Melemah, Rupiah Kembali Memasuki Level Rp. 14 Ribu

Prime Banner

JAKARTA – Kurang mumpuninya performa neraca transaksi berjalan sepanjang 2018 pada akhirnya menyudahi keperkasaan kurs rupiah di level Rp13 ribuan per dolar Amerika Serikat (AS). Senin (11/2) sore, transaksi nilai tukar rupiah ditutup di angka Rp14.034 per dolar AS. Melemah 97 poin dibandingkan kurs tengahnya di angka Rp13.955 per dolar AS.

Analis pasar uang Monex Investindo Futures, Dini Nurhadi Yasyi mengungkapkan, terseret kembalinya rupiah ke level Rp14 ribu per dolar AS seakan sudah bisa diprediksi dari hasil rilis neraca transaksi berjalan Jumat (8/2). Pasalnya, defisit yang tercatat dalam neraca jauh melebihi perkiraan.

“Kabar dari domestik buat rupiah kembali melemah. Current account kita pas dirilis hari Jumat lalu itu defisitnya melebihi forecast, bahkan lebih tinggi dari defisit kuartal ketiga,” ujarnya di Jakarta, Senin (11/2).

Sejak awal Februari, rupiah memang tampil menguat hingga bisa kembali menyentuh level Rp13 ribuan per dolar AS. Data-data ekonomi yang positif, mulai dari inflasi pada Januari sampai pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di masa Joko Widodo-Jusuf Kalla, pun membuat rupiah masih terus bertahan di level tersebut sampai Jumat kemarin.

Berdasarkan data Jisdor, per Jumat minggu lalu nilai tukar rupiah masih berada di angka Rp13.992 per dolar AS. Dibandingkan dengan awal Januari lalu, kurs mata uang garuda ini telah terapresiasi hingga 3,27%.

Penyebab merosot kembalinya nilai tukar pada pembukaan di minggu ini tak lain adalah defisit neraca transaksi berjalan yang mencapai 3,57% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV-2018. Nilai defisitnya sendiri mencapai US$9,1 miliar pada tiga bulan terakhir di tahun kemarin tersebut.

Dengan angka tersebut, secara keseluruhan untuk tahun 2018, defisit neraca transaksi berjalan tercatat mencapai 2,98% dari PDB. Meningkat jauh dibandingkan kinerja 2017 di mana transaksi berjalan hanya defisit 1,6% dari PDB.

Untungnya  dari sisi eksternal, Dini meneruskan, pergerakan pasar uang global pada hari ini relatif cukup stabil.

“Memang pasar lebih melirik ke dolar sebagai safe haven karena perlambatan ekonomi global masih jadi concern pasar setelah pekan lalu bank sentral Australia, Inggris, Eropa, serentak memangkas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka,” tutur Dini.

Walaupun kembali ke level Rp14 ribuan, Dini masih optimistis rupiah tidak akan terperosok terlalu dalam. Peluang penguatan mata uang harda pun masih ada. Ia memproyeksikan, rupiah masih akan konsolidasi di sekitar Rp13.900—14.000 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan.

Jatuhnya rupiah pada hari ini sudah diproyeksikan oleh ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soleistianingsih. Ia melihat ada proyeksi yang tak terlalu menguntungkan dari pergerakan rupiah. Pasalnya pada pagi tadi, kurs mata uang garuda terpantau meredup 40 poin menjadi Rp13.995 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp13.955 per dolar AS.

“Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan rilis neraca pembayaran Indonesia tahun 2018 yang dinyatakan masih defisit pada Jumat (8/2) sore lalu,” ujar Lana, seperti dikutip Antara.

Tidak hanya defisit neraca transaksi berjalan, neraca pembayaran pun yang dirilis pada Jumat silam turut menjadi pemicu meredupnya nilai tukar rupiah.

Lana menjelaskan, surplus neraca pembayaran pada kuartal ke-IV 2018 sebesar US$5,4 miliar tidak mampu menopang kinerja neraca pembayaran untuk setahun penuh. Hal ini dikarenakan selama 3 kuartal berturut-turut sebelumnya, neraca pembayaran mengalami defisit sehingga untuk setahun penuh defisit tercatat mencapai US$7,1 miliar. []

You may also like...