Alhamdulilah, Aku Bebas dari Incaran HIV Setelah Istriku Menggugat Cerai dari Hong Kong

Prime Banner

”Meski diperbolehkan, perceraian memang tidak disukai Allah. Namun sebagai manusia biasa, setelah sekian tahun selalu berbenturan dengan tebalnya tembok jahiliyah yang setiap hari terus dipertebal istriku, aku menyimpulkan, perceraian adalah pilihan yang lebih baik,” ujar Teguh Riyanto saat mengawali percakapan dengan ApakabarOnline.com.

Saat mengawali kehidupan berumah tangga, Teguh mengaku, ia telah keliru menikahi seorang perempuan yang di kampung tempat tinggal mereka: Gondangrejo, Kab. Karanganyar, dikenal sebagai gadis yang ”tukang ngeluyur”.

”Tetapi karena cinta dan keseriusan dia untuk berubah menjadi perempuan salihah, akhirnya aku menutup mata dan telinga dengan olokan lingkungan. Aku serius menikahi dia meskipun, ternyata benar sesuai pengakuannya, saat malam pertama, dia sudah tidak perawan,” lanjut Teguh.

Teguh adalah mantan pekerja migran Indonesia (PMI) Malaysia, yang statusnya sekarang juga sudah mantan suami dari seorang PMI Hong Kong bernama Sekartaji (bukan nama sebenarnya – Red), asal Sragen, Jawa Tengah. Teguh pun mengaku sangat bersyukur, dirinya digugat cerai Sekartaji dari Hong Kong melalui jasa seorang pengacara. Pasalnya, berkat gugatan tersebut, ia merasa hidupnya terselamatkan dari paparan virus memalukan, HIV.

Teguh melanjutkan kisahnya. Pada 2017, saat hubungan dirinya dengan Sekartaji mulai retak, sang istri pernah tertangkap basah sedang melakukan adegan intim dengan seorang pria di sebuah hotel di kawasan Sragen. Belakangan Teguh mengetahui, lelaki tersebut merupakan selingkuhan istrinya.

”Waktu itu saya masih di Malaysia. Istri saya pulang dari Hong Kong tanpa memberitahu saya. Dan, dia malah ngamar dengan selingkuhannya. Tertangkap basah pula sedang berzina,” lanjut Teguh.

Atas saran beberapa teman sesama PMI di Malaysia, Teguh mulai berpikir untuk melepaskan ikatan suci kehidupan rumah tangga dengan Sekartaji. Sampai kemudian, Teguh pun berbulat tekad untuk mengakhiri pernikahannya. Ia berencana akan mengurus perceraian dengan Sekartaji saat ia sudah pulang ke Karanganyar.

Namun, kenyataan berkehendak lain. Sebelum Teguh pulang kampung, surat panggilan untuk menghadiri sidang perceraian sudah lebih dulu datang. Ternyata, Sekartaji telah duluan melayangkan gugatan cerai kepadanya. Surat panggian dikirim ke rumah Teguh di Karanganyar.

Dua bulan berselang, putusan pengadilan telah keluar. Menetapkan Teguh Riyanto dengan Sekartaji sudah bukan suami istri lagi. Keputusan tersebut diperkuat dengan data dan fakta yang disampaikan Teguh dalam persidangan kedua yang ia hadiri.

Sejak 2017, Teguh resmi berstatus duda dengan segala perasaan bahagia. Sebab, ia merasa terbebas dari berbagai gundah gulana tekanan batin, seperti saat masih menjadi suami Sekar. Teguh mengaku bisa lebih fokus bekerja di Malaysia. Lebih kreatif dalam menggagas dan mengembangkan rencana-rencananya. Bahkan merasa lebih nyaman, sehingga berat badannya naik beberapa kilogram.

Menjalani hari sebagai duda, bayangan Sekartaji pelan-pelan menjauh dari kehidupannya. Bahkan, sudah menghilang dari ingatan dan pembicaraan sehari-hari. Sampai suatu ketika, awal tahun 2019, Teguh mendengar kabar, lelaki selingkuhan mantan istrinya dikabarkan positif mengidap HIV.

”Saya kaget mendengar kabar tersebut. Andaikata Allah SWT tidak menyelamatkan saya dengan datangnya kabar penangkapan basah dan datangnya surat gugatan cerai, mungkin saya bisa juga tertular virus memalukan itu,” kenangnya.

Teguh mengetahui hal itu lewat salah seorang temannya yang, tanpa sengaja, menjenguk seseorang yang juga menderita virus yang sama. ”Saya tidak tahu apakah di antara mereka masih memiliki hubungan atau tidak. Yang pasti, lelaki itu betul-betul selingkuhan mantan istri saya yang tertangkap basah di hotel tiga tahun lalu,” lanjutnya.

Saking kaget sekaligus bersyukur terhindar dari ancaman HIV, yang mungkin saja akan sampai pada dirinya jika masih beristrikan Sekartaji, Teguh pun berinisiatif menggelar syukuran dengan teman-temannya sesama PMI. Syukuran telah berlangsung beberapa hari lalu, di sebuah perkebunan kelapa sawit di kawasan Simpang Renggam, Bandar Putra, Johor Bahru – Malaysia, tempatnya bekerja. ”Ini acara buka puasa bersama dengan teman-teman, sekaligus syukuran,” cetusnya.

Teguh menyadari, peristiwa seperti yang ia alami dalam berumah tangga sejatinya bisa dan banyak menimpa pasangan suami istri lainnya. Baik dari kalangan pekerja migran maupun yang bukan pekerja migran. Yang terang, sebagai pekerja migran Indonesia, Teguh berharap, setiap PMI seyogianya setia dan serius membina hubungan dengan suami atau istri masing-masing.

Melalui ApakabarOnline.com, Teguh juga berbagi pesan, pengalaman, dan harapan lewat sambungan telepon. ”Kepada semua pembaca ApakabarOnline.com, terutama para TKI dan TKW, saya berharap, apa yang saya alami selama berumah tangga menjadi pelajaran yang tidak atau jangan sampai ditiru. Kalau kita telah memiliki pasangan, ayo kita jaga keutuhannya. Dan, jika belum memiliki pasangan, jangan mendekati zina, apalagi mengganggu rumah tangga orang lain. Azab Allah bisa saja ditunjukkan saat masih di dunia ini.”

Sementara kepada Sekartaji, mantan istrinya, Teguh mengajak untuk bertobatm kembali ke jalan yang benar. ”Bertobatlah, selama kesempatan itu masih ada. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang tidak pernah datang dua kali,” tegasnya. [Asa]

You may also like...