Prime banner

BREBES – Kabupaten​ Brebes merupakan salah satu kantong pekerja migran Indonesia di Jawa Tengah. Setiap bulannya, ribuan pekerja migran diberangkatkan ke luar negeri. Banyaknya tenaga kerja yang ingin mengadu nasib di luar negeri umumnya dikarenakan faktor ekonomi. Dengan alasan ingin mensejahterakan keluarga, mereka para PMI rela hidup berjauhan dengan sanak familinya.

Salah satunya, Annisa (30) yang akan berangkat ke Hong Kong. Diberitakan Pantura Post, di kantor Layanan Terpadu Satu Atap – Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (LTSA-PTKLN) Brebes, ia mengaku sudah pernah menjadi PMI sebelumnya.

Merantau Jadi Tenaga Kerja, Istriku Kecanthol Pria Bertenaga Kuda

“Ini mau yang kedua, sebelumnya saya di Taiwan,” tuturnya.

Annisa yang baru punya satu anak ini mengaku tiga tahun jadi pekerja migran di Taiwan sebagai perawat lansia.

“Waktu di Taiwan saya jadi pengurus orang jompo, dia embah majikan saya,” jelasnya.

Annisa mengaku ketagihan menjadi pekerja migran, meskipun harus terpisah dengan suami dan anaknya.

“Alhamdulillah, pertama jadi TKI, di sana menyenangkan, dapat majikan kaya saudara sendiri, sampai sekarang juga masih kontek-kontekan,” katanya.

5 Tahun Pertama Habis Untuk Membiayai Suami, 3 Tahun Setelahnya Habis Untuk Melunasi Hutang Teman Yang Melarikan Diri

Meskipun sudah istirahat selama dua tahun di Indonesia, Annisa menuturkan bahwa mantan majikannya kerap membujuknya untuk kembali lagi.

“Mereka keluarga baik, anak majikan saya di sana sudah kaya anak sendiri,” kata Annisa yang sudah fasih berbahasa Mandarin itu.

Menjadi perawat lansia tidaklah mudah, mereka harus sabar dan telaten.

“Dulu saya harus mengurus semua keperluan lansia itu, mulai dari makanan, pakaiannya sampai saat dia buang air besar,” jelas Annisa yang masih antusias menjelaskan pengalamannya di negeri orang.

Ditanya soal upah dia bekerja, Annisa agak berbisik, seolah tidak mau ada orang lain yang mendengar.

“Di sana saya dapat delapan juta per bulan, belum bonus-bonusnya,” jelasnya lirih.

Suami dari Annisa bekerja di percetakan yang berada di Surabaya. Ia merasa, pendapatan tiap bulan saat ia di kampung sangatlah kurang.

Dipulangkan Paksa Dari Hong Kong, Begini Kondisi Murtini

“Sepulang dari Taiwan, dua tahun saya pindah-pindah tempat kerja dan enggak ada yang betah, mungkin karena gajinya kecil,” kata Annisa agak pelan.

Sebetulnya, Annisa tak tega harus meninggalkan anaknya yang masih balita itu pada orang tuanya.

“Saya dan suami nggak di rumah, paling suami yang sebulan sekali pulang, jadi anak dititipkan ke ibu saya,” tuturnya.

Annisa adalah satu diantara ribuan PMI asal Brebes yang ketagihan kerja di luar negeri. Dengan alasan ekonomi, hampir semua pekerja migran perempuan rela meninggalkan suami dan anaknya.

 

Banyak yang betah, tak sedikit pula yang mendapat perlakuan kasar dari majikannya.

“Semua tergantung kita di sana, kalau kerja bener dan komunikasi lancar, Insya Allah nyaman dan ketagihan seperti saya,” pungkas Annisa. [Yunar]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner