Mengulas Riwayat Mobil Esemka, Kapan Mengaspal di Jalan Raya ?

Prime Banner

JAKARTA – Isu lawas soal produksi mobil nasional (mobnas) Esemka muncul lagi. Nama capres petahana Jokowi praktis ikut diseret masuk dalam pusaran isu tersebut. Gerak isu ini langsung menghangat.

Soalnya, sebelumnya cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin, pada tahun lalu sempat mengatakan mobil Esemka akan dirilis pada Oktober tahun lalu. Nyatanya, hingga kini mobil itu be­lum juga di-launch.

Mobil Esemka ini sempat menjadi ‘kendaraan’ bagi Jokowi hingga berhasil merebut kursi gubernur DKI Jakarta dan presiden 2014-2019.

Tudingannya yang dilontarkan netizen anti-Jokowi dalam pergolakan isu ini masih sama. Yakni, menilai mobil Esemka sebagai pencitraan bermuatan kebohongan. Sebaliknya, kalangan pro-Jokowi balik menuding, pihak-pihak yang mengkait-kaitkan Jokowi dengan mobil Esemka adalah kubu pendukung capres nomor urut 02, Prabowo Subianto.

Polemik makin menghangat kala mantan Komisaris PT Bukit Asam, Muhammad Said Didu, membongkar beragam kebohongan yang diduga dilakukan rezim Jokowi. Salah satunya proyek mobnas Esemka. Dia berjanji akan menghentikan segala bentuk kebohongan yang ada.

Sebenarnya apa sih peran Jokowi dalam proyek mobil Esemka? Benarkah mobil itu sudah diproduksi massal? Berikut ini pernyataan M Said Didu saat dijumpai di kantor Media Center Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, di kawasan Jakarta Selatan serta pernyataan inisiator mobil Esemka Sukiyat yang dihubungi Rakyat Merdeka.

 

Sukiyat: Peran Pak Jokowi di Esemka Hanya Sebagai Peragawan

Dalam proses memproduksi mo­bil Esemka itu peran Jokowi apa sih?

Pak Jokowi itu hanya sebagai peragawan, lantaran beliau memiliki badan yang kecil dan tinggi. Makanya saya perintahkan sebagai peraga. Setelah itu tanggapan masyarakat besar, sehingga Pak Jokowi menjadi terkenal melalui design saya. Bahkan bisa menjadi gubernur dan Presiden. Intinya Pak Jokowi tidak masuk dalam struktur Esemka ataupun Moda Angkutan Pedesaan (Mahesa). Jadi setelah Esemka tidak diproduksi ,lalu saya membuat Mahesa. Semua ini tidak ada hubungannya dengan Pak Jokowi. Saya itu yang membuat mobil Esemka dan Mahesa. Mahesa saya buat dua seri. Seri pertama agak pendek dan kedua agak ramping dan tinggi.

 

Jadi peran Jokowi hanya sebagai peragawan?

Iya, peragawan. Itu pun yang nunjuk saya. Jadi Pak Jokowi tidak ikut-ikutan di Esemka mengingat inisiatornya adalah saya sendiri. Saya itu bekerjasama dengan Astra dengan saham 49 persen.

 

Apakah Jokowi sampai menjadi investor?

Tidak ada. Demi Tuhan saya tidak pernah berhubungan uang dengan Pak Jokowi sepeser pun. Saya itu punya uang banyak lho.

 

Benarkah mobil Esemka dijadi­kan mobil dinas Pemda Solo kala Jokowi masih menjabat sebagai walikota Solo?

Oh tidak. Itu dulu Pak Jokowi hanya berani menempelkan plat merah di Esemka. Itu pun menem­pelkannya hanya untuk foto. Jadi itu salah satu insting, teori, atau cara dari Pak Jokowi menyenangkan temannya (saya sendiri).

Hanya saja waktu itu Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo marah. Apalagi marahnya itu di meja saya. Jadi orang-orang itu hanya numpang terkenal.

Namun tidak apa-apalah. Toh sekarang saya punya Mahesa.

 

Kenapa bisa digunakan Jokowi untuk bekerja dan dijadikan plat merah?

Iya memang digunakan dari rumah ke kantor, tapi belum ada izinnya. Tapi kan tidak apa-apa. Waktu itu nabrak orang ya risiko, sebab itu belum ada izinnya. Kalau seandainya nabrak orang lalu mati, maka saya yang tanggung jawab karena belum ada izinnya. Jadi itu keberanian Pak Jokowi. Tapi itu kan tidak melanggar hukum mencuri atau sejenisn y a pasalnya itu hanya kebijakan.

 

Mobil Esemka-nya ada?

Ada di SMK Negeri 2 ada dua unit. Di SMK 5 kurang lebih ada dua unit. Intinya kurang lebih total keseluruhan ada lima unit.

 

Dengan berapa perusahaan Esemka bekerjasama?

Kerja sama dengan sejumlah perusahaan saya sudah keluar dan sudah tidak di sana lagi. Karena saya sudah tidak nyaman lagi. Sekarang yang jalankan itu Pak Joko Sutrisno yang dulu sebagai direktur Esemka. Hal tersebut sebagaimana keputusan dari Menteri Pendidikan saat itu.

 

Apakah Anda tahu alamat-alamat perusahaan tersebut?

Saya tidak tahu karena tidak pernah komunikasi lagi. Toh saya ditinggal begitu saja. Sakit deh pokoknya. Sudah buat mobil capek-capek namun tidak pernah diajak bergabung, konsultasi, dan berbicara. Apalagi tidak ada yang bicara ke saya kenapa saya ditinggal. Tapi tidak apa-apa karena bagi saya itu hikmah dan musibah. Bagi saya racun itu saya sulap menjadi madu.

 

Tapi sekarang apa benar mobil Esemka sudah sampai pada tahap produksi?

Saya tidak tahu sebab saya itu pembuat dan hanya memproduksi Mahesa.

 

Kalau perakitannya benar di Indonesia?

Bukan. Saya tahu persis karena yang buat saya dan inisiator Esemka pun saya. Namun saya ditinggal dan silakan Anda tanya mereka kenapa meninggalkan saya padahal perakit­nya saya.

 

Beberapa pekan belakangan Esemka kembali dibicarakan. Tanggapan Anda bagaimana?

Itu sebetulnya hanya orang-orang yang memanfaatkan situasi pilpres. Mereka iseng-iseng, mereka mem­buat perkara. Padahal saya sudah jawab di beberapa media lho.

 

Anda sendiri tidak masalah kalau akhirnya mobil Esemka ini dijadikan barang ‘dagangan’ pilpres untuk mendongkrak elektabilitas capres?

Ya, kan yang jadi jualan itu dilakukan lawannya Pak Jokowi. Padahal Pak Jokowi tidak ada hubungannya dengan Esemka. Pak Jokowi hanya sebagai peragawan atas perintah saya. Saking senangnya mobil itu yang mestinya plat hitam, dimerahkan sama beliau. Setelah itu Pak Bibit Waluyo marah dan menjadi berita besar.

 

Muhammad Said Didu: Esemka Adalah Kebohongan yang Harus Dihentikan

 

Apa tanggapan Anda tentang program mobil nasional (mobnas) Esemka yang selama ini digaung­kan oleh kubu Jokowi?

Esemka itu adalah kebohongan, jadi saya bersyukurlah saya tidak jadi (bagian) kebohongan Esemka. Sebaiknya kita list siapa saja korban kebohongan Esemka dan bagaimana menjadi korbannya. Kebohongan adalah induk kejahatan. Politisi boleh berdebat dengan kiasan bukan berbohong. Seorang politikus sudah bohong pasti hancur. Saat saya melawan kebohongan mobil Esemka saya itu ketua Persatuan Insinyur Indonesia.

 

Dari nada bicara Anda kesannya Presiden Jokowi kerap melontarkan kebohongan. Memang apa saja ke­bohongan yang dilontarkan dia?

Contoh Jokowi pada saat itu (janji) tidak lakukan impor. Buat saya hanya orang tidak waras (tidak lakukan impor). Saya tidak utang, hebat. Ketika tambah utang ikut bangga, maka itu tidak waras. Saatnya kebohongan di negara ini dihentikan. Saya ingin membasmi pencitraan berbasis kebo­hongan. (Pembangunan) jalan tol itu dirancang tahun 1996-1997, dilelang, pemenang lelang kena krisis lanjut di 2004 untuk dievaluasi. Pencitraan berbasis kebohongan harus ditutup. Pencitraan berbasis kebohongan diawali banyak bertebaran di medsos. Pencitraan yang berbohong saya lawan. Karena kebohongan itu sangat merusak. Negara ini semakin rusak dengan kebohongan. Kebohongan yang paling bahaya menutup kebohongan dengan kebijakan.

 

Apalagi kebijakan pemerintah saat ini yang menurut Anda mengandung kebohongan?

Contoh BBM satu harga dari dulu emang satu harga, harus sama semua di SPBU kegiatan. Perluasan SPBU oleh negara tapi dibungkus dengan nama dan citra BBM satu harga, berapa kerugian Pertamina oleh bungkus pemerintah ini. Kalau ada pergantian pemerintahan tolong audit semua itu. Janji politik bisa bohong, bisa tidak, janji tidak sampe target bukan disebut bohong. Janji politik yang tidak dilakukan sebuah kebohongan besar.

 

Kembali ke Esemka. Sepengetahuan Anda Esemka ini sebenarnya sudah diproduksi belum sih?

Jejak digital masih terlihat menyatakan bahwa sarana produksi sudah siap, tapi tidak terbuka. Mereka men­gatakan ini adalah mobil Esemka, berarti seharusnya semua yang paten punya Esemka. Tapi ternyata kan tidak. Semuanya bukan punya Esemka. Jadi kebohongan pertama adalah, seakan-akan Esemka sudah memiliki semua teknologi (dalam produksi mobil Esemka), tapi kan ternyata teknologi orang lain.

 

Terus kebohongan lainnya?

Kedua, seakan-akan sudah punya fasilitas produksi. Menyatakan sudah memproduksi beberapa ratus unit. Tapi faktanya ternyata belum. Yang ketiga, seakan-akan sudah uji kelaikan. Tapi ternyata belum. Keempat, seakan-akan punya Esemka. Tapi ternyata Esemka hanya dijadikan merek. Bengkelnya pun ternyata punya orang lain yang hanya disuruh produksi. Tapi dari keempat (kebohongan) itu yang paling mendasar adalah mengatakan ini sudah mobil produksi Indonesia, padahal bukan. Itu kan produksi perakitan yang dibikin oleh Esmeka.

 

Bukankah Esemka dibuat di dalam negeri?

Hampir semua orang bisa membuat mobil, tapi memproduksi mobil tidak gampang. Jadi menurut saya itu empat kebohongan yang ditutupi saat meluncurkan mobil Esemka.

 

Lantas kalau sudah seperti ini apa yang harus dilakukan?

Ini kan anatomi industri mobil sekarang berbeda dengan tahun 80-an. Ke depan mari kita merancang industri mobil nasional seperti halnya merancang industri pesawat, bahwa desain kita bikin, kemudian memasukkan komponen mengajak orang-orang yang sudah paten dikomponen kemudi mobil. Mobil itu kan ada teknologi yang paling utama. Pertama, mesin, kedua chassis, ketiga body, keempat adalah penggerak dan kelima adalah interior. Dari semua itu yang pal­ing berat mesin. Supaya bisa cepat, maka cari industri mobil yang sudah menguasai dan mengajaknya bekerjasama. Seperti halnya Boeing tidak pernah bikin mesin Airbus. Membuat industri pesawat itu seperti menjodoh-jodohkan. Untuk komponen mesin kira-kira siapa pacarnya siapa. Ini penting. Karena apa? Karena kalau tidak membentuk betul-betul yang baru, maka problemnya adalah after sales service. Kalau kita mengajak yang sudah ada, maka after sales ser­vice sudah membikin jadi murah dan orang akan langsung familiar.

 

Jadi, Esemka bisa dilanjutkan?

Enggak mungkin. Itu namanya melanjutkan kebohongan. Itu bukan patennya mereka. Sudahlah. Saya mau bikin patung anti-kebohongan adalah Esemka itu. Kan sebenarnya produksi mobil kita banyak, tapi bukan paten ki­ta. Kita sudah mengekspor 1,6 juta unit mobil, tapi bukan merek Indonesia. Nah kalau menyatakan apakah Indonesia produsen mobil? Jawabnya iya. Tapi apakah Indonesia punya mobil produksi sendiri? Enggaklah. Kita produksi mobil, tapi tidak memiliki mobil yang hasil karya bangsanya. []

You may also like...