Beda Pendapat Pembatasan Sosial, Terus Mewarnai Situasi Pageblug COVID-19

Ilustrasi Foto Kompas.com
Ilustrasi Foto Kompas.com
Prime Banner

SURABAYA – Perbedaan pendapat yang selama ini terjadi, terus bergulir di masyarakat terkait dengan protokol COVID-19. Aturan pembatasan yang diberlakukan, praktik di masyarakat, dispensasi-dispensasi untuk kondisi tertentu, hingga bertabrakannya sudut pandang beberapa bidang studi ilmu dengan kebijakan dan pelaksanaan di masyarakat.

Hal sederhana, kewajiban mengenakan masker, kewajiban menjaga jarak dan kewajiban untuk tetap berada di rumah terkecuali ada kepentingan mendesak pun manuai banyak definisi. Hal tersebut mudah terlihat setidaknya dengan kerumunan di pasar-pasar, disiplin warga saat mengantri di ATM, hingga mereka yang kongkow-kongkow di warung kopi.

Persoalan perbedaan dalam paparan diatas belumlah tuntas, menyusul kemudian polemik pelaksanaan ibadah sosial di masyarakat. Himbauan untuk tidak sholat berjamaah di masjid selama bulan Ramadhan, bahkan sejak sebelum memasuki bulan Ramadhan, seolah tak banyak yang menghiraukan.

Adaptasipun dilakukan, beberapa penyelenggara tempat ibadah mengeluarkan aturan mengenakan masker, menjaga jarak, menyediakan fasilitas handsanitizer di pintu masuk, hingga membatasi hanya warga setempat yang boleh masuk.

Memasuki bulan Ramadhan, himbauan untuk melakukan sholat Tarwih berjamaah di rumah dengan keluarga masing-masing, juga tak banyak yang menghiraukan. Tempat-tempat ibadah masih tampak ramai setiap hari, dan terpaksa, pengelola tempat ibadah dibuat kerepotan membatasi dan memberlakukan protokol COVID-19.

Apakah semua pengelola tempat ibadah memberlakukan hal yang sama ? Jawabannya tidak. Pantauan ApakabarOnline.com di kawasan Madiun Raya, banyak sekali tempat ibadah yang bebas boleh dimasuki siapa saja tanpa mencuci tangan tanpa mengenakan masker.

Sedangkan di Jawa Timur, dalam sepekan terakhir, angka pertambahan kasus COVID-19 terus beranjak semakin tinggi, bahkan beberapa kali mendapat predikat provinsi dengan pertambahan kasus positif terbanyak di Indonesia.

Sampai dengan Minggu 17 Mei 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Jawa Timur telah menyentuh angka 2.141 dengan tingkat kematian sebanyak 211 orang. Angka kesembuhan baru mencapai 337 orang. Dengan demikian, di Jawa Timur masih ada 1.593 pasien Positif COVID-19 yang sedang menjalani perawatan.

Menjelang Idul Fitri, antisipasi telah mulai dilakukan, Pemprov sepertinya memilih mengambil jalan tengah, membolehkan pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Masjid dengan beberapa catatan, namun tidak disertai dengan bagaimana pengawasan dilakukan.

Sedangkan Majlis Ulama Indonesia (MUI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ormas Muhammadiyah, dan beberapa kelompok lain, dengan tegas, menyatakan menjalani Ramadhan dan Idulfitri dengan penuh kesabaran, menahan diri untuk tidak melaksanakan ibadah yang melibatkan kerumuman banyak orang. Kelompok ini menyatakan, melakukan ibadah berjamaah di rumah dengan keluarga masing-masing.

Sampai dengan tulisan ini ditayangkan, polemik terkait hal tersebut masih terus bergulir. Ramainya pusat perbelanjaan, berbanding lurus dengan kekhawatiran banyak pihak, jangan-jangan pas lebaran, akan tetap ramai-ramai saling berkunjung dan bersilaturahmi bukan dengan cara virtual.

Wallahu ‘alam Bishawab. []

You may also like...