October 31, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ironi Masker dan PMI di Daegu Korea Selatan

2 min read
Masker Ery Tandoyo (foto Doc Pribadi)

Masker Ery Tandoyo (foto Doc Pribadi)

Prime Banner

HONG KONG – Lompatan tinggi angka jumlah penderita virus corona yang terjadi dalam 5 hari bertutur-turut yakni antara tanggal 18 – 23 Februari 2020 kemarin telah mengerek nama Korea Selatan menempati urutan kedua dunia dengan jumlah pasien Corona terbanyak setelah China.

Informasi yang dirilis Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), konsentrasi warga yang tertapar virus berada di dua kota yang saat ini diisolasi yakni kota Daegu dan Cheonan, dimana di dua kota tersebut terdapat banyak PMI yang tinggal untuk bekerja di berbagai bidang.

Meskipun jumlah secara pasti berapa jumlah PMI yang tinggal di dua kota yang saat ini diisolasi belum diketahui secara pasti, namun setidaknya Daegu merupakan kota yang setiap tahun menjadi tempat menyelenggarakan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Dan saat pemilu pemilihan Presiden kemarin, di Kota Daegu terdapat TPS.

Merujuk pada dua kondisi tersebut, terbayang, Daegu dan Cheonan merupakan dua kawasan yang banyak dihuni oleh PMI/WNI.

Ironi antrian panjang warga yang membeli masker, antiseptik serta kebutuhan darurat lainnya tak bisa dihindari.

Ery Tandoyo, seorang PMI yang tinggal dan bekerja di sebuah pabrik di kawasan Nunggong Daegu mengaku turut merasakan dampak wabah virus corona.

Ery yang tinggal di asrama bersama tujuh PMI lainnya, hanya bisa pasrah dengan kondisi yang terjadi saat ini. Kepada ApakabarOnline.com, Ery menuturkan, mendapat instruksi dari pabrik tempatnya bekerja agar setelah selesai kerja tidak keluar kemana-mana, langsung kembali ke asrama.

Kondisi berbeda disamping pengetatan ruang gerak, adalah pemeriksaan kondisi kesehatan yang ditingkatkan.

“dipabrik saya sekarang berangkat terus pulang kerja dicek suhu tubuhnya. Padahal sblm ada wabah tidak ada pengecekan.” tutur Ery kepada ApakabarOnline.com, Rabu (26/02/2020).

Beruntung, Ery mendapat jatah selembar masker dari pabrik tempatnya bekerja serta fasilitas antiseptik namun hanya untuk digunakan ditempat kerja saja.

“kalau anti septik dipabrik disediakan didepan kantor didalam pabrik terus diruang makan masing masing satu. Terus ditranportasi umum biasanya antiseptik pasti ada. Kalau yang susah banget masker mbak dimana2 habis…..” lanjutnya.

Di Korea, khususnya di tempat Ery bekerja, harga masker melambung tinggi. Pengalaman Ery saat membeli masker eceran di Apotik, masker yang biasanya hanya 2 Won selembar, saat ini harganya meroket menjadi 50 Won selembar.

Mengantisipasi hal tersebut, Ery mengaku mencuci masker bekas pakai hari sebelumnya untuk dipakai lagi. Hal tersebut terpaksa dilakukan disamping harga masker mahal, antrian panjang juga memakan waktu. []

Advertisement