Disebut Terlibat Sacaren, Akun Ustadz (?) Abu Janda Ditutup Facebook

Prime Banner

JAKARTA – Penggiat media sosial Permadi Arya melayangkan surat somasi Rp 1 triliun kepada pendiri Facebook Mark Zuckerberg lantaran akun Facebook miliknya ditutup. Diberitakan JP Group, pemblokiran akun karena Facebook beralasan kuat Permadi atau yang dikenal dengan Abu Janda terlibat jaringan penyebar kebencian alias Saracen.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio berpendapat, kasus ini harus terbuka dan transparan sehingga publik bisa tahu fakta sebenarnya.

“Ini harus transparan sehingga kita tahu siapa yang mesti kita percaya, Abu Janda atau Facebook? Bagaimana dengan anda, percaya pihak mana,” kata Hendri di akun Twitter, Sabtu (9/2).

Sejauh ini, Facebook telah menghapus 207 halaman fanpage, 800 akun facebook, 546 grup dan 208 akun Instagram yang diduga berkaitan dengan jaringan penyebar berita bohong Saracen.

Sementara itu, menukil pemberitaan Tempo, Kepala Kebijakan Kemananan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher, mengatakan telah menutup ratusan akun Facebook di Indonesia pada 31 Januari 2019. Salah satunya halaman milik Permadi Arya atau Abu Janda.

Abu Janda mengancam akan menggugat Facebook Rp 1 triliun karena dituding mencemarkan nama baiknya. Ia merasa platform media sosial ini membuat tuduhan tak beralasan karena mengaitkan akunnya dengan Saracen. Ia bahkan sudah melayangkan somasi ke Facebook.

Lewat laman resmi pemberitaan mereka, newsroom.fb.com, media sosial besutan Mark Zuckerberg ini mengatakan ada 207 halaman Facebook, 800 akun, dan 546 grup di Facebook yang mereka tutup. Alasannya, Facebook melihat akun-akun ini memiliki kecenderungan perilaku yang tidak otentik.

Perilaku tidak otentik ini kemudian berpotensi menyesatkan orang lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Semua halaman, akun, dan grup ini ditautkan ke Grup Saracen, sindikat online di Indonesia.

“Kami mencatat halaman, grup, dan akun berdasarkan perilaku mereka, bukan konten yang mereka posting. Dalam hal ini, orang-orang di belakang kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk merepresentasikan diri mereka sendiri, dan itu adalah dasar dari tindakan kami,” tulis Facebook.

Media sosial ini pun mengungkapkan telah berupaya mendeteksi dan menghentikan aktivitas tersebut karena tidak ingin layanan mereka digunakan untuk memanipulasi orang.

“Pengumuman hari ini hanyalah salah satu dari banyak langkah yang telah kami ambil untuk mencegah aktor jahat menyalahgunakan platform kami,” kata Facebook dalam situs resminya. “Kami akan terus berinvestasi dalam keselamatan dan keamanan untuk memastikan bahwa orang dapat terus mempercayai koneksi yang mereka buat di Facebook.” []

You may also like...