Prime banner

Namanya Dita Octania, melihat darii penampilan polosnya, usianya masih muda. Dita baru saja melakukan perjalanan pulang dari negeri tempatnya bekerja untuk pulang ke kampung halamannya di Banyuwangi.

Namun sebuah insiden pemerasan, penipuan yang dilakukan oleh oknum calo di Bandara Internasional Supadio, menjadi cerita yang bisa jadi akan dikenang sepanjang hayatnya. Pasalnya, pengalaman pahit ditipu dan diintimidasi calo, hingga dramatisnya Dita melarikan diri dari makian sopir carter yang memalaknya yang dia tuturkan kepada seseorang yang menyelamatkannya malam itu, menjadi viral di sosial media.

Sebuah akun facebook  Budi ‘Cunong’ Rahayu, mengunggah cerita buruk yang dia alami saat membantu Dita dari kejaran calo melalui sebuah surat terbuka pada 11 Januari 2018. Berikut isi postingan Budi :

 

SURAT TERBUKA KEPADA PENGELOLA BANDARA SUPADIO PONTIANAK

Salam Khatulistiwa..

Ijinkan saya menceritakan sebuah kejadian yang nyata terjadi di Bandara kota saya tercinta.

Harapan saya jika cerita ini tersampaikan kepada pihak yang berhak atas pengelolaan bandara, segeralah di lakukan pembenahan agar nama baik Bandara Supadio yang berstandar International ini bisa terjaga citranya.

Selasa 09 Januari saya Tiba di Bandara Supadio kira kira pukul 16.00 dari Jakarta, saat keluar pintu kedatangan saya mencari fasilitas charge HP yang ada disekitar bandara, karena charge HP di dekat pintu kedatangan ramai orang sedang mengcharge HP, saya memilih mengarah berjalan ke pintu keberangkatan, baru dua menit saya mencharge tiba2 datang seorang Wanita Muda dengan sopan menanyakan dimana dia bisa mendapatkan counter penjualan tiket di bandara ini karena ingin kembali ke Surabaya malam ini, dari logat bicaranya saya yakin Wanita ini baru tiba dari Negara tetangga Malaysia.

Saya mengatakan bahwa setau saya tidak ada penjualan tiket di sini ..

Wanita muda ini bertanya kembali .. Kalau ibu beli tiketnya bagaimana?

Saya menjawab saya menggunakan Aplikasi Traveloka setelah memesan via online saya mendapatkan Pesan via Email untuk membayarnya di ATM selanjutnya akan ada pemberitahuan bukti tanda booking tiket tersebut.

Bu.. Saya tidak punya Aplikasi dan ATM apalagi email, saya seorang TKW yang baru datang untuk pulang ke keluarga saya di Bayuwangi., kenalkan nama saya Dita Octania.

Saya membawa uang cash hasil jerih payah saya bekerja.

Terus terang saya terkejut mendengar pengakuannya hari gini orang tidak punya tabungan hingga harus membawa uang cash banyak di dalam tasnya. Duh bahaya.

Saya mengajurkan pada Dita untuk bertanya kepada petugas bandara, Dita menjawab sudah bu!

Saya diarahkan untuk ke seorang bapak yang itu berdiri di seberang kita sambil memberi isyarat menunjuk seorang pria kira2 berumur 50 tahun tepat berada diseberang saya berdiri,

Saya bertanya siapa bapak itu? Saya tidak kenal bu saya sudah sempat bicara dengan bapak tersebut tapi saya masih ragu atas tawaran tiketnya.

Kenapa ragu kata saya? Karena bapak tersebut tidak bisa menunjukan counter penjualan tiket hanya mengatakan nanti ada teman saya yang akan mengurus, kamu kasih uang saja ke saya cerita Dita.

Saya ragu karena saya tadi mengalami kejadian kurang mengenakkan, begini ceritanya saat di Malaysia sebelum melakukan perjalanan darat menuju Pontianak dari Malaysia saya menelpon seseorang yang saya kenal mohon bantuan untuk menjemput saya di terminal bus Pontianak seberang kota dan mengantar ke bandara Supadio, karena saya berfikiran positip saat turun bus yang saya naiki dari Malaysia ada dua pemuda yang saat saya tiba di terminal seperti sedang mencari dan menunggu seseorang dan dengan prasangka baik saya bertanya apa betul

Mereka utusan teman saya yang namanya si ( Anu) yang akan menjemput saya. Mereka katakan betul mereka menjemput saya dan mengajak saya ke mobil mereka untuk diantar menuju Bandara. Karena yakin saya mengikuti mereka, saya diajak berpusing pusing entah kemana dan lama sekali bu

Di perjalanan saya sempat bertanya berapa ongkos mengantar saya ? Jawaban mereka seikhlasnya saja mbak. Tidak lama Hp saya berdering rupanya teman saya menelpon bertanya Dita kamu dimana? Saya dan teman saya menjemputmu di Terminal sampai penumpang habis kamu tidak ada. Saya mulai panik bu, saya ini dibawa siapa dan kemana? Saya lalu minta mereka menghentikan mobil dan ingin turun saja, karena sadar ini bukan orang yang dikirim untuk menjemput saya, mereka menghentikan mobil lalu saya turun sambil memberi ongkos Rp 100 ribu

Yang terjadi saya dimaki maki di sumpahi mereka karena mereka memaksa saya membayar Rp.300.000 dan saya tolak.

Saya lari meninggalkan mereka bu, saya jalan kaki menuju kesini sambil bertanya tanya pada orang yang saya temui di jalan kemana arah menuju Supadio, saya jalan kaki jauh sekali bu. Makanya saya kali ini harus berhati hati.

Tolong saya bu.,

Saya mendengar cerita dari TKW ini terkejut, dan terdiam, lalu saya mengatakan sebentar ya kasih saya waktu sejenak untuk berfikir, sambil menuju bangku yang ada di depan saya untuk duduk.

Saat saya duduk saya memperhatikan Dita didekati seorang oknum yang belakangan saya ketahui rupanya seorang Calo mendekati Dita dan bertanya bagaimana ini jadi ke Surabaya masih ada tiket nih, Dita terlihat diam dan oknum tersebut menggerakan tangannya seperti memberi kode hingga muncul tiga orang lelaki mengerubungi Dita memaksa maksa untuk Dita mengikuti mereka ke tempat yang mereka tentukan.

Disitu saya yakin Dita butuh pertolongan, saya berdiri menuju tempat charge HP kembali berpura pura mencharge HP guna menguping dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Salah seorang oknum sambil memegang HP nya mengatakan ini ada nih di Traveloka tiket malam ini ke Surabaya.

Saat itu waktu sudah menunjukan bada Magrib

Iseng saya membuka Aplikasi Traveloka saya untuk mengklarifikasi benarkah pernyataan orang2 ini, ternyata seluruh tiket Sold out / sudah terjual habis yang menuju Surabaya.

Di dalam hati saya berfikir Wah bapak2 ini menipu Dita, kesian banget kalau dibiarkan, saya lalu menyela pembicaraan para oknum Calo tersebut

Dita jika di lihat di Aplikasi saya tiket menuju Surabaya malam ini Habis. Ini coba liat aplikasi Traveloka saya sambil menunjukan HP saya ke Dita, dan Dita terkejut, para calo yang berdiri di hadapan kami mulai menunjukan muka tidak senang atas sikap saya, saya katakan pada Dita jika kamu ingin ke Surabaya hanya ada Rabu pagi, Dita menjawab Bu tolong belikan tiket untuk saya Rabu pagi bu

Tolongin saya..

Oknum2 calo semakin marah mendengar perkataan saya sambil mengatakan Ibu ini siapa? Kok ikut campur masalah ini, dengan tenang saya menjawab coba saya lihat Traveloka dari Hp bapak yang menjual tiket ke Surabaya untuk malam ini jika memang benar ada, Karena di Hp saya sudah tidak ada penjualan tiketnya.

Para oknum calo mulai gelisah atas pertanyaan saya, mereka tidak mau menunjukan apa yang saya minta, beberapa dari mereka mundur beberapa langkah sambil ribut mengatakan siapa perempuan itu ngape die ikut campur.

Saya bilang ke Dita kamu percaya saya? Kalau kamu percaya saya akan saya tolong, Dita mengatakan saya percaya ibu untuk menolong saya, oke kalau gitu mana KTP mu kita pesan tiket via Traveloka.

Sebelum saya beranjak meninggalkan tempat charge HP satu oknum Calo mendekati kami sambil bicara setengah beteriak marah dan menunjuk jari tangannya ke wajah saya

Ibu ini memang tidak tahu diri mengambil rejeki dari periuk kami, kami hanya mencari lebihan uang.

Terus terang saya terpancing emosi melihat ketidaksopanan oknum calo tersebut

Saya menjawab keras

Bapak., saya bukan Calo tapi saya hanya menolong orang yang sedang mengalami kesulitan dan dia butuh pertolongan.. Itu tugas sesama manusia.

Ini TKW yang memeras keringatnya di Negeri orang ingin pulang ke keluarganya masak di kerjai saudara sebangsanya sendiri.

Jangan memanfaatkan kesulitan orang lain,

Para calo terkejut mendapat perlawanan saya dan semakin menunjukan sikap tidak sukanya.

Saya dan Dita duduk ke bangku yang disediakan Bandara dan mulai melaksanakan pemesanan tiket Online untuk Dita.

Di belakang bangku kami duduk ada bangku lain yang tiba tiba di duduki seorang lelaki entah siapa yang tiba tiba bicara keras

“Kite nih udah sepuluh tahun bisnis tiket kok ade orang baru yang sok tau mau bisnis tiket, nak care masalah di lahan bisnis orang”

Saya yakin itu kalimat ditujukan untuk saya, saya menegornya ” Bapak menyindir saya ya” ? Dari pada nyindir mending ngomong langsung itu lebih bagus pak, si Bapak berbalik marah maksud ibu siapa, saya nda ngomong sama ibu.

Saya katakan disini hanya ada Bapak saya dita.. Masak bapak ngomong sama Tiang kata saya.

Si Bapak ngomong keras dan bernada mengacam ibu ini daerah saye jangan macam2 dan saye punye keluarge dari aparat ini ( menyebut nama korps Negara)

Diancam begitu saya balik mengatakan Bapak juga nda tau kan siape saye?

Saye bukan Calo seperti yang bapak duga, saye orang Ponti Asli tinggal di daerah… ( menyebut nama kampung) Dan dari Keluarga Besar ( Abdi Negara) jangan coba coba mengacam saya ingat itu ya Pak.

Bapak tersebut terdiam.

Sesungguhnya jika cara cara seperti ini masih terjadi di Bandara kelas International tentu sangat memalukan dan merugikan.

Dengan segenap rasa cinta saya pada kota Pontianak.

Mohon kiranya pengelola Bandara Supadio

Bisa menertibkan calo calo yang masih berkeliaran di Bandara.

Mendirikan Pusat Informasi di depan Pintu yang terlihat jelas dari sudut manapun.

Sehingga setiap orang yang membutuhkan pertolongan yang berkaitan dengan layanan penerbangan, pusat informasi ini menjadi  Tempat utama layanan.

Jika hal ini bisa di realisasikan saya yakin Bandara Supadio semakin menjadi terbaik & terhebat dari seluruh Bandara yang ada.

Bersama ini saya lampirkan foto pahlawan keluarga Dita Octania KTP nya Dan bukti pemesanan tiket online Surabaya Agar menjadi bukti cerita ini.

Wasalam

Budi Rahayu

Apakabaronline.com telah berupaya menghubungi pemilik akun guna mendapat keterangan lebih dalam, namun hingga saat berita ini diturunkan, belum beroleh jawaban. [Asa]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner