Aktivitas di Situbondo Tetap Normal Pasca Gempa 6,3 SR

Prime Banner

SITUBONDO – Masyarakat Kabupaten Situbondo, Jawa Timur (Jatim), seolah tak terpengaruh oleh gempa bumi 6,3 skala Richter yang terjadi pada Kamis (11/10/2018) dini hari WIB. Aktivitas warga sehari itu kembali normal seperti sedia kala.

Laman RRI melaporkan aktivitas normal warga juga termasuk di pasar. Misalnya di Pasar Senggol, kegiatan jual beli berjalan seperti biasa.

Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi, pun menjelaskan gempa tidak merusak bangunan atau menimbulkan korban jiwa di wilayahnya. Dampak gempa memang tak begitu menganggu Situbondo, melainkan Sumenep di Pulau Madura.

Menurut keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak terparah terjadi di Kepulauan Sapudi. Maklum, wilayah ini dekat dengan pusat gempa.

Episentum gempa terletak di 56 kilometer sebelah timur laut Situbondo. Kedalaman pusat gempa 12 kilometer, tapi tidak menimbulkan tsunami. Di Pulau Sapudi dan Kalianget, Sumenep, guncangan gempa masuk skala intensitas IV-V MMI (sedang).

Menurut lansiran detikcom, Jumat (12/10), empat orang kehilangan nyawa akibat peristiwa ini. Tiga orang adalah warga Sumenep dan satu orang dari Jember, Jatim.

Sementara di Sumenep, delapan orang luka-luka. Sedangkan total 51 rumah, delapan fasilitas pendidikan, tujuh rumah ibadah, dua pusat kesehatan, satu gedung kantor dan toko mengalami kerusakan.

Detailnya; 25 rumah berada di Kepulauan Sapudi dan 16 rumah lain berada di Jembrana, Bali. Gempa ini memang menggoyang tiga provinsi; Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Di Jatim, bangunan rusak akan ditanggung dan diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov). Hal itu disampaikan langsung oleh Gubernur Soekarwo saat meninjau wilayah Sumenep bersama Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya.

Adapun untuk keluarga korban jiwa, Pemprov memberi santunan sementara Rp5 juta. “Semuanya kita informasikan, semua rumah rusak tanggung jawab Pemerintah Provinsi,” ujar gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini.

 

Tak berhubungan dengan gempa Palu

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa di Situbondo tidak berhubungan dengan lindu di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, pada 28 September lalu.

“Beda sumbernya,” kata Sutopo dipetik Liputan6.com.

Sementara menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisik (BMKG), lindu di Situbondo berjenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar (patahan) lokal di dasar laut. Hasil analisis menunjukkan gempa ini dipicu oleh deformasi batuan kerak dangkal dengan mekanisme naik (thrust fault).

BMKG pun menjelaskan bahwa patahan di sekitar Situbondo punya catatan seismik rendah (low seismicity). Alhasil para ahli geologi pun tertarik untuk melakukan penelitian dan kajian lebih lanjut untuk menjawab apakah ada sesar aktif baru.

Hasil kajian sementara menunjukkan jurus sesar (strike) gempa ini mirip dengan mekanisme sumber beberapa gempa yang terjadi di utara Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores dalam dua bulan belakangan.

BMKG akan mengkaji dan menganalisis kaitan sesar di Situbondo dengan aktivitas sesar naik Flores yang menyebabkan gempa Lombok pada 29 Juli silam.

Di sisi lain, ahli geologi Rovicky Dwi Putrohari dalam tulisan pada laman blog pribadinya, patahan di Situbondo bernama sesar Kambing. Posisi geografisnya memang hampir searah dengan sesar naik Flores.

Peta tektonik yang dibuat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada 2008 menunjukkan bahwa lokasi sesar Kambing berada di barat sesar naik Flores. Sementara sesar RMKS berada di utara sesar naik Flores.

“Memang dari tatanan tektonik saat ini menjadi seolah-olah Sesar Kambing ini sama atau terusan dari Sesar Flores,” tulis Rovicky yang juga Dewan Penasihat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).[]

You may also like...