June 13, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tetap di Rumah Atau Pergi ke Sekolah ? Bukan Pilihan Mudah

6 min read

Petugas kesehatan menyuntikan vaksin Tetanus Difteri (TD) kepada siswa saat kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di SD Negeri 1 Klakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (3/12/2020). Imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan TD yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali di sekolah yang berada di kaki Gunung Merapi tersebut untuk mencegah penyakit yang disebabkan infeksi. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/wsj.

ApakabarOnline.com – Pemerintah daerah diizinkan membuka kembali sekolah tatap muka pada Januari 2021. Begitulah kira-kira inti dari pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim akhir November 2020 lalu soal pembelajaran tatap muka peserta didik.

Mantan Bos Gojek itu hanya memberi catatan, keputusan membuka pelajaran tatap muka diserahkan kembali kepada tiga pihak, yakni pemerintah daerah, kantor wilayah, dan orang tua melalui komite sekolah (Antara, 2020). Sontak, pengumuman ini menimbulkan pro dan kontra. Ada orang tua yang setuju dan ada yang tegas menolak.

Pembukaan sekolah tatap muka di masa pandemi memang menjadi dilema. Jika sekolah tetap berlangsung secara daring, anak-anak bisa semakin lama kehilangan masa-masa emas untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Berada terlalu lama di dalam rumah juga dapat menimbulkan berbagai efek, mulai dari tertekan, stres, hingga tidak semangat untuk kembali bersekolah. Tak sedikit anak yang sudah terbuai dengan atmosfer rumah, serta tidak memahami pelajaran dengan baik. Istilahnya, sudah kadung mager (malas gerak-red).

Belum lagi, akses internet yang belum merata di berbagai wilayah. Jika pun akses internet lancar, ada dampak negatif yang mengintai akibat anak terlalu lama memandang gawai.

Hal lainnya, banyak orang tua pekerja yang harus berbagi waktu dan perhatian tambahan karena dipaksa menjadi “guru”. Ibu rumah tangga sekalipun, punya pekerjaan domestik rutin yang harus dirampungkan saban hari, bukan?

Artinya, dampak psikologis pun bakal dialami orang tua. Apalagi, tak semua orang tua punya kemampuan menjadi “guru”, baik dari sisi kompetensi akademik atau tingkat melek teknologi.

Itu pun jika orang tua masih punya waktu menjadi “guru”. Bagaimana dengan yang sama sekali tak memiliki waktu karena harus bekerja keras mencari nafkah sejak matahari merekah? Hampir dipastikan, anak, terutama di level pendidikan dasar, akan terabaikan, tak ada yang mengawasi kegiatan belajarnya.

Buat orang tua yang tak punya waktu menjadi “guru” atau sudah lelah harus berbagi waktu dan kesabaran, mungkin pernah berharap agar sekolah kembali dibuka. Namun, di balik itu semua, yakin lah, tetap ada kekhawatiran, sekalipun hanya sedikit, dari orang tua jika anak harus kembali pergi ke sekolah.

Kekhawatiran ini tentu bukan tanpa alasan. Pandemi yang masih merebak menjadi salah satu alasan kecemasan ini. Pembukaan sekolah tatap muka berpotensi menciptakan klaster baru penyebaran virus.

Harus diakui, siapa yang bisa memastikan protokol kesehatan ketat akan konsisten dijalankan di sekolah? Bagaimana dengan perjalanan dari rumah ke sekolah dan sebaliknya?

Jaga jarak? Pakai masker? Sering cuci tangan? Rasanya agak sulit diterapkan konsisten kepada anak-anak, khususnya di tingkat dasar, yang memang masih gemar bermain. Toh, orang dewasa saja acap kali lupa dengan aturan 3M yang selalu digaungkan di mana-mana.

 

Hasil Survei

Lalu bagaimana sebenarnya sikap orang tua dan guru menyikapi hal ini? Pada 27 November—1 Desember 2020, Visi Teliti Saksama melakukan survei mengenai pembukaan sekolah tatap muka di masa pandemi kepada 2.061 responden.

Responden terdiri dari orang tua murid (83,1%), guru (11,5%), dan guru sekaligus orang tua murid (5,5%). Responden didominasi oleh perempuan (56,5%), usia 24-40 tahun (53%), berdomisili di Jabodetabek (70,2%), dengan pendidikan terakhir tamat SMA (43%) dan tamat S1 (30%).

Dari survei yang dilakukan, diketahui sebagian besar responden sangat percaya akan adanya covid-19. Sebagian besar dari mereka juga sangat setuju bahwa covid-19 adalah penyakit yang berbahaya dan dapat menular. Selain sangat mengetahui cara penularan dan pencegahan covid-19, kebanyakan responden pun berpendapat, tindakan pencegahan penularan covid-19 penting dilakukan.

Terkait dengan rencana pembukaan sekolah tatap muka di masa pandemi, ternyata, sebesar 1.557 atau 75,5% responden setuju sekolah tatap muka dibuka kembali, sementara sisanya tidak setuju. Apa yang membuat mereka setuju sekolah tatap muka kembali dibuka? Kebanyakan dari mereka percaya ketatnya protokol kesehatan yang akan diterapkan di sekolah.

Sementara itu, dari 504 atau 24,5% responden yang tidak setuju sekolah tatap muka kembali dibuka, paling banyak berpendapat keadaan masih belum pulih dari pandemi. Alasan terbanyak lainnya adalah khawatir dengan risiko kesehatan anak-anak pada perjalanan pergi dan pulang sekolah, serta anak-anak dirasa belum teredukasi dengan baik mengenai protokol kesehatan.

Dapat disimpulkan, dengan pengetahuan responden yang sangat tinggi akan bahaya, cara penularan, dan cara pencegahan virus, sebagian besar responden tetap menyetujui pembukaan sekolah tatap muka pada Januari 2021. Hal ini karena mereka percaya penerapan protokol kesehatan di sekolah sangat ketat.

Apalagi, kebanyakan dari mereka juga tidak pernah terkena covid-19 hingga saat ini, serta tidak memiliki keluarga/kerabat yang pernah/sedang positif covid-19.

“Sekolah tatap muka membuat murid menjadi lebih mengerti dengan apa yang dipelajari, sekaligus menyegarkan kembali otak murid yang jenuh,” ujar seorang guru laki-laki tamatan SMA yang merupakan responden survei, pada wawancara tanggal 4 Desember 2020.

Dengan alasan tersebut, ia menyetujui sekolah tatap muka kembali dibuka. Ia pun berharap, pembukaan sekolah tatap muka membuat siswa dan siswi semakin semangat dalam belajar.

Meski ia percaya akan adanya covid-19, ia tidak begitu percaya dengan media yang menyebarkan berita tentang covid-19. Alasannya, gejala yang ditimbulkan oleh covid-19 seperti terlalu dibesar-besarkan.

Lain halnya dengan responden survei kedua, yang merupakan orang tua murid sekaligus guru tamatan S2/S3 berjenis kelamin perempuan. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa sekolah tatap muka belum waktunya dibuka.

Pertama, masyarakat di wilayah tempat tinggalnya tidak disiplin memakai masker, misalnya ketika ke warung atau minimarket. Kedua, belum ada sosialisasi protokol kesehatan dari sekolah berikut bagaimana skenario tatap muka tersebut.

Ketiga, anaknya yang masih kecil belum bisa disiplin dan akan mudah mencontoh orang lain yang mengabaikan protokol kesehatan. Mengenai pengalamannya dengan covid-19, responden kedua ini memiliki sejumlah rekan kerja yang diisolasi di Wisma Atlet, masuk ICU, hingga meninggal akibat covid-19.

Oleh karenanya, mengenai pembukaan sekolah tatap muka di masa pandemi, ia ingin memastikan vaksin keluar terlebih dahulu. Ia juga berharap, semua anak tetap memperoleh hak yang sama dalam belajar, baik secara daring maupun luring.

 

Asas Proximity

Responden kedua mengakui, pengetahuan dan pengalamannya terkait covid-19 berpengaruh terhadap sikapnya dalam menanggapi rencana pembukaan sekolah tatap muka. Ia merasakan betul dampak dari covid-19 membuat kantornya harus berkali-kali buka dan tutup.

“Apalagi ini bocah. Saya memilih sabar, anak biar sama saya. Sebagus apapun protokol kesehatannya, saya sadar anak saya masih ngebodor, jadi lebih baik menunggu sebentar daripada kenapa-kenapa. Meski tidak pernah terkena covid- 19, saya merasakan stigma terhadap yang sudah pernah positif. Saat kerja dijauhi, mau ke mana-mana susah. Amit-amit,” bebernya.

Sama halnya dengan responden ketiga, yakni seorang guru laki-laki dengan pendidikan terakhir S1. Ia mengaku, wilayah tempat tinggalnya termasuk dalam zona kuning. Selain itu, kerabatnya yang merupakan perawat di rumah sakit swasta di Jakarta terkena covid-19.

“Anak-anak masih belum paham betul bahaya dari covid-19. Ditambah, adanya interaksi antara sesama anak yang memungkinkan terjadinya penularan. Selain itu, hal yang menjadi peluang besar penularan covid-19 adalah perjalanan pulang dan pergi sekolah,” ungkapnya. “Anak juga cenderung jajan sembarangan ketika di luar. Daya tahan anak tidak begitu kuat, berbeda dengan orang dewasa pada umumnya.”

Responden ketiga ini berharap, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menyiapkan protokol kesehatan yang baik dan matang untuk mencegah terjadinya klaster baru.

“Pengetahuan dan pengalaman saya sangat memengaruhi sikap saya terhadap rencana pembukaan sekolah tatap muka. Sebab, saya melihat fakta yang terjadi di lapangan,” tambahnya. “Setiap orang harus mendapatkan pengetahuan yang cukup mengenai risiko apabila sekolah tatap muka kembali dibuka. Juga, ada upaya penanggulangan apabila kasus malah meningkat setelah sekolah tatap muka dibuka.”

Melihat pendapat-pendapat di atas, bisa dibilang, asas proximity atau kedekatan dan pengalaman dengan covid-19, bisa memengaruhi persepsi orang terhadap ancaman virus ini. Termasuk dalam hal berpendapat soal perlu tidaknya sekolah kembali dibuka.

Dilema semacam ini memang seakan tak berkesudahan. Setiap keputusan akan kerap mendatangkan pro kontra. Setiap solusi yang ada pun mungkin tetap memiliki ketidaksempurnaan. Penting diingat, tak ada kebijakan yang bisa memuaskan semua orang.

Namun, yang pasti, kita terus berharap selalu ada koordinasi yang baik dan lancar antara pemerintah daerah, kantor wilayah, dan para orang tua murid, dalam merancang keputusan pembukaan sekolah.

Jangan sampai, kebijakan pembukaan sekolah yang dikembalikan ke pemerintah daerah dan orang tua siswa, hanya bentuk keputusasaan pemerintah dalam memutuskan pilihan yang dilematis. Apalagi sekadar melemparkan tanggung jawab agar tak dipersalahkan di kemudian hari.

Kalaupun hasil survei menyebutkan lebih banyak responden yang menginginkan sekolah kembali dibuka, diharapkan pilihan tersebut bukan bentuk kejenuhan masyarakat akan kondisi yang tak pasti. Vaksin sudah mulai datang bukan?

Bagaimanapun juga, suatu kebijakan harus didasari oleh pertimbangan dan kajian yang matang. Termasuk menghitung manfaat dan mudarat yang ada. Keputusan logis dan realistis mesti jadi pijakan taktis di masa krisis.

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Penulis Gisantia Bestari, Peneliti Muda Visi Teliti Saksama

Advertisement
Advertisement