October 27, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Uang Berkurang, Panik [?] Giliran Umur yang Berkurang Mengapa Tetap Nyantai Nyantai Saja [?]

5 min read

MADIUN – Kita sering kali lebih mudah panik ketika uang berkurang daripada ketika umur berkurang. Ketika dompet kehilangan isinya, saldo rekening menipis, atau pengeluaran membengkak, pikiran kita segera sibuk mencari jalan keluar.

Kita menghitung ulang pengeluaran, menyusun strategi penghematan, bahkan rela bekerja lebih keras untuk mengembalikan apa yang hilang.

Namun, ketika satu hari berlalu, kita sering melewatinya tanpa banyak pertanyaan. Ketika usia bertambah, kita merayakannya dengan ucapan selamat, lilin, dan doa panjang umur. Padahal bertambahnya usia sekaligus berarti berkurangnya jatah waktu hidup di dunia.

Ada ironi dalam cara kita memperlakukan dua hal tersebut. Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Harta yang berkurang masih bisa diusahakan. Namun, waktu yang telah berlalu tidak pernah dapat dibeli, ditukar, atau diputar kembali.

Kita begitu takut kehilangan uang, tetapi sering tidak merasa khawatir ketika kehilangan kesempatan untuk berbuat baik.

Waktu Lebih Berharga
Allah mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu melalui surah Al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.

Surah yang pendek ini mengandung pesan yang mendalam. Waktu terus berjalan, dan manusia berada dalam kerugian apabila hidupnya berlalu tanpa iman, amal saleh, serta kesediaan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kerugian terbesar bukan sekadar kehilangan kesempatan memperoleh kekayaan, jabatan, atau popularitas. Kerugian yang lebih mendasar adalah ketika usia terus bertambah, tetapi kualitas diri tidak berkembang.

Kesempatan berbuat baik terbuka, tetapi terus ditunda. Kewajiban kepada Allah serta sesama manusia diabaikan karena terlalu sibuk mengejar urusan dunia.

Kita sering berkata, “Nanti saja kalau sudah longgar.” Nanti kalau pekerjaan selesai, nanti kalau sudah sukses, nanti kalau sudah punya banyak uang. Padahal tidak ada jaminan bahwa kesempatan itu akan selalu tersedia.

Hidup Sibuk Mengejar Uang
Bekerja, mencari nafkah, menuntut ilmu, dan membangun masa depan merupakan bagian penting dari kehidupan. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan urusan dunia. Namun, kesibukan seharusnya menjadi sarana untuk menjalani kehidupan yang bermakna, bukan alasan untuk melupakan tujuan hidup.

Jangan sampai kita memiliki banyak uang, tetapi tidak punya waktu untuk keluarga. Jangan sampai kita sibuk mengejar pencapaian, tetapi lupa memperbaiki ibadah dan akhlak. Jangan sampai kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir layar ponsel, sementara membaca Al-Qur’an, belajar, membantu orang tua, atau menyapa orang yang membutuhkan perhatian selalu kita tunda.

Waktu tidak selalu hilang melalui peristiwa besar. Ia bisa berlalu melalui kebiasaan kecil yang tidak pernah kita evaluasi.

Bukan berarti beristirahat, menikmati hiburan, atau menggunakan media sosial adalah kesalahan. Semuanya dapat menjadi bagian dari kehidupan yang seimbang. Persoalannya muncul ketika kita kehilangan kendali, sehingga hari-hari berlalu tanpa arah dan hal-hal penting terus tersisihkan.

Lima Langkah Harian
Menghargai waktu tidak cukup hanya dengan mengakui bahwa umur terbatas. Kesadaran itu perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata. Tidak harus mengubah seluruh rutinitas sekaligus. Lima langkah sederhana berikut dapat menjadi awal.

Pertama, awali hari dengan menentukan tiga prioritas.
Sebelum sibuk membuka ponsel atau menanggapi berbagai pesan, luangkan lima menit untuk menentukan tiga hal penting yang ingin diselesaikan hari itu. Misalnya, menuntaskan tugas pekerjaan, mempelajari sesuatu yang baru, dan meluangkan waktu bersama keluarga.

Tiga prioritas ini membantu kita membedakan kegiatan yang benar-benar penting dari hal-hal yang sekadar menyita perhatian. Jika semuanya dianggap mendesak, kita berisiko menghabiskan waktu untuk banyak hal tanpa menyelesaikan sesuatu yang berarti.

Kedua, sediakan waktu khusus untuk ibadah dan memperbaiki diri.
Jadikan shalat sebagai pengingat untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Sisihkan pula waktu untuk membaca Al-Qur’an, berdoa, atau mempelajari ajaran Islam. Tidak harus langsung dalam durasi panjang. Mulailah sesuai kemampuan, kemudian jaga konsistensinya.

Ibadah bukan sekadar kegiatan yang diselipkan ketika ada waktu luang. Ia merupakan bagian penting dari kehidupan yang membantu manusia menjaga arah, niat, dan tanggung jawabnya.

Ketiga, batasi waktu yang terbuang tanpa disadari.
Coba periksa berapa lama waktu dihabiskan untuk media sosial, menonton video pendek, atau berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Jika kebiasaan itu mulai mengganggu pekerjaan, belajar, ibadah, atau istirahat, tentukan batas yang realistis.

Sebagai langkah awal, gunakan waktu 20–30 menit untuk menyelesaikan satu tugas tanpa gangguan ponsel. Setelah itu, beristirahatlah sejenak sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya.

Tujuannya bukan menjauhi teknologi, melainkan memastikan bahwa kita menggunakan teknologi secara sadar, bukan terus-menerus dikendalikan olehnya.

Keempat, lakukan satu kebaikan setiap hari.
Kebaikan tidak selalu membutuhkan uang besar atau tindakan luar biasa. Membantu orang tua, mendengarkan cerita teman, menepati janji, menyelesaikan pekerjaan dengan jujur, atau memberikan bantuan sesuai kemampuan merupakan bentuk pemanfaatan waktu yang bernilai.

Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu sukses untuk bermanfaat. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk memperhatikan orang-orang terdekat.

Terkadang, hal sederhana yang kita lakukan hari ini menjadi kenangan berharga bagi orang lain.

Kelima, tutup hari dengan evaluasi singkat.
Sebelum tidur, luangkan lima menit untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah saya selesaikan hari ini? Apa yang saya pelajari? Kebaikan apa yang sudah saya lakukan? Apa yang perlu diperbaiki besok?

Evaluasi ini bukan untuk menyalahkan diri atas setiap kekurangan. Sebaliknya, ia menjadi kesempatan untuk belajar, bersyukur, dan memperbaiki arah kehidupan.

Jika hari ini belum berjalan sesuai rencana, masih ada kesempatan untuk memperbaiki langkah selama Allah masih memberikan kehidupan. Namun, jangan pula menjadikan kesempatan esok sebagai alasan untuk terus menunda kebaikan hari ini.

Menghargai Waktu, Manfaatkan Uang
Kelima langkah tersebut tidak menuntut kita menjadi manusia yang selalu sibuk. Menghargai waktu bukan berarti mengisi setiap menit dengan pekerjaan atau merasa bersalah ketika beristirahat.

Tubuh membutuhkan istirahat, pikiran membutuhkan jeda, dan keluarga membutuhkan kehadiran kita. Bahkan, istirahat yang cukup dapat membantu kita menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.

Yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat, tetapi jangan pula mengabaikan tanggung jawab dunia yang menjadi amanah kita.

Hidup bukan perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin harta, melainkan perjalanan untuk memberikan makna pada setiap kesempatan yang Allah anugerahkan.

Uang yang hilang mungkin bisa dicari kembali. Namun, umur yang hilang tidak pernah kembali. Maka, sebelum hari ini berakhir, tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sudah saya lakukan dengan umur yang Allah titipkan hari ini?

Tidak perlu menunggu tahun baru untuk berubah. Tidak perlu menunggu usia bertambah untuk menjadi lebih bijak. Mulailah hari ini, dari hal kecil yang bisa dilakukan sekarang.

Semoga kita tidak hanya pandai menghitung uang yang tersisa, tetapi juga semakin bijak menggunakan waktu yang masih ada.

Sebab kelak bukan sekadar panjangnya usia yang menjadi perhatian, melainkan bagaimana kita mengisinya dengan iman, amal saleh, dan kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply