Cara Keluar dari Situasi Memalukan

Prime Banner

Eh, Cak Mul ! Yo Opo kabare riko ? Dengkulmu wis lurus meneh ta ? ” Ucap Parti pada seorang pria yang dia lihat saat berjalan di sisi taman palm Victoria Park pada sebuah Minggu siang.

Parti yakin sekali bahwa perempuan yang dia lihat kemudian dia tepuk pundaknya adalah Mulyono sahabat karibnya yang telah sekian tahun lamanya tidak pernah bertemu.

Namun, saat pria yang Parti sangka adalah Mulyono menoleh, betapa terkejutnya, ternyata perempuan tersebut bukan Mulyono, melainkan orang lain yang sama sekali tidak dia kenal. Tampak belakang seperti Mulyono, tapi bagian depan sama sekali berbeda dengan Mulyono yang Parti kenal.

Disamping itu, saat Parti tersadar, Mulyono berada di Donomulyo Malang, tidak mungkin tiba-tiba berada di Victoria Park Hong Kong.

Adegan tersebut hanyalah beberapa contoh situasi/keadaan memalukan. Ketika hal-hal seperti itu terjadi, kita berpikir keras mencoba mencari cara untuk meloloskan diri dari situasi. Mungkin juga berharap kita adalah orang lain.

Menurut Medical Daily, ketakutan akan rasa malu atau terhina di muka umum sering terlihat pada mereka yang memiliki kecemasan sosial. Orang yang cenderung menghakimi dan menilai diri sendiri jauh lebih keras daripada penilaian orang-orang di sekitar mereka.

Hal ini dapat menghambat kegiatan sehari-hari. Perasaan takut menghadapi keadaan memalukan seperti ini dapat diatasi dengan melatih otak untuk berpikir dengan cara tertentu.

Disampaikan oleh para peneliti dari Carnegie Mellon University di Pittsburgh, Pennsylvania, seperti dilansir dari Time.com, mengatasi keadaan memalukan dengan membayangkan diri kita menjadi orang lain bukan hanya suatu tindakan instingtif, melainkan memang merupakan strategi yang baik.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di dalam jurnal Motivation and Emotion mengatakan bahwa membayangkan diri Anda sebagai pengamat dari peristiwa yang janggal atau salah, alih-alih sebagai pelaku, dapat meminimalkan perasaan malu atau tidak enak.

“Ini adalah tentang bagaimana Anda melepaskan diri dari situasi yang memalukan, dan menyadari mereka yang melihat tidak akan menghakimi Anda secara kasar,” jelas Li Jiang, salah satu penulis penelitian tersebut, yang juga seorang peneliti di Carnegie Mellon University’s Center for Behavioral and Decision Research.

“Triknya adalah dengan melihat diri Anda benar-benar sebagai pengamat atau yang melihat peristiwa itu, bukan dari perspektif orang lain,” tambah Jiang. Menurutnya bahkan lebih baik lagi jika menjadi orang ketika dalam peristiwa tersebut, karena dapat memberikan jarak yang lebih jauh dari keadaan tersebut.

Dikutip dari Science Daily, Jiang mengatakan bahwa rasa malu mencegah kita untuk meminta nasihat tentang apa yang seharusnya kita lakukan. “Contohnya tentang tentang tagihan hutang yang jatuh tempo atau kehamilan yang tidak direncanakan,” ungkapnya. “Padahal dalam banyak kasus, jika kita ingin membantu diri sendiri, dan orang lain, kita harus mengatasi ketakutan kita terhadap rasa malu dalam situasi sosial.”

Laporan penelitian yang diberi judul Countering embarrassment-avoidance by taking an observer’s perspective ini melibatkan tiga penelitian, yang masing-masing terdiri dari 180, 107 dan 220 orang mahasiswa sebagai partisipan. Para peneliti mengukur berbagai faktor seperti perspektif, niat dan ketidaknyamanan pribadi para peserta.

Pada percobaan pertama, para peneliti menguji reaksi para peserta setelah melihat sebuah iklan di mana seorang aktor tidak sengaja kentut di kelas yoga. Percobaan kedua mengamati reaksi 107 mahasiswa terhadap iklan tentang pengujian penyakit menular seksual.

Sementara percobaan ketiga yang melibatkan 220 orang mahasiswa, meminta agar mereka memberikan tanggapan tentang sebuah iklan yang menggambarkan seorang laki-laki yang kentut di hadapan seseorang yang sangat dia sukai.

Dalam setiap penelitian tersebut, para peneliti ingin menguji hipotesis tentang bahwa menempatkan diri di dalam perspektif pengamat dapat mengurangi perasaan malu.

Hasilnya adalah mereka yang sangat sadar diri di muka umum akan mengalami kesulitan saat menonton iklan-iklan tersebut, karena mereka cenderung menempatkan diri dalam perspektif aktor dalam situasi yang memalukan, bahkan jika hal ini menyangkut orang lain.

Akan tetapi, tingkat kesadaran diri mereka menurun ketika mereka mampu menggambarkan diri mereka sebagai pengamat situasi dan tidak terlibat langsung di dalamnya.

Strategi ini tentu bukanlah hal yang mudah. Jiang mengatakan bahwa untuk membantu seseorang melawan rasa malu butuh perhitungan tentang variasi dan perbedaan individu. “Cara ini memang tidak akn berfungsi untuk semua orang,” ujarnya.

Tetapi rasa malu dapat memiliki konsekuensi yang lebih serius daripada sekedar ketidaknyamanan sesaat, sehingga menemukan strategi untuk mengatasinya merupakan hal yang penting.

“Bayangkan jika Anda sedang menjalani pemeriksaan kesehatan, dan Anda malu mengungkapkan semua informasi, hasilnya akan menjadi tidak optimal, bahkan mengancam jiwa,” pungkas Jiang. []

You may also like...