September 17, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Trend Emak-Emak Pergi Menjadi PMI Memicu Meningginya Angka Gizi Buruk Balita

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

INDRAMAYU – Kabupaten Indramayu mencatatkan penyebab kasus terbanyak pada balita yang mengalami gizi buruk adalah pola asuh yang salah. Termasuk pola asuh itu dikarenakan sang ibu pergi ke luar negeri  menjadi pekerja migran Indonesia (PMI).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara, menyebutkan, berdasarkan pendataan pada 2020, jumlah balita di Kabupaten Indramayu mencapai 125.132 balita. Dari jumlah itu, ada 0,46 persen atau sekitar 575 balita yang berstatus gizi buruk.

Selain itu, dari 125.132 balita, tercatat ada 3,8 persen atau 4.755 balita yang berstatus gizi kurang. “Untuk tahun ini, belum diketahui karena penimbangan balita masih berjalan,’’ ujar Deden, Selasa (02/03/2021).

Deden menyebutkan, kegiatan penimbangan balita dilakukan pada Februari dan Agustus. Namun, akibat pandemi Covid-19, kegiatan penimbangan balita tak bisa dilakukan secara serentak. Deden mengatakan, keberadaan balita berstatus gizi buruk itu penyebab terbanyaknya adalah akibat pola asuh yang tidak tepat. Seperti misalnya, pemberian makanan yang terlalu dini ataupun tidak diberikannya air susu ibu (ASI) ekslusif.

Menurut Deden, pola asuh yang tidak tepat salah satunya dipicu oleh keberangkatan ibu dari ballita tersebut ke luar negeri untuk bekerja sebagai PMI. Akibatnya, balita tersebut diasuh oleh kakek/neneknya, yang tidak memberikan asupan makanan dengan gizi yang adekuat.

Selain pola asuh yang tidak tepat, lanjut Deden, gizi buruk pada balita juga disebabkan adanya penyakit penyerta. Penyakit itulah yang akhirnya membuat balita tersebut menderita gizi buruk.

Deden mengatakan, untuk mengatasi kondisi gizi buruk pada balita, dilakukan melalui program. Hal itu diawali dengan pelatihan kepada dokter umum, dokter anak, tenaga pelaksana gizi, bidan maupun kader untuk menyamakan persepsi mengenai penentuan gizi buruk dan gizi kurang. Setelah itu, dilakukan penimbangan pada balita setiap Februari dan Agustus.

Dari hasil penimbangan itu kemudian diperoleh data mengenai balita yang berstatus gizi buruk, gizi kurang ataupun stanting. Jika balita tersebut membutuhkan perawatan di rumah sakit, maka akan dirujuk ke rumah sakit. Setelah kondisinya membaik, maka akan dikembalikan ke puskesmas di wilayah masing-masing untuk pemantauannya.

“Puskesmas akan terus memantaunya selama tiga bulan,’’ terang Deden.

Sementara itu, kasus gizi buruk di antaranya dialami Uswa Aora Istiqomah, asal RT 05/01 Blok Gempol, Desa Sleman Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Di usianya yang kini sembilan tahun, berat badan bocah itu hanya 10 kg.

Tubuh Uswa kurus kering, seperti tulang yang terbungkus kulit. Bocah itu juga tidak bisa berjalan sehingga hari-harinya hanya dihabiskan dengan terbaring. Uswah tinggal bersama neneknya, Dayuni (57), yang hanya seorang buruh tani. Kedua orang tua Uswah sudah meninggal dunia. Bocah itu telah dirujuk ke RSUD Indramayu untuk menjalani perawatan pada Senin (01/03/2021).

‘’Gizi buruk yang dialami Uswa itu disebabkan oleh penyakit penyerta yang dideritanya,’’ ujar Deden.

Sumber Ayo Network

 

Advertisement
Advertisement