Korban Gempa Halmahera Krisis Tenaga Medis

Prime Banner

Enam hari setelah gempa bermagnitudo 7,2 yang berpusat di Gane, Halmahera Selatan, Maluku Utara, korban meninggal terus bertambah menjadi delapan orang. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, Sabtu (20/7/2019), tiga korban jiwa terbaru meninggal di pos pengungsian.

Ketiganya meninggal pada Kamis (18/7) hingga Jumat (19/7), Masing-masing bernama Idrus Amin (45) warga Gane Luar, Kecamatan Gane Timur Selatan; Bainur Safar (63) warga Desa Tomara, Bacan Timur Tengah; dan Dasrah Umar (48), warga Desa Cango, Kecamatan Kecamatan Gane Barat.

Mereka meninggal karena tidak mendapat perawatan medis setelah gempa menggoyang daratan Halmahera itu. Idhar Kifli, Kepala Desa Cango, mengatakan para korban sudah sekarat saat berada di tenda pengungsian.

“Kondisi almarhum sebelum gempa baik-baik saja. Tidak ada riwayat sakit yang dideritanya. Ia sakit saat mengungsi dan sudah berada di tenda,” katanya.

Idrus Assagaf, anggota DPRD Halmahera Selatan, saat mengunjungi Desa Gane Luar pada Jumat (19/7) menyampaikan hal serupa. “Sakit yang diderita Idrus Amin karena tertimpa balok rumah disertai beton saat gempa,” tuturnya.

Sementara, korban tewas karena gempa juga menimpa keluarga Safar di Desa Tomara, Kecamatan Bacan Timur Selatan, Kamis (17/7) dinihari. Bainur meniinggal akibat penyakit strok dan tidak tertangani ketika mengungsi.

“Sebelum meninggal mama memang so sakit stroke. Namun saat gempa itu mama dibawa lari ke tenda dan dirawat di sana. Karena sakit yang diderita mama so berat sehingga mama pulang (meninggal),” kata Nurgaya Djalil, menantu almarhumah.

Nurgaya menceritakan, saat ibunya dibawa lari ke tenda pengungsian itu menggunakan gerobak kayu. Selama di tenda pengungsian, ibunya dirawat menggunakan obat kampung berbahan daun dan batang pohon di hutan.

“Setelah dua hari di tenda pengungsian baru ada penanganan medis dari petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan,” sambung Nurgaya.

Jenazah ketiga korban meninggal ini sudah dimakamkan. Adapun selain mereka, juga ada korban meninggal Aswar Mukmat (20) asal Desa Gane Dalam; Sagaf Girato (50) asal Desa Yomen; Aina Amin (50) asal Desa Gane Luar; Wiji Siang (60) asal Desa Gane Luar; dan Saima Mustafa (90) asal Desa Nyonyifi yang meninggal di tenda pengungsian.

 

Demam dan diare mulai menyerang

Di sisi lain, menurut Idhar Kifli, minimnya penanganan medis juga membuat para pengungsi mulai terserang berbagai penyakit. Terutama anak-anak mulai demam dan diare.

“Saat ini anak-anak di lokasi pengungsian mulai sakit-sakitan, rata-rata panas tinggi (demam) dan diare. Anak saya yang kecil juga sakit demam,” kata Idhar.

Ia mengharapkan bantuan petugas dan relawan medis dari pemda kabupaten maupun provinsi untuk dikirim ke lokasi pengungsian. “Karena sampai saat ini tidak ada tim medis. Untuk desa kami hanya ada satu bidan desa, begitu pun dengan desa yang lain di sekitar sini belum ada petugas medis,” katanya.

Secara terpisah, seorang tenaga medis yang ditemui Beritagar.id di Desa Kampung Makean, Pulau Bacan, mengemukakan, ingin sekali menemui para korban sejak gempa terjadi. Namun, ia dan kawan-kawannya terkendala akses trasportasi.

“Sampai sekarang tidak kesampaian. Saya dan beberapa teman yang bertugas di Pulau Bacan ini mau ke daratan Gane tapi tidak ada transportasi untuk mengangkut kami ke sana (daratan Gane),” kata perempuan 26 tahun itu yang enggan menyebutkan namanya saat disambangi Beritagar.id, Sabtu (20/7) siang.[]

You may also like...