Prime banner

NGANJUK – “Assalamualaikum ibu, … Eti dan seluruh keluarga di Jegong Wilangan tetap berharap ibu akan pulang dari Hong Kong, apalagi, sejak kecil sampai saat ini, Eti belum pernah sama sekali melihat wujud ibu yang sebenarnya, mendengar suara ibu, bersentuhan dengan hangatnya kasih sayang ibu … ” kalimat tersebut merupakaan petikan pesan yang disampaikan oleh Eti Fauziyah, santriwati sebuah Pondok Pesantren tersohor di Kawasan Maospati Magetan asal Dusun Jegong Desa/Kecamatan Wilangan Kabupaten Nganjuk Jawa Timur.

Bertemu dengan ApakabarOnline.com, sosok Eti yang mengenakan cadar, tumbuh menjadi remaja yang berbudi pekerti tinggi dan tetap menghormati sosok Munawaroh ibunya meskipun sejak bayi merah, dirinya telah ditinggalkan begitu saja dalam pengasuhan nenek dan kakeknya.

Terakhir kali keluarga mengetahui, Munawaroh berangkat kembali ke Hong Kong pada tahun 2002, atau 3 bulan setelah melahirkan Eti Fauziyah. Menurut penuturan keluarga, sebelum melahirkan Eti Fauziyah,  Munawaroh sempat bekerja di Hong Kong sejak tahun 1998.

“Tahun 1998 sampai tahun 2002, ibu bekerja di Hong Kong dan waktu pulang, ibu dalam kondisi hamil tua, lalu melahirkan bayinya, yaitu saya” tutur lirih Eti yang terhenti oleh tangisnya.

Kepada keluarganya, Munawaroh mengaku, bahwa janin yang dikandungnya saat itu merupakan hasil hubungannya dengan seorang pekerja Bangladesh di Hong Kong. Tidak banyak informasi yang Munawaroh berikan kepada keluarga mengenai riwayat kehamilannya selain laki- laki Bangladesh. Hal tersebut semakin menguatkan fakta, beberapa bulan setelahnya, saat Munawaroh melahirkan bayi perempuan, secara fisik, kasat mata, bayi tersebut memiliki ciri etnis Bangladesh. Warna kulit, paras wajah, hingga matanya.

Tak ada yang menyangka, saat bayi Eti baru berusia 3 bulan, tiba-tiba Munawaroh kembali berangkat ke Hong Kong setelah mendapat sepucuk surat dari Hong Kong. Namun, surat tersebut, sepeninggal Munawaroh tidak adaa yang mengetahui rimbanya.

Sejak keberangkatan Munawaroh pada akhir tahun 2002 hingga sekarang, bak hilang ditelan bumi, Munawaroh tak pernah ada kabarnya lagi.

Aib kehamilan yang dia tinggalkan di kampung halaman, menjadi beban sosial bagi kedua orang tua, kerabat dan bagi si Eti sendiri yang saat ini sudah tumbuh menjadi remaja berusia 16 tahun.

Beruntung, Eti terjaga pergaulannya dari pengaruh-pengaruh buruk yang bagi orang seperti Eti tentu menjadi hal sensitif untuk tumbuh menjadi remaja “liar”. Eti, setamat SD justru memilih untuk masuk ke sebuah pesantren di kawasan Temboro Magetan. Di pesantren tersebut, segala sesuatunya berubah drastis.

Eti lebih dewasa dan arif menyikapi masa lalunya. Bukan kebencian, melainkan perasaan bersyukur karena telah diberi ujian sejak dirinya masih bayi.

“Subhanallah, saya sangat bersyukur, tanpa ujian ini, mungkin saya akan menjadi perempuan yang lemah segala-galanya. Dengan ujian ini, apalagi di pondok, ustadzah yang mengerti riwayat masa lalu saya justru menyadarkan saya akan arti penting birrul walidaini, sehingga saya terhindar dari perasaan yang dipengaruhi syaithan” tutur Eti.

“Sedih dan kecewa, sebagai manusia, itu pasti. Tapi, masa lalu ini menjadi pelajaran agar tidak terulang kembali” tegas Eti.

Melalui ApakabarOnline.com, Eti menitipkan pesan kepada Munawaroh sang ibunda, atau pembaca yang mengetahui keberadaan Munawaroh yang oleh keluarga terakhir kkali diketahui pergi ke Hong Kong, agar menyampaikan pesan berikut ini :

“Assalamualaikum ibu, Eti tidak tahu Ibu sekarang ada dimana, tapi Eti yain, Ibu sekarang senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala itu maha penyayang Bu, ttidak memilih-milih siapa dan bagaimana dalam memberikan kasih sayangnya.

Ibu, Eti sekarang sudah besar, Eti sekarang sudah kelas 1 mau naik kelas 2 Aliyah. Eti sekarang mondok di Temboro. Jadi jika saja ibu ingin mengetahui kabar Eti, putri Ibu ini, Insyaallah, Eti baik-baik saja disini.

Eti dan seluruh keluarga di Jegong Wilangan tetap berharap ibu akan pulang dari Hong Kong, apalagi, sejak kecil sampai saat ini, Eti belum pernah sama sekali melihat wujud ibu yang sebenarnya, mendengar suara ibu, bersentuhan dengan hangatnya kasih sayang ibu…

Ibu, saat Eti belajar Fiqh, ada kegelisahan yang Eti rasakan saat Eti menyadari tentang Rukun dan Syarat Menikah bagi orang Islam. Eti sampai saat ini tidak pernah mengenali siapa Bapak Eti, bagaimana status hubungan ibu dengan Bapak Eti, sebab hanya dengan ikatan pernikahan yang syah menurut syariat antara bapak dengan ibulah, bapak Eti bisa menjadi wali untuk memenuhi rukun dan syarat menikah dalam syariat agama kita.

Eti ingin sekali mendapatkan kejelasan tentang hal ini Bu. Sebab, Eti setiap teringat akan hal itu, Eti sekalu menjadi sedih, kalau menikah, wali Eti nanti siapa bu ? Sebab pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, dan pernikahan itu sesuatu yang mulia dan sakral maknanya.

Ibu, apapun keadaan ibu, dan dimanapun ibu sekarang berada, Eti mohon, ibu jangan lupakan Allah, jangan tinggalkan sholat, puasa, selalu ingat Allah, supaya kita disatukan kembali untuk bisa menikmati suasana hidup bersama-sama seperti kebanyakan teman-teman Eti yang lainnya, hidup bahagia dengan orang tua dan saudaranya.

Eti selalu berdoa setiap saat untuk kebersamaan kita, bisa berkumpul dengan ibu dan bapak. Eti sangat merindukan ibu. Ibu pulang ya, jenguk Eti di Temboro”  [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner