Sakral dan Meriahnya Idul Adha PMI Malaysia Meski Sederhana

Prime Banner

JOHOR – Sejak takbir bergema usai masuk waktu Sholat Ashar kemarin (10/09/2019) sore, sekelompok PMI Malaysia yang bekerja di sebuah ladang sawit kawasan Segamat johor  mulai menampakkan kesibukannya.

Persiapan menjelang Idul Adha telah dilakukan sejak beberapa waktu sebelumnya. Mereka membentuk panitia agar penanganannya lebih mudah dan teratur.

Hariyanto (47) seorang PMI asal Kendal Jawa Tengah mendapat amanah menjadi ketua panitia pada gelaran Idul Adha kali ini.

Bapak tiga anak yang telah lebih dari 20 tahun bekerja di ladang sawit milik pengusaha Malaysia tersebut menyatakan, tradisi menyembelih hewan qurban di tempatnya bekerja yang dilakukan oleh kalangan pekerja migran Indonesia sudah menjadi tradisi sejak bertahun-tahun lamanya.

“Saya sangat bersyukur bekerja disini, jika di felda lain (kebun) banyak yang sampai tidak menunaikan sholat idul adha, di tempat kami alhamdulilah perusahaan sangat memperhatikan hal tersebut.” tutur Hari kepada Heri, Koresponden ApakabarOnline yang ikut bergabung di lokasi.

Hari menambahkan tradisi bergotong royong dan tradisi berqurbanpun juga tumbuh dengan baik di kalangan PMI yang bekerja di tempat tersebut.

“Hari ini kami menyembelih seekor sapi yang merupakan hewan qurban dari saudara-saudara TKI disini, sedangkan sapi yang satunya itu sumbangan dari perusahaan” aku Hari.

Kesadaran untuk berqurban di kalangan PMI yang bekerja di tempat tersebut menurut Hari sangat tinggi. Bahkan, karena keterbatasan jumlah PMI yang ada di kebun sawit, membuat tidak semua PMI yang berqurban, hewan qurbannya disembelih di tempat itu.

“Kalau sudah ada satu ekor sapi, kami menyarankan kepada teman-teman disini yang mau Qurban, sebaiknya dikirim ke kampung halaman mereka saja. Disini nanti malah mubadzir jika berlebihan. Jumlah TKI disini hanya 113 orang” terangnya.

Heri, Koresponden ApakabarOnline.com di Malaysia yang bergabung ke lokasi mengaku sangat kagum dengan tradisi yang dijalankan oleh kalangan PMI di tempat tersebut. Meski hidup di perantauan, tali sillaturrahmi dan kebersamaan mereka yang positif membuat mereka berhasil mewujudkan kehidupan sehari-hari yang penuh dengan nafas spiritual. [Asa/Heri]

You may also like...