Pemilihan Umum di Hong Kong Banyak Masalah di Tengah Antusiasme Pemilih

Prime Banner

HONG KONG – Minggu (14/4), warga negara Indonesia di Hong Kong dan Makau melaksanakan pemungutan suara pada pemilu serentak 2019 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta Calon Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dapil DKI Jakarta 2. Hong Kong termasuk salah satu dari 120 perwakilan Indonesia di luar negeri yang melaksanakan coblosan lebih cepat dari jadwal pemilu di Indonesia, Rabu (17/4).

Pesta demokrasi lima tahunan ini diselenggarakan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) dan Sekretariat PPLN di Hong Kong, yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan telah dilantik oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong, Tri Tharyat, secara terpisah pada 26 Maret dan 13 April 2018.

Dalam menjalankan tugasnya, PPLN Hong Kong dan Makau pada 26 Maret 2018 telah mengangkat 31 orang Panitia Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih), dengan rincian 28 di Hong Kong, dan 3 orang di Makau.

Mengutip Konjen Tri Tharyat, PPLN Hong Kong telah mencatat jumlah Daftar Pemilih Tetap Luar Negeri (DPTLN) di wilayah administrasi khusus di bawah pemerintah pusat Republik Rakyat Tiongkok itu sebanyak 180.000-an orang. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan DPTLN Pilpres 2014 yang sebanyak 140.000-an orang.

Adapun jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang disediakan oleh PPLN Hong Kong sebanyak 31 unit. Tersebar di tiga lokasi di Hong Kong dan satu di Makau, yang banyak dan biasa dikunjungi PMI. Ketiganya adalah Queen Elizabeth Stadium, yang beralamat di 18 Oi Kwan Road, Morrison Hill, Wan Chai; Tsim Sha Tsui District Kai Fong Association Hall, 136A Nathan Road, Tsim Sha Tsui, Kowloon; dan Yuen Long Town Hall, Tai Yuk Road, Yuen Long New Territories. Sedangkan satu TPS di Makau, berlokasi di Tab Seac Multi-sports Pavillion, Av Conselheiro Ferrera de Almeda 95.

Sesuai jadwal, pemilu di Hong Kong dimulai pukul 9 pagi. Orang pertama yang memberikan suara dalam pemilu ini adalah Konjen Tri Tharyat beserta istri. Mereka melakukan pencoblosan surat suara pertama di TPS Wanchai.

Sebelum itu, Konjen Tri didampingi Ketua PPLN Hong Kong dan Makau Suganda Supranto, perwakilan KPU dan Bawaslu, Ketua Panitia Pengawas Pemilu Luar Negeri (Panwaslu) Fajar Kurniawan, dan perwakilan Polisi Republik Indonesia (Polri) menjumpai awak media.

”KJRI Hong Kong telah berupaya keras menyediakan fasilitas yang terbaik. Terima kasih kepada Pemerintah Hong Kong yang telah meminjamkan fasilitas kepada WNI untuk melaksanakan hak pilihnya. Saya telah menyerahkan pelaksanaan teknis kepada Panitia Pelaksana Pemilu Luar Negeri, yang bekerjasama serta dalam pengawasan Panwaslu di Hong Kong,” tutur Konjen Tri.

 

Antrean Dimulai Sejak Pukul 6

Sesuai pantauan tim Apakabar Plus, antrean telah dimulai oleh WNI – yang sebagian besar pekerja migran Indonesia (PMI) – sejak pukul 06.00 pagi. Ratusan PMI mengaku sengaja mengantre sejak pagi agar bisa segera memilih calon yang mereka dukung. ”Saya di sini sudah sejak pukul 6 pagi, agar bisa memilih lebih cepat,” tutur Yani, dengan semangat.

Selang dua jam, tepatnya pukul 08.00 pagi, antrean semakin menumpuk. Berlanjut hingga pukul 12.00 siang, antrean sudah mulai tak terbendung. Ribuan PMI mulai membanjiri sepanjang jalan hingga meluap di sekitaran masjid di Oi Kwan Road, Wanchai.

Dalam sebuah kesempatan, Konjen Tri Tharyat pernah menyatakan, dirinya sejak awal menginginkan agar Pemilu 2019 dapat dilaksanakan di gedung secara tertutup (indoor). Tujuannya, untuk menghindari cuaca tidak bagus yang sering terjadi di bulan April.

Kekhawatiran Konjen Tri memang benar terjadi. Ironisnya, antrean ribuan calon pemilih mencapai beberapa kilometer, sementara di dalam Stadion Queen Elizabeth sendiri ternyata sepi pemilih. Ribuan kursi tribun di bagian atas dibiarkan kosong. Tak dimanfaatkan untuk menampung calon pemilih yang menunggu giliran.

Puncaknya terjadi pada pukul 14.00 siang. Yakni, saat berlangsung pergantian waktu dari warga yang dijadwalkan memilih pukul 09.00 – 14.00 dengan warga yang dijadwalkan memilih pada pukul 14.00 – 17.00. Karena sistem internet lemah, akhirnya kedua jadwal yang berbeda ini bertemu, membaur jadi satu.

Sementara itu, kesabaran para calon pemilih juga sempat diuji dengan hujan yang turun cukup deras dengan petir yang sesekali menyambar. Belum lagi, ujian kesabaran yang dipicu oleh lambatnya panitia pemilu dalam mengurai antrean yang mengular tersebut.

Hal itu dipicu oleh lemahnya sistem internet, sehingga menghambat proses verifikasi data yang terganggu. Sementara antrean terus menumpuk tersebut, merupakan salah satu penyebab penyumbatan antrean di luar gedung yang pada akhirnya memaksa calon pemilih mengantre selama kurang lebih 4-5 jam.

Pada akhirnya, untuk mengurangi risiko WNI tidak dapat memilih karena batas waktu yang diberikan telah habis, panitia kemudian memutuskan untuk memberlakukan pendaftaran secara manual. Di TPS Wanchai dimulai pukul 12.00, Tsim Sha Tsui pukul 13.00, dan di Yuen Long pukul 14.00.

 

Sistem Manual, Sore Antrean Semakin Parah

Pukul 17.00, suasana tak kalah ramai dibanding sebelumnya. Calon pemilih kian membludak, karena para pemilih yang dijadwalkan memilih pada pukul 14.00-17.00 belum mendapatkan hak suaranya.

Sementara itu, dalam kurun waktu lima menit, antrean telah menumpuk kurang lebih 150 WNI, mereka yang datang pada pukul 17.00 sore adalah WNI yang belum memverifikasi data ke PPLN Hong Kong dan Makau, serta pemilih yang masuk dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).

Namun antusiasme WNI di Hong Kong patut diacungi jempol. Kendala yang terjadi tidak sedikit pun menyurutkan semangat mereka untuk terus mengikuti antrean di depannya. Bahkan ketika hujan turun semakin deras. Saat itu, ujung antrean telah melewati masjid hingga kolam renang Wanchai. Situasi inilah yang menyebabkan puluhan WNI mengurungkan diri untuk memberikan suara pada Pemilu 2019.

Untuk mengisi waktu selama berjam-jam berdiri di bawah guyuran air hujan, sebagian besar dari mereka ada yang bershalawat, bernyanyi, membaca koran, bersosial media, dan ada juga yang bercanda bersama kawan-kawan mereka, meski tak sedikit yang meluapkan kemarahan kepada tim Apakabar Plus.

 

Lain halnya dengan Uun dan Katty, yang sebelumnya sempat kaget melihat panjangnya antrean saat hendak bergabung. Ia sangat bersemangat memberikan suara, lantaran pemilu merupakan satu hal yang harus diperjuangkan.

”Jangan sia-siakan satu suara ini. Yang penting jangan golput, yang penting Indonesia jangan punah,” ungkap Katty, PMI asal Cirebon. ”Harapan kami, semoga dengan presiden terpilih nanti Indonesia lebih baik lagi, dan jangan sampai dipulangin, karena kerja di mana saja itu halal,” tutur Uun, diaminkan oleh Katty.

 

Mulai Terjadi Keributan

Sesuai rencana awal, tepat pukul 19.00 malam PPLN Hong Kong menutup antrean, tetapi masih mempersilakan bagi para pemilih yang sudah mengantre untuk masuk ke dalam TPS. Nampak Ketua PPLN Suganda, relawan, kepolisian Hong Kong dan Indonesia di depan pintu masuk untuk memantau pintu masuk sampai antrean terakhir.

Hingga beberapa beberapa menit setelah pemilu dinyatakan ditutup, puluhan WNI membawa C6 datang untuk memberikan suara. Setelah kurang lebih berjalan 30 menit menunggu di depan pintu, akhirnya mereka berhasil masuk dan naik ke lantai 3 Stadion Queen Elizabeth, tempat surat suara yang sudah dicoblos disimpan.

Meskipun puluhan WNI berhasil masuk ke dalam gedung, dan sempat memicu keributan, tetapi Ketua PPLN dan Panwaslu tetap tidak mengizinkan mereka untuk memberikan suara karena dinilai telah datang melebihi waktu yang telah dijadwalkan.

Hal inilah yang membuat puluhan WNI itu naik darah. Mereka melontarkan kemarahan kepada keduanya. Sampai kemudian, kejadian tersebut dihentikan oleh Kepolisian Hong Kong, yang memang sejak awal sudah turut membantu mengamankan TPS. (wijiati)

You may also like...