Waspada, Rupiah Dekati Rp17.000 Per Satu Dolar
2 min read
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) merespons nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir terus melemah dan mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pihaknya terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar, sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Erwin kepada media, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Rabu (14/1), rupiah terpantau menguat tipis sebesar 0,04% atau 6 poin di pasar spot. Meski menguat tipis, namun rupiah telah berada di level Rp16.871 per dolar AS.
Erwin menjelaskan, pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
Adapun, tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal 2026.
“Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date (ytd),” terangnya.
Meski demikian, dia menilai, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.
“Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder,” imbuhnya.
Selain itu, dia menambahkan, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tecermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah sekitar 72 bps.
Dia juga menyebut, ketahanan eksternal RI tetap baik, tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.
Erwin melanjutkan, Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” pungkasnya. []
