April 17, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tradisi Turun Temurun, Membuat Kue Keranjang, Tapi Tidak dengan Keranjang

2 min read

SEMARANG – Kue Keranjang menjadi salah satu sajian wajib bagi umat Tionghoa saat merayakan tahun baru Imlek. Dinamakan sebagai Kue Keranjang karena dulu, proses pengukusan kue berbahan dasar tepung ketan dan gula tersebut menggunakan keranjang bambu.

Namun kini, karena mempertimbangkan daya tahan alat, proses pengukusan diganti menggunakan cetakan berbahan logam.

“Ngukusnya ini kan lama, kalau pakai keranjang bambu nanti cepet rusak. Makanya sekarang diganti pakai cetakan dari logam, biar lebih awet,” ujar Tri Susilowati (78) penjual kue keranjang di Desa/Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara.

Sebab proses pengukusan kue keranjang sendiri memakan waktu 7-8 jam. Sumito (55), pembuat kue keranjang milik Susi bercerita, ia biasanya mulai membuat adonan dari pukul 06.00 WIB.

Adonan yang terdiri dari tepung ketan ditambah gula putih dan gula merah agar menimbulkan warna kecoklatan ia campur menjadi satu terlebih dahulu, kemudian di masak selama satu jam.

Adonan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan dikukus selama 7 jam. Setelah diangkat dari kukusan, adonan kemudian dimasukkan ke dalam keranjang logam dan dibiarkan sampai dingin.

Untuk mempercantik tampilan, adonan kue keranjang biasanya diberi tambahan pewarna makanan ke dalam adonan. Dalam sehari, Sumito bercerita mampu membuat 45 kg adonan kue keranjang. Dimana setiap potong kue keranjang memiliki berat 250 kg.

“Kalau harganya, Rp30 ribu per kilo, kalau per biji ya Rp7.500,” ujar Tri Susilowati.

Lebih lanjut Susi bercerita, bahwa ia hanya membuat kue keranjang pada saat mendekati tahun baru Imlek.

“Kalau sembahyang Imlek itu kan Kue Keranjang sudah jadi tradisi dan harus ada, jadi bikinnya ya paling sebulan atau 15 hari menjelang Imlek. Karena kalau sehari-harinya kan nggak ada yang pesen,” katanya.

Ia sendiri, baru tiga tahun menjual kue keranjang setiap Imlek. Sebab dulunya, yang menjual makanan tersebut adalah neneknya.

“Karena banyak temen-temen yang minta akhirnya saya bikin dan dijual,” pungkasnya. []

Sumber Beta News

Advertisement
Advertisement