Lagi, Setelah PMI Hong Kong Asal Geyer, Dua Pasien Covid di Grobogan dan Kediri yang Membohongi Petugas Membuat 35 Tenaga Medis Dikarantina

Feature Image Lagi, Setelah PMI Hong Kong Asal Geyer, Dua Pasien Covid di Grobogan dan Kediri yang Membohongi Petugas Membuat 35 Tenaga Medis Dikarantina (Foto Istimewa)
Feature Image Lagi, Setelah PMI Hong Kong Asal Geyer, Dua Pasien Covid di Grobogan dan Kediri yang Membohongi Petugas Membuat 35 Tenaga Medis Dikarantina (Foto Istimewa)
Prime Banner

 

KEDIRI – Tentu ulah yang dilakukan pasien positif covid-19 ini membuat “geregetan” banyak orang, pasalnya, akibat ulahnya yang membohongi petugas medis saat diperiksa, membuat puluhan pekerja medis harus menjalani karantina dan tidak bisa bekerja.

Setelah kasus yang dilakukan oleh seorang PMI Hong Kong asal Bangsri Geyer Grobogan kemarin yang membuat 76 pekerja medis dan 310 warga dikarantina, masih di Grobogan, menyusul seorang warga lainnya melakukan hal yang sama.

Dikutip dari Kompas.com, warga Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dinyatakan positif terpapar virus Corona ( Covid-19) ternyata juga memberikan keterangan yang tidak jujur kepada tim medis RSUD dr Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, Grobogan. Belakangan, ia mengaku berprofesi sebagai kuli bangunan yang baru saja mudik dari Jakarta.

“Akibat berbohong, sekitar 20 pekerja RSUD dr R Soedjati Soemodiardjo Purwodadi dalam waktu dekat akan menjalani rapid test ulang,” kata Direktur RSUD dr Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, Bambang Pujiyanto, Rabu (15/04/2020).

Dijelaskan Bambang, pasien Covid-19 berusia 43 tahun ini, sempat dirawat di RSUD Purwodadi pada akhir Maret 2020 karena menderita batuk, demam, dan sedikit sesak napas. Dalam pemeriksaan, yang bersangkutan berbohong ketika memberikan keterangan pada petugas medis. Ia mengaku tidak pernah pergi ke daerah berstatus zona merah Covid-19.

Dari keterangan inilah, pasien tersebut selanjutnya dirawat di salah satu kamar perawatan yang ada di bangsal Nusa Indah. Selama dirawat, pasien ini juga ditangani dokter spesialis penyakit dalam. Kemudian, kondisinya juga diobservasi lebih lanjut oleh dokter spesialis paru.  Dari pemeriksaan dokter spesialis ini muncul kecurigaan sehingga pasien tersebut kemudian di-rapid test pada awal April 2020 dan hasilnya ada reaktif virus. Pasien itu selanjutnya dipindahkan ke ruang isolasi.

“Usai rapid test, pasien ini akhirnya mengaku ternyata baru pulang dari Jakarta bekerja di proyek bangunan. Sepulang dari Jakarta ia sakit,” ungkap Bambang.

Di Kediri, Ketidakjujuran seorang pasien menimbulkan kerepotan di RSM Ahmad Dahlan karena harus mengisolasi mandiri sejumlah 15 tenaga medis yang memeriksa pasien dan ternyata terbukti postif Covid-19.

Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Ahmad Dahlan, dr. Zainul Arifin, M. Kes., menyampaikan mereka telah berkontak langsung dengan pasien.

“Sekira 10 hari lalu, ada pasien yang mengeluhkan tanda-tanda ke arah Covid-19. Namun ia tidak jujur mengatakan semuanya,” kata Zainul.

Maka, para tenaga medis yang memeriksa tidak mengenakan APD dan memperlakukan pasien tersebut sebagaimana ODP maupun PDP. Kemudian, setelah keluar hasil tes swab, ternyata pasien tersebut positif Covid-19.

Sesuai dengan SOP, semua kontak erat termasuk tenaga medis yang kontak dengan pasien tersebut harus melakukan isolasi mandiri di rumah sembari menunggu hasil tes.

“Akhirnya kini kami kekurangan 15 orang tenaga medis yang sangat kami butuhkan,” terang Zainudin.

Zainudin pun memohon kepada masyarakat agar benar-benar jujur saat melakukan pemeriksaan, utamanya bila pernah bersinggungan dengan pasien positif Covid-19 atau usai datang dari daerah yang sudah terinfeksi Covid-19. Dia mewanti-wanti bahwa pasien harus menyampaikan data ini.

“Makanya kami mohon masyarakat harus jujur mengatakan semuanya,” imbau Zainul.

Senada dengan imbauan Dirut RSM Ahmad Dahlan, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar juga menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk selalu jujur menyampaikan semua data kepada petugas medis.

“Untuk seluruh warga Kota Kediri saya mohon, sampaikan semua data ke petugas medis dengan sejujur-jujurnya, keluhannya, pernah singgah di mana saja. Ini penting untuk memutus rantai penularan Covid-19,” imbau Mas Abu. []

You may also like...