkas). Boleh dilakukan secara jamak dan qasar sekaligus. Misal dua rakaat Zuhur dijamak sekaligus  dengan dua rakaat Asar. Atau tiga rakaat Magrib dijamak sekaligus dengan dua rakaat Isya.

Namun  demikian, pendapat yang rajih (kuat) adalah tidak ada batasan yang jelas tentang jarak. Karenanya seorang musafir boleh terus mengqasar salat selama ia masih dalam bepergian untuk tujuan fi sabilillaah. Bukan perjalanan maksiat.

Contoh perjalanan yang dibolehkan thalabul ilmu, umrah/haji, dan menyambung silaturrahmi. Kalau bermaksud hendak bermukim untuk menetap sebagai penduduk kota setempat, maka salatnya dilaksanakan secara sempurna. Tidak berlaku hukum qasar.

Ini pendapat rajih atau pendapat yang kuat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim. Seperti dijelaskan dalam kitab Fikih Sunnah, Jilid. 2, halaman 217, karya Dr Sayyid Sabiq.

Tetapi boleh seorang hanya melaksanakan salat qasar saja tanpa menjamak dalam perjalanan. Dikerjakan sesuai waktu salat. Misal salat Zuhur dua rakaat. Salat Asar qasar dua rakaat atau Isya dua rakat.

Boleh juga seseorang dalam safar menjamak salat tanpa qasar. Misal salat Zuhur dan Asar dijamak masing-masing dikerjakan empat rakaat.

Kondisi Boleh Salat Jamak

Dijelaskan dalam kitab Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam halaman 288–295 karya Albdul Azhim bin Badawi Al-Khalafi alasan kondisi dibolehkan salat jamak.

Pertama, Safar.

Hadis sahih dari Anas radhiyallaahu anhu:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلاَّمَ : إِذَا ارتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهِرِ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظَّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

Rasulullaah Saw apabila akan bepergian sebelum matahari bergeser ke arah barat, Nabi menangguhkan salat Zuhur, kemudian (saat tiba waktu Asar) Nabi berhenti singgah di suatu tempat, lalu menjamak kedua salat tersebut. Dan apabila matahari tergelincir sebelum berangkat, maka salat Zuhur, kemudian berangkat. (Muttafaqun alaihi)

Kedua, karena Hujan.

Berdasarkan hadis sahih dari Nafi’ radhiyallaahu anhu.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ اْلأُمَرَاءُ بَيْنَ الْمَغْرَبِ وَ الْعِشَاءِ فِيْ الْمَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ

Bahwasannya Abdullah bin Umar radhiyallaahu anhuma jika para penguasa menjamak salat antara Magrib dan Isya pada saat hujan, dia menjamak bersama mereka.

Ketiga, Kepentingan Mendadak.

Hadis sahih dari Ibnu Abbas radhiyallaahu anhuma, ia berkata,“Rasulullaah Saw pernah menjamak salat Zuhur dengan Asar di Madinah bukan karena takut dan bukan pula karena safar. “ Abu Zubair bertutur,” Saya bertanya kepada Sa’id, mengapa beliau Saw berbuat demikian itu? Maka jawabnya, saya pernah bertanya kepada Ibnu Abbas sebagaimana yang engkau tanyakan kepadaku tentang hal itu, maka jawab Ibnu Abbas:

أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ

“Rasusulullaah Saw tidak ingin memberatkan seorangpun dari kalangan umatNya.”

Dari hadis ini jumhur ulama berpendapat, salat jamak boleh bagi orang yang sakit. Dan salat jamak tidak boleh dilakukan tanpa ada uzur syar’i dan dengan syarat tidak menjadikannya sebagai kebiasaan secara terus menerus. Keterangan ini merujuk kitab Nailul Authar, jilid. 3, halaman 503 karya Al-Imam Muhammad Asy-Syaukani.

Kesimpulan

Hikmah salat jamak dan qasar memberikan keringanan (rukhsah) bagi umat Islam agar tetap menunaikan kewajiban salat di tengah kesulitan, perjalanan jauh, atau kondisi darurat tanpa merasa terbebani. Wallaahu ‘alamu bishshawwab.  []

Penulis : Ridwan Ma’ruf, Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf  PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, dan Spiritual Parenting Islam.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply