August 3, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tanpa Perlu Alat Setrum, Begini Cara Menangani Hama Tikus

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

ApakabarOnline.com – Hama tikus menyerang lahan pertanian hingga membuat petani gagal panen dan merugi telah lazim terjadi dimana-mana. Saat ini, kebanyakan pemilik lahan mengantisipasinya dengan memasang jebakan atau penghalau tikus yang dialiri setrum listrik.

Tikus memang berkurang, namun resiko bahaya yang dapat menghilangkan nyawa terbukti menjadi ancaman. Banyak petani dan warga yang tanpa sengaja menyentuk piranti tersebut meregang nyawa tersetrum arus yang dialirkan.

Kini, ada cara baru untuk menghalau hama tikus tanpa perlu mempertaruhkan nyawa manusia.

Menukil Warta Tani, untuk mengatasi ancaman serangan hama tikus tersebut, kelompok tani Karya Baru, Desa Belanti Siam rutin melakukan penanggulangan salah satunya dengan memasang pagar plastik.

Dari 80 ha lahan rawa yang dikelola, 80% dari luas lahan yang ada telah dipagar plastik disekeliling sawahnya masing-masing.

Langkah preventif petani kelompok tersebut patut diacungi jempol namun penerapan pengendalian yang telah dilakukan belum sempurna sehingga perlu diberikan pemahaman yang sesuai rekomendasi agar pengendalian tikusnya lebih efektif.

Dalam rangka memberi pemahaman yang tepat dalam pengendalian tikus, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) menyelenggarakan bimbingan teknis kepada 30 petani dari kelompok tani Karya Baru, di areal pertanaman Blok B Sekunder 30 pada Jumat (02/07/2021).

Bimbingan yang diberikan yakni teknik pengendalian dengan Trap Barrier System (TBS) dan Linier Trap Barrier System (LTBS).

Peneliti Balitbangtan Rahmawati selaku narasumber mengajak seluruh petani/peserta untuk memahami konsep reproduksi tikus, konsep TBS dan LTBS dari mulai praktik sampai penerapannya.

Diawali dengan penjelasan tentang teknik pengendalian dini seperti pengendalian populasi tikus sejak awal tanam sampai pra tanam yang terintegrasi dengan komponen-komponen teknologi pengendalianya.

Selain pengendalian dini, menurut Rahma, yang juga tidak kalah penting adalah dalam skala luas, teknik pengendalian secara massal dan serentak sangat strategis dalam menurunkan populasi tikus.

Berikutnya adalah pemahaman tentang pengendalian habitat tikus saat periode tertentu seperti pada periode sawah bera, olah tanah juga dijelaskan dalam bimtek tersebut.

Disebutkan, beberapa rekomendasi untuk meluruskan pemahaman petani tentang teknik pengendalian yang benar yaitu penggunaan/pemasangan TBS yang berfungsi menurunkan populasi tikus sejak tanam hingga panen.

Satu unit TBS berukuran 25cm x 25 cm bisa melindungi 10 ha tanaman padi. Namun, jika ancaman serangan tikus terjadi pada stadium padi bunting hingga menjelang panen dapat memasang LTBS, selain kegiatan fumigasi sarang dan konservasi musuh alaminya.

LTBS berfungsi sebagai penangkal dan penjebak tikus sawah sejak mulai awal tanam hingga panen. LTBS bekerja dengan menghalangi tikus yang akan memasuki lahan pertanaman padi diarahkan masuk ke dalam bubu perangkap.

Oleh karena itu LTBS dapat diandalkan untuk mencegah serangan tikus sejak tanam hingga panen dilahan petani Karya Baru.

LTBS berupa bentangan pagar plastik setinggi 60 -70 cm. Bubu perangkap LTBS direkomendasikan dipasang setiap 20 m berselang-seling agar mampu menangkap tikus dari arah habitat dan sawah.

Masalah yang terjadi pada petani kelompok Karya Baru adalah minimnya informasi tentang teknis penerapan LTBS yang tepat, sehingga muncul kekeliruan dalam teknis pemasangan pagar plastik yang belum dilengkapi dengan perangkap bubu.

Terjadi saat ini teknik pengendaliannya belum efektif. Untuk itu, disarankan melakukan teknik pengendalian dengan cara pasang TBS dan LTBS secara tepat agar serangan hama tikus dari berbagai penjuru bisa diatasi. []

Advertisement
Advertisement