AKU, SANG PEMUJA ”MLM”

Prime Banner

Jauh sebelum banyak iklan yang menyatakan MLM (Multi Level Marketing) adalah bisnis palsu, abal-abal, dan bohong, aku sudah lebih dulu bergelut di bidang ini. Sebut saja nama bisnis MLM itu QQ.

Ya, aku sudah termakan janji-janji palsu dari sang sponsor, atasan atau apalah namanya, bahwa nanti aku akan mendapatkan kapal layar saat sudah berbintang emas. Namun, dalam praktek, aku hanya mentok di bintang diamond atau berlian. Terus, apa saja yang sudah aku raih? Mobil? Belum. Sawah? Juga belum. Apalagi rumah…

Aku hanya bisa memandang iri teman-teman yang bekerja di Hong Kong. Tanpa tergiur dengan bisnis abal-abal itu, mereka tampak lebih bahagia ketimbang aku. Aku sadar, lidahku telah banyak berbuat dosa. Utamanya ketika ada seseorang – tanpa berpikir dua kali – langsung mengambil pinjaman di bank untuk masuk menjadi member kami. Bergabung menjadi downline dalam jaringan MLM kami. Katanya, untuk memulai sesuatu itu jangan setengah-setengah.

Astaga naga… Dia betul, teman. Kita memang harus fokus dan total saat merintis dan melakukan sesuatu. Apalagi usaha mandiri dengan modal sendiri, betapa nikmatnya? Lalu, sikap nekatnya itu tidak hanya berhenti di situ. Ia meminjam uang lagi ke bank, lagi dan lagi, hingga ketahuan majikan dan ia akhirnya dipecat.

”Kamu tidak salah, Kak. Yang salah total itu aku. Seharusnya aku lebih memikirkan akibatnya. Doakan saja aku segera mendapatkan majikan dan hidup di Hong Kong dengan normal,” tuturnya sambil memelukku dan pamit ke kantor agen di Central sana.

”Semoga saja tidak ada lagi orang yang mencariku dengan keluhan dan menyalahkanku, karena telah menjerumuskan mereka pada harapan semu lewat kata-kataku yang mempesona. Tuhanku… maafkan hamba-Mu yang nista ini.”

Dari kejadian itu, aku mulai memikirkan masa depan. Masak sih sudah belasan tahun hidup di negeri rantau tidak ada hasil kerja yang terlihat? Aku mulai mendekati masjid, belajar apa saja di sana. Mulai menabung dan mengirim sebagian gaji kepada orangtua.

”Alhamdulillah, akhirnya kamu ingat jalan pulang, Nak… Ibu dan Ayah hanya bisa berdoa. Jaga dirimu di sana baik-baik, ya? Tahun depan kakakmu menikah, kalau bisa kamu pulang,” pinta Ibu saat aku (akhirnya) menelepon beliau ke kampung halaman.

Malu, semalu-malunya, saat mengenang betapa congkaknya aku selama ini kepada keluarga. Melupakan mereka semua dengan dalih sibuk mengembangkan bisnis MLM.

Akan tetapi, tidak setetes pun mereka berniat memarahiku, si bungsu yang memang sejak kecil sudah bandel, keras kepala, dan egois. Apalagi kakakku yang berhasil menunjukkan pada adiknya ini bahwa tanpa merantau pun ia sudah memiliki rumah dan pekerjaan yang baik. Fiuh…!

”Iya, Bu. Nanti akan Nia usahakan untuk pulang. Mohon doanya semoga segalanya dimudahkan,” jawabku pada Ibu sambil menahan sesak di dada. Airmataku sudah hampir tumpah.

”Kamu adalah adik kakak satu-satunya, Nia. Kakak yakin kamu akan dewasa setelah kejadian-kejadian yang tanpa kamu duga akan berbalik menyerangmu itu. Kakak doakan kamu segera meniti jalan yang diridhai oleh-Nya. Bekerja halal tanpa memperdayai orang lain dan segera menemukan pujaan hati. Oh iya… Kakak tahun depan menikah, kamu bisa kan menyempatkan pulang pas hari sakral kakak itu?”

Mendengar ucapan kakakku, airmata segera saja banjir membasahi wajah kumalku. Ups, ingusku pun berasa mengejek kegagalan dan kecongkakanku. Hanya Ayah yang tidak bicara padaku hari ini. Semoga suatu hari aku memiliki keberanian untuk berbicara kepada Ayah, pahlawan tanpa tanda bintang itu.

”InsyaAllah, Kak.” Hanya itu jawabanku sambil menutup telepon.

Sejak hari itu, Sang Pemuja MLM ini sudah membulatkan tekad untuk menabung dan memiliki sebidang tanah, untuk rumah… Aku ingin membangunnya dengan suami kelak. Agar ia merasa dihargai keberadaannya sebagai kepala rumah tangga, imam keluarga.

Lalu, memulai liburan dan mengisi waktu dengan kebaikan. Meski sedikit, tertatih-tatih dan berat, aku yakin sebuah niat baik akan bermuara pada kebaikan. Maafkan aku ya, sahabat, yang telah memberi banyak harapan palsu. Semoga kalian semua berhasil dan pulang ke Indonesia membawa sekoper dolar yang berkah dan halal. Aamiin.

[Dituturkan Nia Diamona kepada Anna Ilham dari Apakabar Plus]

 

You may also like...