[JEJAK RELIGI] Langgar Merdeka, Tempat Madhat yang Berubah Menjadi Tempat Sholat

Prime Banner

SOLO – Bangunan itu bercat hijau dan  berlantai dua. Bagian bawahnya digunakan sebagai tempat usaha, berjejer dua kios yang menawarkan  penjualan madu dan apem khas Laweyan. Sementara di bagian atas terlihat enam jendela  dengan bagian pojok kiri terdapat pengeras suara. Itulah Langgar Merdeka yang terletak di Jalan Dr Radjiman No 565, Laweyan, Solo

Memang tak ada yang mengira jika bangunan cagar budaya ini  yang terletak di pertigaan jalan masuk menuju kawasan Kampoeng Batik Laweyan merupakan tempat ibadah. Sebab bangunan ini hanya terlihat seperti kios di pinggir jalan pada umumnya.

Tapi jangan salah, ketika mendongak ke atas. Akan terlihat ada tulisan Langgar Merdeka. Maka orang pun tak akan ragu saat salat di tempat ini. Langgar ini  memiliki luas bangunan sekitar  179 meter persegi ini dengan ketinggian sekitar 7  meter.

Langgar yang satu ini memang unik. Pada jaman dulu tempat ibadah  ini merupakan bangunan milik warga keturuan Tionghoa yang digunakan sebagai toko yang memenuhi kebutuhan para tukang madhat yaitu menjual candu alias ganja.

“Dulu kan belum ada UU tentang Psikotropika. Jadi kemungkinan candu bebas diperjualbelikan,” kata Ketua Yayasan Langgar Merdeka Kampoeng Batik Laweyan, Drs H Zulfikar Husain.

Keberadaan dari kios tersebut membuat salah satu saudagar batik Laweyan, H Iman Mashadi prihatin. Ia pun membeli tempat tersebut dan berjanji akan menjadikannya sebagai tempat ibadah. Kemudian saudagar tersebut mewakafkan langgar tersebut. “Bangunan dibeli sekitar tahun 1940. Kemudian pada tahun 1942 mulai dibangun. Pembangunan langgar berlangsung  sekitar 3 tahun dan selesai bertepatan dengan tahun kemerdekaan RI,” tutur Zulfikar.

Pemberian nama dari langgar ini tergolong bersejarah. Lantaran namanya diberikan oleh Presiden Soekarno. Presiden memberikan nama Langgar Merdeka sebagai representasi kondisi politik kebangsaan saat itu yang sedang merasakan euforia kemerdekaan.

Selanjutnya,  peresmiannya  pun dilakukan oleh Menteri Sosial I sekaligus ad interim Menteri Agama, Mulyadi Djoyo Martono.

“Waktu itu namanya diberikan oleh Pak Karno, tetapi melalui Menteri Sosial pertama,” tuturnya.

Situasi politik yang masih belum stabil pada saat itu ternyata berimbas pada perubahan nama lagi langgar tersebut. Terutama pada  tahun 1949, saat terjadi Agresi Militer Belanda. Konon, langgar ini pernah dibombardir dengan bom oleh Belanda. Entah apa penyebabnya, ataukah memang karena akurasi bom yang kurang tepat, langgar ini tetap berdiri tegak.

Pun soal nama, lantaran nama ini terlihat menantang bagi Belanda, nama Langgar Merdeka pun diberangus. “Lantas nama diubah menjadi  menjadi Langgar Ikhlas. Makanya di dalam itu ada dua nama, Langgar Iklas dan Langgar Merdeka,” katanya.

 

Dikelola Yayasan

Keunikan lain dari langgar ini adalah pada sistem pengelolaannya. Berdasar pada sistem ekonomi syariah dan misi dakwah adalah konsep bangunan ini. Atas sebagai misi dakwah dan bagian bawah mencerminkan ekonomi syariah.

“Mereka para pedagang itu mengontrak. Kemudian uang kontrakannya digunakan sebagai pembiyaan operasional dan pemeliharaan masjid,” kata Zulfikar.

Pengelolaannya tidak diserahkan pada satu pribadi tetapi oleh yayasan. Yayasan ini dibentuk Desember 2006.

Hal menarik lainnya dari langgar ini adalah misi sosialnya. Melalui sistem ekonomi syariah, langgar ini bisa memberikan bantuan kepada anak-anak pelajar dari keluarga kurang mampu.

“Tahun kemarin, kami bisa memberikan bantuan kepada 25 anak. Masing-masing anak mendapat bantuan biaya sekolah senilai Rp200.000,” kata Zulfikar.

Arsitektur bangunan ini memang cukup  berbeda dibanding langgar lainnya, Salah satu pembedanya adalah menyatunya bangunan menara dengan bangunan utama. Padahal pada umumnya, dua bangunan itu selalu terpisah. Zulfikar mengira alasannya adalah karena keterbatasan lahan.

“Jika di masjid lainnya, menara berfungsi sebagai tempat corong pengeras suara, namun di langgar ini menara benar-benar difungsikan untuk tempat azan. Ini terlihat dari adanya tangga yang naik ke atas menara. Di sanalah, pada zaman dulu, muadzin mengumandangkan azan yang terdengar hingga jauh,” ucapnya.

Bangunan ini terlihat masih asli. Langgar Merdeka hanya satu kali pernah  direnovasi, yaitu pada tahun 2010 lalu. Renovasi itu untuk membenahi bangunan di lantai satu yang menjadi tempat usaha dan lantai dua untuk peribadahan.  Namun, pada saat renovasi tersebut ternyata menara langgar tersambar petir sehingga ikut pula diperbaiki.

“Renovasi melibatkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala karena Langgar Merdeka termasuk bangunan cagar budaya. Selain itu, proses renovasi juga meminta pendapat kiai sesepuh agar pembenahannya tidak melanggar nilai sejarah bangunan,” kata Zulfikar. [SM]

This slideshow requires JavaScript.

You may also like...