October 30, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Budaya Orang Indonesia Ngitung Uang Pakai Jari yang Dijilat, Tiga Karyawan Bank di Ngawi Positif COVID-19

2 min read
Tiga Karyawan Bank Jatim Ngawi Positif COVID-19

Tiga Karyawan Bank Jatim Ngawi Positif COVID-19

Prime Banner

NGAWI – Ditengah pageblug COVID-19, sektor perbankan merupakan salah satu sektor vital yang harus tetap beroperasi melayani masyarakat. Namun saat resiko karyawannya didapati positif COVID-19, tentu hal tersebut akan membuat operasional perbankan di cabang tempat pasien ditemukan akan mengalami gangguan.

Begitu juga dengan yang terjadi di Ngawi Jawa Timur, saat tiga orang karyawan Bank Jatim Ngawi, kedapatan positif COVID-19 dari hasil rapid test.

Menyikapi hal tersebut, Budi Sulistyono, Bupati Ngawi yang juga sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, memerintahkan semua lembaga keuangan yang beroperasi di Ngawi melalui sebuah SE (Surat Edaran) Bupati, untuk melakukan rapid test terhadap semua karyawannya.

“Dari hasil rapid tes ada tiga orang karyawan dari BPD Jatim, dinyatakan reaktif. Hari ini (Kamis) saya sudah membuat surat edaran untuk semua lembaga keuangan di Ngawi melakukan rapid test,” jelas Budi Sulistyono, yang juga Bupati Ngawi pada awak media, Kamis (14/05/2020) kemarin.

SE terkait penyelenggaran rapid tes tersebut, lantaran lembaga keuangan tidak dapat dihentikan atau distop operasinya. Seperti perbankan, perkoperasian dan lembaga pembiayaan (leasing).

Selanjutnya, kata Budi Sulistyono, tiga karyawan Bank Jatim yang dinyatakan reaktif itu, diwajibkan menjalani isolasi mandiri, apabila termasuk dalam orang tanpa gejala (OTG). Isolasi mandiri dilakukan hingga rapid tes kedua diketahui hasilnya.

“Jika hasil rapid tes kedua nanti masih reaktif, wajib dilakukan tes Swab. Hingga yang bersangkutan dinyatakan negatif dari hasil Swab. Selain dilakukan isolasi mandiri terhadap tiga orang tersebut juga harus dilakukan tracing pada orang di sekitarnya,” lanjut Kanang, sapaan akrab Bupati Ngawi ini.

Advertisement

 

Budaya Menghitung Uang Dengan Menjilat Jari

Kanang juga mengkhawatirkan, apabila dari tiga orang reaktif tersebut menjadi klaster baru di Ngawi. Untuk mengantisipasinya, pihaknya meminta ada dilakukan pemantauan pada lembaga keuangan di wilayah Ngawi. Diduga, penyebaran Covid-19 kemungkinan terjadi melalui media uang.

“Saya juga sudah perintahkan Kepala Dinas Kesehatan untuk jeli memantau dari ketiga orang tersebut,” lanjutnya.

Menurutnya, karyawan perbankan lebih berisiko untuk terpapar virus Corona. Hal tersebut berkaitan dengan perputaran uang. Di sisi lain, dunia perbankan tidak mungkin dihentikan operasionalnya.

Hal tersebut berkaitan dengan kebiasaan dari masyarakat yang menghitung uang dengan menggunakan droplet (ludah). Sehingga melalui uang tersebut dimungkinkan virus asal negeri Cina tersebut dapat tersebar.

“Apalagi diperkuat dengan kebiasaan masyarakat yang belum semua memanfaatkan mesin ATM ataupun transaksi elektronik. Sehingga kemungkinan penyebaran melalui uang lebih besar,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pasien yang pertama Covid-19 di Ngawi yang merupakan seorang petani dengan aktivitas sering melakukan jual beli gabah atau beras di beberapa wilayah sekitar Ngawi. Meski demikian, hingga saat ini pasien tersebut masih dalam kajian, terkait klaster yang belum diketahui.

“Hubungan uang adalah hubungan yang paling rawan. Mungkin kalau dari bank keluar lebih banyak sehatnya daripada uang yang masuk ke bank,” terangnya.

Untuk pencegahan, ia berharap ke depan masyarakat memanfaatkan transaksi elektronik.

“Apalagi kebiasaan orang-orang Indonesia menghitung uang memakai droplet,” pungkasnya. []