20 Ribu-an Pekerja Migran di Singapura Dikarantina di Tempat yang Rentan Menularkan Virus Corona

Feature Image 20 Ribuan Pekerja Migran di Singapura Dikarantina di Tempat yang Rentan Menularkan Virus Corona (foto Reuters.com)
Feature Image 20 Ribuan Pekerja Migran di Singapura Dikarantina di Tempat yang Rentan Menularkan Virus Corona (foto Reuters.com)
Prime Banner

SINGAPURA – Singapura merupakan salah satu negara tujuan pekerja migran dari berbagai negara, salah satunya termasuk Indonesia. Keberadaan pekerja asing di berbagai sektor di Singapura membuat di negara tersebut dengan mudah melihat, bertemu pekerja migran.

Dalam kondisi memerangi wabah corona saat ini, otoritas Singapura menyatakan telah mengkarantina 20 ribuan pekerja migran di negara tersebut di beberapa lokasi.

Persisnya, 19.800 pekerja asing yang ditempatkan di Asrama S11 @ Punggol dan asrama Westlite Toh Guan akan dikarantina di kamar mereka selama 14 hari ke depan, kata satuan tugas menteri untuk penangangan COVID-19 pada Ahad, dikutip dari Channel News Asia, 6 April 2020.

Kedua asrama berjumlah total 90 kasus COVID-19 sejauh ini, dengan klaster yang lebih besar ada di Asrama S11.

“Tujuan utama dari semua tindakan ini adalah untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan semua orang. Bukan hanya warga negara Singapura, tetapi juga pekerja asing yang ada di sini, membantu perekonomian kita, dan majikan mereka,” kata Menteri Tenaga Kerja Singapura Josephine Teo.

“Kami ingin memberi pekerja asing jaminan bahwa tindakan ini diambil demi kepentingan mereka, dan kesejahteraan mereka,” katanya pada konferensi pers.

Suasana di dua asrama yang terisolasi itu dilaporkan stabil dan pekerja umumnya memahami perlunya tindakan pencegahan ini, kata wakil sekretaris tempat kerja Kementerian Tenaga Kerja Jason Chen.

Makanan gratis dan goodie bag berisi masker, termometer, hand sanitizer dan makanan ringan juga diberikan kepada para pekerja.

Sementara pekerja yang menunjukkan gejala virus Corona telah diisolasi.

Langkah-langkah pencegahan juga telah diambil untuk melindungi pekerja yang sehat, dengan akses ke fasilitas rekreasi diatur untuk mengurangi berbaurnya para pekerja.

Pergerakan antar blok dilarang dan pekerja disarankan untuk menghentikan interaksi sosial dengan orang lain yang tidak tinggal di ruangan atau lantai yang sama, kata Kementerian Kesehatan dan Kementerian Tenaga Kerja.

Sebagai dukungan selama masa karantina, pekerja di dua asrama ini juga akan menerima dukungan medis di tempat dan penyaringan kesehatan yang ditingkatkan, termasuk memeriksa dan melaporkan suhu mereka dua kali sehari dan pemantauan berkala untuk gejala demam dan pernapasan.

Mereka yang sakit akan diisolasi dan diperiksa oleh tenaga medis untuk tindakan lebih lanjut.

Layanan pengiriman uang juga akan difasilitasi di lokasi karena pihak berwenang memahami bahwa penting bagi pekerja untuk tetap dapat melakukan pengiriman uang ke rumah, kata Menteri Teo.

Pekerja yang terkena dampak tidak akan pergi bekerja, tetapi akan terus dibayar. Masa karantina akan dianggap sebagai cuti rawat inap yang dibayar, yang merupakan bagian dari kelayakan cuti mereka berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Asing. Majikan dapat mengklaim tunjangan karantina virus Corona tenaga kerja asing harian sebesar S$ 100 atau Rp 1,2 juta.

Namun, kondisi asrama dilaporkan tidak layak. Setidaknya enam pekerja di S11 Dormitory @ Punggol, di mana ada 63 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, mengatakan kepada The Straits Times bahwa kamar-kamar dipenuhi dengan kecoak dan toilet meluap. Pekerja harus mengantre untuk makanan tanpa langkah-langkah sosial untuk memisahkan mereka.

Asrama lain adalah Westlite Toh Guan, di Toh Guan Road East, di mana sekitar 6.800 pekerja migran telah diberitahu untuk tinggal di kamar mereka selama 14 hari.

Langkah-langkahnya adalah melindungi lebih banyak pekerja serta masyarakat luas dari infeksi, kata satuan tugas antar kementerian kemarin.

Tetapi para pekerja khawatir tentang kondisi tempat tinggal mereka saat ini.

“Ada banyak kecoak di dapur dan juga di kamar kami. Urinal di toilet dipenuhi dengan urin dan para pekerja menginjak urin dan kemudian berjalan ke kamar mereka,” kata warga negara India bernama Venkate, 34 tahun.

Pihak berwenang Singapura mengatakan mereka akan terus memantau situasi dan akan membangun lebih banyak asrama karantina virus Corona sebagai area isolasi bila perlu.

Pihak berwenang sedang melihat berbagai pilihan asrama karantina lain untuk tenaga kerja asing, seperti blok HDB yang kosong, menurut Menteri Pembangunan Nasional Lawrence Wong.

Wong menekankan bahwa pekerja asing tidak “secara inheren” berada pada risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk setempat.

“Ini bukan masalah menargetkan kelompok tertentu … Masalah yang kita hadapi di sini adalah bahwa asrama pekerja asing sendiri sekarang telah muncul sebagai sekelompok infeksi, vektor baru untuk penularan, terlepas dari tindakan pencegahan yang telah kita ambil,” katanya.

Hingga 6 April 2020, Singapura mencatat 1.309 kasus virus Corona dan 6 kematian menurut John Hopkins University, Worldometers, dan situs Kementerian Kesehatan Singapura. []

You may also like...